HETANEWS

Ditetapkan Sebagai Tersangka Penebangan Kayu di Hutan Lindung, Ini Pembelaan PS

PS ketika dikonfirmasi wartawan, di lokasi Ancol, Kecamatan Pangururan. (foto/stm)

Samosir, hetanews.com - Maraknya penebangan kayu di area hutan lindung, di wilayah Pulau Samosir, mulai dibuktikan pihak Polres Samosir.

Polisi telah menangkap pelaku penebangan hutan Negara tersebut, yang merupakan hutan lindung, di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, pada Rabu (13/3/2019) lalu.

Hal itu dibenarkan Kapolres Samosir, melalui Kanit Tipiter, Aiptu. Darmono Samosir, ketika dikonfirmasi  Hetanews. com, di ruang kerjanya, pada Kamis (5/9/2019), lalu.

"Benar, kita telah melakukan penyelidikan atas dugaan terjadinya penebangan kayu, di wilayah hutan Negara yang merupakan hutan lindung di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo. Setelah melalui penyelidikan intensif, sebanyak dua kali, dengan menyertakan ahli pemetaan dari Dinas Kehutanan, KPH XIII Dolok Sanggul, diperoleh, bahwa area penebangan tersebut adalah hutan lindung. Sehingga kami, pada sekitar Juli 2019 lalu, menetapkan TS alias PB, sebagai tersangka," ujar Darmono Samosir.

Dan setelah melakukan pengembangan penyidikan, ditemukan fakta – fakta, bahwa ada tersangka lain atas nama PS dan untuk saat ini, perkaranya masih dalam tahap penyidikan, tegasnya.

Masih kata Aiptu Darmono Samosir, penetapan PS, sebagai tersangka, yaitu, berdasarkan keterangan tersangka sebelumnya, yaitu, TS alias PB.

TS alias PB mengaku, telah memperoleh izin melakukan penebangan di hutan lindung tersebut atas seizin PS, dengan imbalan sebesar Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupaih), seperti yang tertera dalam surat perjanjian jual beli pohon pinus, yang ditandatangani kedua belah pihak, pada 11 Maret 2019, lalu.

Kanit Tipiker Polres Samosir, Aiptu Darmono Samosir, ketika dikonfirmasi, di ruang kerjanya. (foto/stm)

Tambahnya, berdasarkan keterangan tersangka TS alias PB, bahwa pohon yang ditebang sesuai dengan persetujuan PS, yang ternyata, area hutan lindung tersebut, masih merupakan area didalam tanah seluas 20 hektar milik PS, yang dibeli pohon pinusnya oleh tersangka TS, berdasarkan surat perjanjian jual beli pohon pinus yang ditandatangani kedua belah pihak.

"Dan bila ada penyangkalan dari saudara PS, kami juga telah melakukan konfrontir bersama kedua belah pihak, dengan cek lapangan. Dan penetapan tersangka tersebut, juga berdasarkan fakta yang kami dapatkan dilapangan,"tegasnya lagi.

Ketika dikonfirmasi wartawan, tersangka PS malah menyangkalnya  dan mengaku, itu di luar perjanjian yang telah ditandatanganinya.

"Mulanya saya hendak membersihkan lahan untuk perladangan jagung dan tidak ada niat saya untuk bermain kayu. Entah dari mana TS, tau saya hendak bersihkan lahan. Dia mendatangi saya untuk membeli pohon pinus dari tanah saya dan saya tidak pernah menawarkan-nawarkan kepada TS. Yang saya perjanjikan kepada saudara TS adalah menebang kayu, di area saya yang 20 hektar tersebut. Dan area sekitar 20 hektar tersebut, bukan merupakan kawasan hutan lindung, seperti hasil pemetaan Kantor Jasa Surveyor Kadaster Berlisensi, Rizky Erlangga dan Rekan yang telah saya mintakan untuk dipetakan," ujar PS, sambil menunjukkan seluruh dokumen tanahnya, kepada Hetanews.com, pada Kamis (5/9/2019) lalu, di sekitaran Pantai Ancol, Pangururan, Kabupaten Samosir.

Menurutnya, bila dalam pelaksanaan pekerjaannya, TS melakukan penebangan di area 579 yang merupakan hutan lindung, itu adalah kehendak TS sendiri dan bukan perintah PS, sesuai surat perjanjian yang telah disepakati.

"Tanah saya seluas 20 Ha bukan area 579 dan bila dia menebangi hutan lindung, bukan merupakan salah saya. Saya adalah pendatang yang membeli tanah di sana, jadi tidak mungkin saya menyuruh dia menebang tanah orang lain," tegas PS kepada media.

Sebelumnya diberitakan, menurut kronologis dari Polres Samosir, pada Rabu (13/3/2019) lalu, Polres Samosir memperoleh informasi dari masyarakat, bahwa di Desa Marlumba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, ada diduga kegiatan penebangan pohon di dalam kawasan Register 579 alias hutan lindung.

Berbekal laporan warga tersebut, selanjutnya petugas berangkat kelokasi kejadian dan menemukan, di sekitar jalan menuju Simardopian Dusun I Desa Marlumba, ada satu unit truk fuso yang bermuatan kayu log jenis pinus.

Petugas lalu menanyakan kepada supir truk itu, yang mengaku bernama Sabungan Sigalingging, terkait asal usul kayu dan pemiliknya. Sang supir menjelaskan, bahwa kayu – kayu yang diangkutnya tersebut adalah milik TS alias PB (41), penduduk Desa Pardomuan I, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.

Petugas pun lalu mengamankan truk tersebut dengan membawanya ke Polres Samosir, guna dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Menindaklanjutinya, Tipiter Reskrim Polres Samosir, pada Kamis (14/3/2019) dan pada Selasa (3/9/2019), lalu, melakukan pengecekan sebanyak dua kali ke lokasi penebangan pohon kayu pinus tersebut dan dengan menyertakan ahli pemetaan dari Dinas Kehutanan, KPH XIII Dolok Sanggul.

Hasil penelitian diketahui, bahwa lokasi penebangan berada di dalam kawasan hutan Lindung atau kawasan hijau.

Berbekal pendapat ahli tersebut, selanjutnya Polisi meningkatkan penyelidikan menjadi penyidikan dan menetapkan status tersangka kepada TS alias PB, guna dilakukan proses hukum yang berlaku di Indonesia.

Akibat perbuatannya, Polres Samosir menjerat tersangka dengan Pasal 12 huruf b jo Pasal 82 ayat (1) huruf b dari UU Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2013 dengan ancaman hukuman minimal 1 (satu) tahun dan maksimal 5 (lima) tahun.

Polres Samosir juga mengaku telah melakukan pengiriman berkas perkara kepada Kejaksaan Negeri Samosir sekira bulan Juli 2019 lalu.

Ketika hal itu dikonfirmasi kepada Kajari Samosir melalui Kasi Pidumnya, Jhon Keynes Siagian SH MH, mengaku telah menerima berkas pelimpahan kasus tindakan pidana lingkungan yang dilakukan TS alias PB, seminggu yang lalu.

"Kita sudah menerimanya seminggu lalu dan sedang melakukan penelitian sesuai dengan waktu yang ditentukan selama 14 hari ini, dan setelahnya apakah langsung kami P21 atau P19 (dikembalikan), kita lihat nanti hasil penelitian tim kami," ujar Jhon K Siagian.

Tambahnya, bahwa kasus pidana lingkungan sudah menjadi atensi dari Kejaksaan Agung untuk dilakukan penuntutan, bila sudah terpenuhi alat bukti berdasarkan penelitian kejaksaan.

"Buktinya pada berkas terdahulu terkait pidana lingkungan sebanyak 3 tersangka yang dilimpahkan Polres Samosir sudah P21 dan langsung dilakukan penahanan dan sudah kami limpahkan ke Pengadilan dan sedang menunggu jadwal sidang," tegas Jhon Siagian. 

Penulis: stm. Editor: gun.