Tanjungbalai, hetanews.com - Tanjungbalai adalah salah satu kota yang berada di Sumatera Utara dengan luas wilayahnya 60,52 km² dan penduduk berjumlah 169.000 jiwa (2015).

Kota ini, berada di tepi Sungai Asahan, sungai yang  terpanjang di Sumatera Utara.

Kota yang dihuni penduduk yang beragama Islam 85.14%, Kristen Protestan 8.11%, Buddha 5.70%, Katolik 1.01%, Hindu 0.02%, dan Konghucu 0.02% ini, menyimpan seribu satu rahasia di dalamnya dan pernah dijuluki sebagai kota mafia dan kota sarang masuk Narkotika secara besar-besaran, penyelundupan minuman keras, pakaian bekas/balpres maupun TKI Ilegal. 

Hal ini dikarenakan wilayah tersebut yang  berbatasan langsung dengan Port Klang - Selangor, Malaysia.

Polres Tanjungbalai memiliki 5 Polsek dan Kapolres yang silih berganti.

Kota mafia dan Narkoba ini mulai terkikis, sejak dalam  kepemimpinan AKBP Irfan Rifai yang ditugaskan sebagai Kapolres Tanjungbalai, sejak Maret 2018.

Mantan Kapolres Kulonprogo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini, berhasil menyapu bersih penyelundupan menjadi zero. 

Tidak ada lagi kegiatan  penyelundupan pakaian bekas /balpres,  dan minuman keras disikat habis. Dan dengan sendirinya, hilanglah anggapan yang mengatakan, bahwa  Tanjungbalai sebagai kota penyelundupan.

Begitu juga sindikat jaringan Narkoba Internasional diberantasnya dan hampir 70.000 gram atau 70 kilogram sabu yang disita dari jaringan Narkoba internasional, dengan beberapa orang tersangka.

Mutasi jabatan, AKBP Irfan Rifai sebagai Kasubagrendaldik Bagbindik Sespimti Sespim Lemdiklat Polri, menuai rasa dan menjadi perbincangan hangat di kalangan warga.

Karena selama kepemimpinannya, AKBP Irfan telah berhasil membawa Kota Tanjungbalai menjadi aman dan damai.

Dan mengikis stigma sebagai kota sarang Narkoba dan mafia.

Sesuai catatan yang ada pada penulis, diantaranya pada 21 Juli 2019, dengan tersangka Asy'ari dengan barang bukti 3000 gram sabu, pada 18 Desember 2018, disita 15.000 gram sabu dari tersangka Nur Famizal Bin Ramlan Cs, warga Malaysia.

AKBP Irfan Rifai bersama Kapoldasu dalam suatu acara di Polres Tanjungbalai. (foto/ferry)

Pada 22 Desember 2018, disita 7.000 gram sabu dari tersangka Jefri Fikri Cs, dan 3 hari kemudian, pada 25 Desember 2018, disita 1.200 gram sabu dari tersangka Alfian Suhendri Cs.

Pada 16 Januari 2019, dua orang tersangka, yakni, Rusdi alias TT dan Zulfikar alias Acong, ditembak mati karena membawa 15.000 gram sabu, dan pada 13 Juli 2019 juga 9.600 gram sabu dan 10.000 butir pil ekstasi, disita dari tersangka Supian.

Pada 24 Juli 2019, disita 8.000 gram sabu dari tersangka Munawir dan besoknya, pada 25 Juli 2019 juga disita 2.000 gram sabu dari tersangka Adlin Cs dan ada juga temuan 5.000 gram sabu, di TPU Kristen, pada 17 Juli 2019.

Hal ini menurut Ferry Matondang, Wartawan TV Swasta Nasional yang selalu melakukan liputan, bahwa sosok AKBP Irfan Rifai sangat berhasil dalam memimpin dan cukup akrab dengan rekan - rekan media.

Dan untuk lebih mendekatkan dirinya, Kapolres, AKBP Irfan Rifai ini membentuk Group WA ( WhatsApp)  Wartawan Unit Polres. Hal ini untuk memudahkan rekan- rekan media berbagi berita liputan dan sharing.

Kedepannya,  semoga para pimpinan Polri, bisa menilai sosok bagaimana yang disenangi oleh masyarakat dan rekan- rekan wartawan.

Iia berharap agar AKBP Irfan Rifai, sukses ditempat yang baru dan jangan berkecil hati karena jabatan barunya.

Perlu diingat, bahwa jabatan adalah sementara, namun keikhlasan dalam bekerja adalah selamanya dan pahala,  curhat Wartawan Elektronik yang akrab disapa Wak Fer ini.

Ustadz Indra Syah, Ketua Forum  Umat Islam  (FUI) Tanjungbalai juga sangat bangga terhadap kinerja yang dilakukan Kapolres, AKBP Irfan Rifai  selama memimpin.

“Kami sangat merasakan kinerjanya, sekarang di wilayah hukum Polres Tanjungbalai kondusif, baik dari segi keamanan serta kenyamanan dirasakan oleh masyarakat,"katanya.

Menurutnya, bahwa dalam kurun waktu 1 tahun (2018-2019), Polres Tanjungbalai berhasil menggagalkan beberapa kali transaksi  Narkotika yang akan diselundupkan melalui  Tanjungbalai.

Selain itu, pencegahan penyelundupan Tenaga Kerja illegal (TKI)  dan balpres serta minuman keras, juga menjadi prioritasnya , sebut Ketua Forum Umat Islam Tanjungbalai ini.

Kapolres Tanjungbalai, AKBP Irfan Rifai bersama Pimpinan Pesantren Al Jamiyatul Wasliyah, Ustad Buya Gustami dalam satu acara. (foto/ferry)

Sementara itu, Tokoh Agama, Ustad Buya Gustami Hasibuan, Pemimpin Pesantren Al Jamiyatul Wasliyah Kota Tanjungbalai, sangat merasakan sosok seorang pemimpin, pelindung dan pengayom masyarakat yang ada pada diri AKBP Irfan Rifai. Dalam hal penanganan penanggulangan dan  pencegahan khususnya narkoba, kata Ustad Buya Gustami, mereka melihatnya cukup positif dan ini terlihat dari banyaknya Narkoba yang telah disita dari beberapa orang tersangka yang beliau tangkap.

“Sosok AKBP Irfan Rifai,  orangnya sangat sangat berkomunikasi, kalau di sms langsung dijawab, ditelepon langsung ngangkat. Inilah kelebihan dari abangnda  Irfan Rifai  yang menjadi idola kami. Selain itu, beliau mampu menerima saran dan saran itu nantinya  yang harus kita lakukan bersama di Tanjung balai,”ujarnya.

Beliau membuka handphonenya 24 jam, saya pernah jam 02.20 WIB berkomunikasi tentang narkoba kepada beliau dan  ternyata beliau masih aktif dan masih banyak lagi hal - hal yang baik yang dilakukan oleh abangnda Irfan Rifai, tambahnya.

Kemudian dalam pembinaan masalah  Kamtibmas, dia juga sering melakukan kegiatan - kegiatan dengan terjun langsung ke kelurahan, dan yang menarik tiap hari Jumat, suka menyantuni anak - anak yatim, bermain dengan anak- anak yatim, di panti asuhan, katanya.

Mendatangi anak- anak di Pesantren dan beliau sering membantu fakir miskin dan kaum duafa, katanya lagi.

Kami sangat kehilangan sosok beliau,  dan berharap kedepannya kesuksesan menyertai AKBP Irfan Rifai, harapnya.

Ustad Buya Gustami berpesan "Jagalah amanah rakyat,  jabatan ini hanya sementara dan titipan dari Allah SWT dan dimanapun abangnda Irfan Rifai bertugas, kalau berlian itu kemanapun dicampakkan akan tetap berkilau dan tetap berlian,"pesan Ustad Buya Gustami.

Lain Halnya pandangan dari Majelis Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kota Tanjung Balai, Sim Sin Cung Als Acun.

Menurutnya, sosok AKBP Irfan Rifai, sangat dekat dengan masyarakat berbilang kaum di sini dan mereka merasa sangat kehilangan beliau dan sangat merindukan sosok beliau.

Menurut Ketua Majelis Konghucu, Kapolres Tanjung Balai AKBP Irfan Rifai, dengan mudah bisa  menempatkan diri di lingkungan masyarakat dan apabila kita ada masalah dan mau sharing,  beliau 24 jam merespon SMS atau telpon kita dan ini sangat susah kita dapatkan dari seorang pemimpin.

Dalam kehidupan sehari-hari, dia selalu menyempatkan dirinya  berinteraksi satu sama lain dan saya melihat beliau tidak membeda- bedakan ras, suku dan agama. Sehingga masyarakat Tanjungbalai hidup rukun dan damai, karena dengan terciptanya kerukunan, maka akan menjalin ketentraman dan persaudaraan yang baik, ujarnya.

Sinergitas Antara Forkopimda (Forum Kordinasi Pimpinan Daerah)  berjalan dengan mesra. Misalnya dalam urusan pemberantasan  Narkoba. Kerjasama yang baik antara Polres,  Kejaksaan dan Pengadilan. Terbukti dengan 5 orang terpidana yang dijatuhkan vonis hukuman mati karena terlibat dalam jaringan Narkoba.