HETANEWS

Warga Palestina: Kami Sudah Dihancurkan

Warga Palestina berhadapan dengan penjagaan pasukan Israel

Jericho - pohon-pohon kurma berwarna hijau gelap menonjol di gurun luas yang menukik tajam dari perbukitan Yerusalem ke Sungai Yordan. Di selatan, Laut Mati -- tempat terendah di permukaan Bumi -- berkilau di bawah kabut musim panas yang menyaput. Hanya beberapa kilometer di utara, kota Palestina Jericho terpanggang di bawah sinar matahari.
 
Jika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dipercaya, negeri ini akan segera dilucuti statusnya sebagai bagian dari Palestina. Lokasi itu akan dinyatakan oleh dekrit unilateral sebagai Israel, sebagaimana Tel Aviv atau kota Eilat di Laut Merah.
 
"Saya pikir Israel akan melakukan hal yang mustahil," kata Hussein Atiayat, seorang warga Palestina berusia 65 tahun yang keluarganya telah tinggal di lembah itu selama beberapa generasi. "Seluruh dunia mendukungnya. Jadi apa yang bisa dilakukan rakyat Palestina?" tambahnya.

"Kami sudah dihancurkan: secara finansial, spiritual, sosial," keluhnya, dilansir dari Guardian, Rabu 11 September 2019.
 
Pemimpin Israel mengumumkan rencananya dengan cara dramatis pada Selasa malam, berdiri di hadapan peta Tepi Barat yang diduduki dan berjanji memperluas kedaulatan Israel atas sebagian besar wilayah itu.
 
Netanyahu sedang berjuang untuk keberlanjutan kiprah politiknya sebelum pemilihan umum Selasa depan. Pengumuman itu diabaikan oleh beberapa pihak sebagai aksi kampanye. Tetapi bagi orang-orang Palestina di lembah Yordan yang telah hidup setengah abad dari pemerintahan militer, kata-katanya tidak boleh dianggap enteng.
 
"Saya orang yang sederhana, tetapi visi saya tentang apa yang mungkin terjadi adalah bahwa kami akan dikunci di kota kami," kata Atiayat. "Hidup akan sengsara," resahnya.
 
Jika dilakukan, Netanyahu akan menghancurkan salah satu tabu terbesar dari proses perdamaian yang sekarat. Sejak Israel merebut Tepi Barat dalam perang enam hari 1967, Israel tetap mempertahankan daratan tersebut di bawah pendudukan sementara.
 
Pendudukan itu akan berubah menjadi penaklukan militer yang tertunda, sebuah skenario yang akan menepis anggapan bahwa orang Palestina mungkin dapat membangun negara bersama Israel, daripada hidup di bawah suatu bentuk pemerintahan tanpa batas waktu tanpa dapat memilih.
 
"Kami belum memiliki kesempatan semacam ini sejak perang enam hari, dan mungkin tidak memilikinya lagi selama 50 tahun," kata Netanyahu.
 
Selain sekitar 65.000 warga Palestina, lembah ini adalah hunian bagi sekitar 11.000 pemukim yang para pemimpinnya langsung memuji pidato perdana menteri. Seraya menyebutnya sebagai "peristiwa bersejarah" dan "berita yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk negara Israel".
 
Pekerjaan dasar ditetapkan sejak Donald Trump berkuasa. Presiden Amerika Serikat mengakui Yerusalem, bagian yang diklaim Palestina, sebagai ibu kota Israel. Awal tahun ini, dia juga mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan, sebuah dataran tinggi yang dicaplok pasukan Israel dari Suriah dalam konflik 1967 yang sama.
 
Rencana baru Netanyahu akan memotong sisi timur Tepi Barat, meninggalkan sisanya dikelilingi oleh wilayah Israel. Ditambah dengan janji sebelumnya yang ia buat untuk mencaplok semua permukiman, itu juga akan menjebak warga Palestina di sejumlah enklave kota yang terpisah.
 
Beberapa warga Palestina mengatakan mereka hidup di bawah aneksasi semu. Banyak turis asing yang sedang dalam perjalanan dengan bus ke Laut Mati akan berkendara menembus wilayah Palestina tanpa menyadari bahwa mereka telah meninggalkan negara itu.
 
Rambu-rambu jalan sering menampilkan bahasa Ibrani dan sering mengabaikan komunitas Palestina, menunjukkan pemukiman Israel sebagai gantinya. Sementara banyak pompa bensin dan toko-toko dikelola oleh warga Israel. Penyeberangan perbatasan dengan Yordania dikendalikan oleh Israel, yang telah membangun pangkalan militer dan bahkan taman nasional di lembah tersebut.
 
Selama bertahun-tahun, tanah pertanian Palestina telah disita dan diserahkan kepada pemukim, sementara air dialihkan dari desa-desa Palestina dan orang-orang secara teratur diblokir dari bergerak.
 
Ibrahim Qtishat, seorang insinyur pertanian, telah tinggal di Jericho selama dua dekade. Tahun lalu, ia menyewa sebuah peternakan besar di luar Auja untuk menanam kurma. Sekarang tanahnya tiba-tiba menjadi negara lain.
 
"Sebagian besar orang di daerah ini adalah petani," katanya. "Sebagian besar akan kehilangan pekerjaan mereka," cetusnya.
 
Terlepas dari klaim pemilu, rencana PM Israel jelas bagi Qtishat. "Netanyahu tidak ingin melihat orang Palestina. Jika dia tidak mengizinkan orang untuk berkultivasi, mereka akan pergi," pungkasnya.

Sumber: medcim.id

Editor: tom.