HETANEWS

Soal Pertemuan dengan Presiden Iran di Sidang PBB, Trump: Apa pun Bisa Terjadi

Donald Trump memandang pertemuan dengan Hassan Rouhani di sela Sidang Majelis Umum PBB bukan hal mustahil

AS, hetanews.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yakin pembicaraan dengan mitranya dari Iran Hassan Rouhani tetap bisa terwujud meskipun negaranya memberlakukan sanksi terbaru yakni terkait ekspor minyak dan program antariksa.

Menurut Trump, tak ada yang mustahil untuk bisa bertemu dengan Hassan Rouhani di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.

Hubungan kedua negara memanas sejak Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir tahun 2015 pada Mei 2018, disertai dengan pemberlakuan sanksi ekonomi. Kesepakatan itu juga diteken lima negara lain, yakni Rusia, China, Inggris, Prancis, Jerman, serta PBB.

Donald Trump

"Tentu saja, apa pun bisa terjadi," ujarnya, menjawab pertanyaan wartawan soal kemungkinan pertemuannya dengan Rouhani di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York bulan ini, dikutip dari AFP, Kamis (5/9/2019).

Sebelumnya Rouhani mengatakan Iran siap untuk mengambil langkah terkait komitmen perjanjian nuklir 2015.

Tidak lama setelah pernyataan Rouhani, para pejabat AS mengumumkan sanksi baru untuk Iran, kali ini menargetkan jaringan pengiriman minyak oleh Garda Revolusi.

Koordinator Departemen Luar Negeri AS untuk Iran Brian Hook juga mengesampingkan batas kredit yang diusulkan Prancis di mana Iran memandang hal itu dapat mengembalikan negaranya ke kesepakatan nuklir 2015.

Kemungkinan pertemuan kedua pemimpin pertama kali disampaikan Trump di KTT G7 di Prancis pada akhir Agustus. Saat itu Trump mengatakan sedang mempersiapkan pertemuan dengan Rouhani yang diharapkan berlangsung dalam beberapa pekan sejak pernyataan itu disampaikan.

"Jika situasinya tepat, saya pasti akan setuju untuk itu," kata Trump.

Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengundang Menlu Iran Mohammad Javad Zarif, di saat yang sama dengan KTT G7.

"Saya pikir dia (Rouhani) ingin bertemu. Saya pikir Iran ingin menyelesaikan masalah ini," tuturnya.

Macron pun siap memfasilitasi pertemuan antara Trump dengan Rouhani. Jika terwujud ini akan menjadi tatap muka pertama presiden AS dengan mitranya dari Iran.

Macron mengatakan, syarat untuk pertemuan antara Trump dan Rouhani dalam beberapa minggu ke depan telah dipenuhi melalui diplomasi dan konsultasi yang intensif, yakni dengan Menlu Zarif.

Trump dan Rouhani diperkirakan akan bertemu di New York, di sela pertemuan Sidang Umum PBB yang berlangsung pada akhir September 2019.

Hassan Rouhani

Sementara itu Rouhani merespons siap bertemu dengan Trump tapi dengan syarat. Dia siap bertemu Trump jika AS mencabut sanski terlebih dulu.

"Langkahnya adalah untuk mundur dari sanksi. Anda harus mundur dari semua sanksi ilegal ini, tidak adil dan salah diterapkan terhadap Iran," kata Rouhani, sehari setelah Trump mengajak bertemu.

Dia menegaskan, kunci untuk perubahan saat ini berada di tangan AS. Pasalnya, selama ini Iran tidak pernah melakukan apa pun yang mengkhawatirkan AS, termasuk membuat bom atom.

"Jika, ini (nuklir) yang menjadi perhatian Anda (Trump), maka kekhawatiran itu telah hilang," katanya, merujuk pada fatwa yang dikeluarkan pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei mengeluarkan fatwa pelarangan senjata nuklir di Iran pada 2003 dan hal ini telah diulangi beberapa kali.

"Jadi, ambil langkah pertama (cabut sanksi). Tanpa langkah ini, kunci ini tidak akan bisa dibuka," ujar Rouhani.

sumber: inews.id

Editor: sella.