HETANEWS

Ini Penilaian Pengunjung terhadap Pagelaran Samosir Musik Internasional

Ribuan pengunjung yang berada di open stage saat menyaksikan Samosir Musik Internasional (SMI). (foto/stm)

Samosir, hetanews.com – Event Samosir Musik Internasional (SMI) yang digelar di Tuktuk Siadong Samosir, Jumat dan Sabtu (23-24 Agusutus 2019) lalu, tampak ramai disaksikan masyarakat, meski sempat ada gangguan, hujan deras, pada Sabtu (24/8/2019), mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB.

Pantauan wartawan, penonton mulai berdatangan sekitar pukul 20.30 WIB, ketika hujan sudah reda.

Warga sangat antusias melihat langsung idola mereka tampil, seperti Alex Hutajulu, Viky Sianipar dan Hermann Delago.

Salah satu pengunjung, Benny S.H Manik ST, yang datang dari Siantar, bersama keluarganya, mengaku ingin melihat Viky Sianipar, bukan yang lain.

“Aku sudah hadir di open stage mulai awal soundcheck. Menuju ke lokasi, aku harus ekstra hati-hati karena kondisi jalan yang sempit dan aspal yang sudah kupak-kapik. Mendekati lokasi pergelaran, kendaraanku harus terhenti oleh portal bambu ala kadarnya, yang terpasang di pintu masuk, petugas yang berjaga menyodorkan selembar karcis parkir, “ujarnya.

Sampai di lokasi, sembari mencari tempat parkir dengan perasaan bingung, apa benar ini lokasinya? Karena yang kutemui di awal persis suasana bazar dadakan, yang biasa ada di pesta-pesta peresmian tugu, bukan konser music, ungkapnya lagi.

Keluar dari kendaraan, barulah terdengar suara sound system yang cukup keras. Mereka sedang check sound. Sedikit lega, aku tidak mendatangi lokasi yang salah ternyata, katanya.

Berjalan menuju open stage, banyak sampah yang berserakan di atas aspal berumput, yang sepertinya baru saja dipangkas.

Suasana tidak jauh berbeda di deretan bangku beton yang tersedia, sampah, lumpur dan genangan air. Ingin rasanya mengutip semua sampah-sampah itu. Hhmmm, internasional... pikirku, ucapnya.

Aku tidak paham apa yang dimaksud dengan judul “international” itu. Apa karena kehadiran orang “bule” atau WNA sebagai pengisi atau penonton konser, karena kapasitas sound dan panggung yang cukup megah kah? Daya tampung dan fasilitas open stagenya kah? Lagu-lagu yang dibawakan kah?, kualitas aransemennya kah?, atau apa..??

Samosir Music International, dari judulnya aku tadinya berpikir, bahwa musik dan aransemen yang ditampilkan adalah cuma bertemakan Batak, baik tradisional maupun progressif. Menampilkan juga gubahan-gubahan kreatif modern dari banyak artis/musisi Batak yang berkualitas.

Untuk semakin mengangkat seni musik Batak, memasuki dunia dan pasar modern, menjadi ajang eksistensi bagi musisi-musisi Batak itu sediri.

Seandainya pun mengudang keterlibatan musisi-musisi dari luar negeri, mereka harusnya membawakan lagu-lagu Batak saja dengan aransemen sendiri. Mungkin bisa menambah wawasan aransemen musisi lokal. Bukan justru menampilkan lagu-lagu pop dan rock nasional/internasional, apalagi tampilan tari-tarian modern-yang entah dimana korelasinya, ujarnya.

Lanjut Beny, pagelaran ini tanpa konsep yang jelas, begitu sementara penilaianku.

Kata “Samosir” menurutnya, harusnya bukan lagi sederhana sebagai sekedar sebuah tempat, tapi lebih mendalam dari itu, budaya. Kita kembalikan saja ke tujuan mendasar dari pergelaran ini. Sekedar sebuah hiburan yang bersifat temporary kah, yang cuma menguras anggaran daerah tanpa hasil yang signifikan atau untuk jangka panjang sebagai salah satu program memperkenalkan budaya Batak melalui seni musiknya, yang akan selalu ditunggu-tunggu baik oleh wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

Bazaar itu, bukankah akan lebih baik diisi oleh seniman-seniman lukis, ukir, tenun dan berbagai seni budaya Batak lainnya. Itu justru bisa bersinergi untuk tujuan memperkenalkan bagaimana perkembangan budaya Batak itu sendiri, bukan dengan stand Dinas PUPR.

Seandainya pihak Pemkab dan penyelenggara memang sungguh visioner dan ingin mempertahankan kata international untuk judul acara tersebut, mulailah memikirkan tempat yang layak, mulailah bekerja dengan konsep dan visi. Bukan lagi zamannya “supaya terkesan bekerja”. Semoga bukan demikian dasarnya ya, ujarnya.  

Penulis: stm. Editor: gun.