HETANEWS

Ironis, Gadis Yatim Piatu Tinggal di Gubuk Reot yang Tak Jauh Dari Kediaman Keluarga Besar Bupati Batubara

Kondisi rumah Fitri Wahyuni Manullang yang tak jauh dari kediaman keluarga besar Bupati Batubara, Zahir. (Foto/Ist).

Batubara, hetanews.com - Fitri Wahyuni Manullang (23) warga Dusun V, Desa Simpang Dolok, Kecamatan Datuk Limapuluh, Kabupaten Batubara, menjadi salah satu potret warga miskin yang telah lama tak diperhatikan dan 'mungkin' terabaikan.

Dijelaskannya, ia bersama ke 6 (enam) orang adiknya harus tetap bertahan hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka tinggal di sebuah gubuk berdindingkan papan yang ditempel kertas koran dan beratapkan daun rumbia.

Dengan menempati ruangan seluas 5 x 7 meter tanpa kamar dan hanya berlantaikan tanah itu, dirinya harus berjibaku seorang diri demi memenuhi pesan dari kedua orangtuanya yang telah tiada agar merawat dan menjaga keenam adiknya.

Ironisnya lagi, rumah gubuk tersebut tidak memiliki toilet ataupun kamar mandi sehingga terkadang 7 orang kakak beradik ini terpaksa memanfaatkan WC umum yang berjarak sekitar 200 meter dari gubuk peninggalan orang tua mereka.

Dapat dibayangkan juga, lanjut Fitri, manakala hujan turun, maka sudah dapat dipastikan ia dan keenam adiknya harus mempersiapkan ember sebagai penampung air dikarenakan bocor dan lapuknya atap rumbia yang sudah puluhan tahun tidak diganti tersebut.

Fitri mengisahkan, kedua orangtuanya telah berpulang ke sang Maha Pencipta beberapa tahun silam, kehidupannya kian berat, lantaran dirinya harus membanting tulang demi mencukupi kebutuhan ke-6 adiknya, terlebih 4 orang di antaranya masih bersekolah.

“Adik-adikku harus tetap bersekolah agar penghidupannya kelak tidak susah. Biarlah aku yang menggantikan posisi kedua orang tuaku yang telah tiada saat ini, selagi aku masih kuat dan mampu apapun akan kulakukan, yang penting itu semua halal,” ucapnya dengan nada lirih saat ditemui, Senin (9/9/2019) sore.

Masih kata Fitri, sang ayah Parluhutan Manullang yang berprofesi sebagai buruh tani meninggal dunia pada tahun 2018 lalu, akibat penyakit komplikasi yang dideritanya.

Sedangkan sang ibu, Nur Lince Gultom terlebih dahulu dipanggil menghadap yang Maha Kuasa pada 2015 silam atau tepatnya tidak lama setelah adiknya si bungsu terakhir yang bernama Sinar Malik Manullang lahir ke dunia.

Untuk menghidupi ke 6 adik-adiknya itu, Gadis batak ini rela tidak menikah dan mengambil pekerjaan apa saja dari orang yang memberinya pekerjaan, termasuk mengumpulkan barang-barang bekas (butut, red).

“Tolong kami Pak Bupati (Zahir, red). Kami hanya bisa bermohon kepada Bapak tolongah rumah kami ini dibedah agar kami bisa tinggal dirumah layak. Bapakkan orang Simpang Dolok jadi tolonglah kami,” pintanya.

Terakhir, dikatakan Fitri, jika Bupati Batubara tak sudi membantu untuk membedah gubuk reotnya itu, dirinya memohon uluran tangan dari para dermawan dan donatur yang iba akan kisah yatim-piatu ini.

Perlu diketahui, Desa Simpang Dolok merupakan kawasan dimana mayoritas keluarga besar Bupati Batubara, Zahir tinggal dan berdomisili tetap. Zahir sendiri diketahui melewati masa kanak-kanak di desa itu dan menamatkan sekolah dasarnya di SD Negeri Simpang Dolok pada tahun 1983 silam.

Penulis: rendi. Editor: sella.