HETANEWS

Cendekiawan China Klaim Dialek Bahasa Inggris Berasal dari Mandarin

China, hetanews.com - Para cendikiawan China dari Asosiasi Penelitian Peradaban Dunia (WCRA) mengklaim bahwa dialek beberapa bahasa di Eropa, termasuk Inggris, berasal dari Mandarin.

Asosiasi beranggotakan para cendekiawan dari sejumlah institusi pendidikan di China itu mengungkap, kesimpulan tersebut diambil setelah mereka meneliti selama 20 tahun sebelum diajukan dalam forum China International Frontier Education Summit di Beijing pada Juli 2019, demikian dikutip dari Vice, Selasa (10/9/2019).

Wakil Presiden dan Sekjen WCRA Zhai Guiyun mengatakan, beberapa kata bahasa Inggris berasal dari bahasa Mandarin.

Dia mencontohkan kata 'yellow' menyerupai bahasa Mandarin 'yeluo' yang berarti 'daun jatuh'. Contoh lain adalah 'heart' yang menyerupai 'hede' atau berarti inti dalam Mandarin.

"Tentu saja pengucapannya sedikit berbeda, disebabkan oleh perubahan variasi yang terjadi selama ratusan bahkan ribuan tahun di berbagai daerah," kata Zhai.

"Pikirkan betapa pentingnya perbedaan dialek di wilayah kita, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa Inggris seperti dialek di negara kita."

Untuk itu, Zhai menyimpulkan, dari contoh tersebut sudah cukup bukti bahwa dialek bahasa Inggris berasal dari Mandarin.

Lebih lanjut dia mengatakan, bahasa Eropa lainnya, seperti Prancis, Jerman, dan Rusia juga mengalami proses sinasisasi yang sama, di mana masyarakat di Eropa pernah berada di bawah pengaruh budaya China di masanya.

Anggota WCRA lain, Zhu Xuanshi, menambahkan, Eropa tidak memiliki sejarah sebelum abad ke-15.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat orang Eropa malu yang pada gilirannya mengarang cerita-cerita bahwa masa lalu mereka erat dengan peradaban Mesir, Yunani, dan Romawi kuno.

Zhu mengatakan bahwa peradaban Eropa sebenarnya berdasarkan sejarah China.

Dalam upaya untuk mengembalikan kebenaran sejarah dunia, asosiasi mendirikan cabang di Kanada, Madagaskar, Korea Selatan, Thailand, Amerika Serikat, dan Inggris.

Pendiri WCRC Du Gangjian mengatakan, tujuan pendirian asosiasi ini untuk membendung upaya Barat menyebarkan sejarah palsu.

"Jangan biarkan sejarah palsu yang berpusat pada Barat menghalangi Sino-Renaissance yang besar ini," ujarnya, dikutip dari Taiwan News.

Meski demikian, klaim itu belum cukup untuk meyakinkan banyak warga China. Warganet di media sosial Weibo menyebut anggota organisasi itu sebagai 'Wolf Warrior Scholars', merujuk pada film patrotik China.

"Terima kasih. Kami tidak bisa lagi menertawakan orang Korea yang mengklaim Konfusius dan Genghis Khan sebagai orang Korea," tulis warganet di Weibo.

sumber: inews.id

Editor: sella.