HETANEWS

Prabowo Subianto: Bantu Jokowi Selesaikan Papua, Semua Elite Politik Lupakan Dulu Perbedaan

Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto berpelukan saat pertemuan di Stasiun MRT Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (13/7/2019). Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri dengan makan siang bersama. (foto/Garry Lotulung)

Jakarta, hetanews.com - Gejolak di tanah Papua dua pekan terkahir mendapat etansi dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Ia pun mengimbau elite politik untuk membantu Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyelesaikan kerusuhan di Bumi Cenderawasih.

Prabowo Subianto mengajak para elite melupakan perbedaan sikap politik terlebih dahulu, untuk kepentingan penyelesaian masalah di Papua. "Semua kekuatan politik harus saling tolong-menolong, bersatu," ujar Juru Bicara Prabowo Subianto Dahnil Anzar Simanjuntak saat dihubungi, Jumat (30/8/2019).

"Lupakan perbedaan sikap politik, bantu Presiden Joko Widodo untuk meyakinkan rakyat Papua bahwa Papua bisa lebih baik di masa yang akan datang dalam bingkai NKRI. Tidak boleh lagi ada ketidakadilan dan rasialisme di bumi Indonesia termasuk Papua," sambung Dahnil Anzar Simanjuntak.

Prabowo Subianto juga mengimbau masyarakat Papua memberikan kepercayaan kepada pemerintahan Jokowi, untuk menyelesaikan permasalahan dan melakukan pembangunan di Papua. "Beliau (Prabowo) mengajak rakyat Papua untuk memberikan kepercayaan kepada Pemerintah Indonesia untuk membuat Papua lebih baik," katanya.

Prabowo Subianto, menurut Dahnil Anzar Simanjuntak, juga berharap masalah kerusuhan di Papua yang dipicu persekusi dan perlakuan rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, dapat segera reda.

Pemerintah bersama aparat keamanan, lanjutnya, harus bergotong-royong menyelesaikan masalah tersebut. "Bahkan, di silaturahim-silaturahim dengan tokoh-tokoh politik sebelumnya, dengan Pak JK, Pak Budi Gunawan, Pak Jokowi, dan terakhir Bu Megawati, Pak Prabowo selalu memberikan atensi."

"Agar negara segera menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan tata kelola pemerintahan, serta kemanan yang baik bagi Papua," paparnya.

Berangsur Kondusif

Kondisi di Kota Jayapura, Papua, terus berangsur kondusif. Aktivitas sejumlah warga pun mulai berjalan. Seribuan pengunjuk rasa telah dievakuasi untuk dipulangkan ke rumah masing-masing.

Para pengunjuk rasa dipulangkan pada Sabtu (31/8/2019) sekitar pukul 02.00 WIT. Setidaknya 11 unit truk milik TNI dan Polri dikerahkan untuk mengantarkan massa ke rumah masing-masing.

Sebelum masuk ke truk, para pengunjuk rasa diperiksa satu per satu oleh aparat keamanan. Ditemukan sejumlah ketapel dari tangan pengungsi dalam pemeriksaan tersebut.

Sejumlah kartu SIM card, sendok/garpu, piring, gelas dan telor, kopi kemasan juga disita. Barang-barang tersebut diduga merupakan hasil jarahan saat terjadi kerusuhan.

Para pengungsi itu dipulangkan dan diturunkan di sejumlah tempat, yakni di Perumnas III dan Expo Waena. Dalam proses evakuasi, para pengunjuk rasa dari lokasi aksi dipantau langsung oleh empat orang anggota DPR Papua.

Ketua Fraksi Golkar DPR Papua, Ignasius Mimin menyatakan rasa terima kasihnya kepada TNI dan Polri.

Rasa terima kasih tersebut diungkapkan atas perlindungan TNI dan Polri kepada massa pendemo yang sebagian masih duduk dibangku kuliah. “Terima kasih pada aparat keamanan yang memulangkan para pengunjuk rasa dengam baik,” tutur Ignasius.

Ia juga berharap, dengan bubarnya para pengunjuk rasa, situasi secepatnya pulih kembali. “Kita percayakan kepada TNI dan Polri untuk mengembalikan situasi aman dan terkendali, agar aktivitas masyarakat berjalan normal lagi,” kata Ignasius.

Mabes Polri Beber Kronologi

Sebelumnya, Mabes Polri mengungkap kronologi unjuk rasa berujung kerusuhan di Jayapura, Papua, Kamis (29/8/2019).

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, awalnya massa yang berunjuk rasa ingin bertemu anggota dewan adat dari Majelis Rakyat Papua (MRP).

Akan tetapi, ternyata sejumlah anggota dewan tak ada di tempat lantaran tengah melaksanakan kunjungan kerja. "Karena massa mencoba menemui masyarakat dewan adat," ujar Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (29/8/2019).

"Namun demikian, kebetulan beberapa anggota MRP sedang melakukan kunjungan kerja," imbuhnya.

Kepolisian menduga massa kecewa karena tak bisa bertemu anggota dewan.

Oleh karena itu, massa melampiaskan kekecewaan dengan melakukan perusakan dan pembakaran. Pembakaran itu, kata dia, menyasar bagian belakang kantor MRP yang kemudian merembet hingga bagian gedung tersebut.

"Karena kosong, mungkin massa kecewa, makanya dia melakukan perusakan, pembakaran, di belakang (kantor) terus merembet (ke Gedung MRP)," ucapnya.

Lebih lanjut, mantan Wakapolda Kalimantan Tengah itu menduga pola aksi massa di Jayapura serupa dengan aksi massa di Deiyai, Papua, yang juga berujung rusuh sehari sebelumnya.

Kemiripan itu diduga terlihat dari adanya massa perusuh yang membaur dan menyusup di antara massa yang berunjuk rasa damai.

Namun, Dedi Prasetyo menegaskan pihaknya enggan mengambil kesimpulan secara cepat dan lebih memilih mendalami serta mencari fakta secara objektif terlebih dahulu.

"Polanya memang hampir mirip ya (dengan Deiyai), tetapi ini kita tidak boleh mengambil kesimpulan yang cepat. Nanti aparat setempat setelah melakukan evaluasi malam hari ini (kemarin), nanti akan mencari fakta-fakta secara objektif," paparnya.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.