HETANEWS

Kaltim Punya Sejarah Kuat Terpilih Jadi Ibu Kota Negara, Kutai Kerajaan Tertua di Indonesia

Presiden Jokowi mengenai lokasi ibu kota baru yaitu Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara. (ist)

Jakarta, hetanews.com - Kaltim memiliki sejarah yang kuat sebagai ibu kota yang baru diumumkan Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Kerajaan tertua, yakni kerajaan Kutai, berdiri di Kaltim.

Demikian hal ini pernah disampaikan Israan Noor Gubernur Kalimantan Timur dalam forum Indonesia Lawyers Klub (ILC) di TVOne beberapa waktu lalu.

Selepas menjabarkan kontribusi Kaltim sebagai latar belakang pemindahan ibu kota, Isran turut menjelaskan histori provinsi.

“Raja pertama bernama Kudungga yang dipengaruhi Hindu Syiwa. Kudungga melahirkan anak bernama Mulawarman. Mulawarman ini memiliki anak tiga. Yang saya tahu, mudahan-mudah ini tidak terlalu benar, anak pertama bernama Asawawarman yang kemudian ke Sumatra Barat […] kemudian Aditiawarman ke Jawa Barat dan Purnawaman melahirkan raja-raja Mataram di Jojga,” jelas Isran.

Isran benar bila Kutai merupakan kerajaan tertua di Nusantara. Bukti yang paling kuat adalah penemuan tujuh yupa beraksara Pallawa di tanah Muara Kaman, Kutai Kartanegara.

Dari penelitian panjang, Raja Mulawarman yang paling masyhur diperkirakan hidup pada abad keempat. Namun, ada sedikit kekeliruan dalam pemaparan Isran untuk kekeliruan ini, Isran lebih dahulu meminta maaf jika ada penjelasannya yang tidak akurat.

Kudungga tidak melahirkan atau memiliki anak bernama Mulawarman. Menurut translasi huruf Pallawa di yupa pertama, anak Kudungga adalah Aswawarman.

Aswawarman (bukan Mulawarman seperti disebut Isran) yang memiliki tiga anak. Ketiganya, seperti ditulis di dalam yupa, seperti api yang suci. Yang terkemuka dari ketiga anak itu bernama Sang Mulawarman (Kajian Arkeologi Sejarah Kerajaan Kutai Martapura, 2007, hlm 26).

“Menurut sejarah, ini sudah benar. Tapi sejarah tidak menentukan (pemindahan ibu kota), yakni keputusan politik (yang menentukan),” lanjut Isran.

Tentang Bukit Soeharto

Isran sempat dikejar pertanyaan oleh Karni Ilyas selaku moderator ILC. Pertanyaan seputar Bukit Soeharto yang disebut hutan lindung oleh Kepala Bappenas.

Isran menjelaskan bahwa Taman Hutan Raya Bukit Soeharto bukan hutan lindung melainkan hutan produksi. Dulunya, hak pengusahaan hutan (HPH) dipegang Inhutani dan Kayu Mahakam.

Kondisi Bukit Soeharto, lanjut Gubernur, sudah didiami penduduk, ada perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan batu bara. Kondisi Bukit Soeharto, termasuk statusnya, telah dilaporkan kepada Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. 

“Cocok jadi ibu kota. Mirip dengan Canberra (ibu kota Australia) yang dulunya eks tambang besar,” urai Isran.

Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi salah lokasi ibu kota baru Republik Indonesia.

Profil Ibu Kota Negara

Presiden Joko Widodo, Senin (26/8/2019) siang, mengumumkan, setelah melalui serangkaian kajian, pemerintah menetapkan Kalimantan Timur sebagai ibu kota baru.

Lokasi tepatnya berada di sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Bagaimana profil Kabupaten Kutai Kartanegara?

Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki luas wilayah sebesar 27.263,10 kilometer persegi.

Melansir dari situs resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, lokasi ibu kota baru ini berada di 115º26’28” Bujur Timur sampai 117º 36’ 43" Bujur Barat dan antara 1º28’21” Lintang Utara sampai dengan 1º08’06” Lintang Selatan.

Batas wilayah

Secara administratif, Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki batas wilayah sebelah utara dengan Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Timur, dan Kota Bontang.

Sisi timur berbatasan dengan Selat Makasar, sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Penajam Pasir Utara dan Kota Balikpapan.

Pembagian wilayah

Kutai Kartanegara yang ditetapkan sebagai ibu kota baru terbagi menjadi 18 kecamatan.

Melansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, 18 kecamatan tersebut adalah Samboja, Muara Jawa, Sanga-Sanga, Loa Janan, Loa Kulu, Muara Muntai, Muara Wis, Kota Bangun, Tenggarong, Sebulu, Tenggarong Seberang, Anggana, Muara Badak, Marang Kayu, Muara Kaman, Kenohan, Kembang Janggut dan Tabang

Topografi

Wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara terdiri dari pantai, daratan, dan pegunungan. Wilayah pantainya berada di bagian timur, dan mempunyai ketinggian 0-7 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Luas Kutai Kartanegara wilayah pantai seluas 202.281 hektar atau 7,4 persen dari luas wilayah kabupatennya. Untuk luas bagian daratannya sebesar 30,73 persen dari luas kabupaten.

Kondisinya berupa tanah datar sampai landau, kadang tergenang, kandungan air tanah cukup baik, dapat dialiri dan tidak erosi.

Sementara, wilayah daratan dengan ketinggian lebih dari 25-100 mdpl memiliki areal seluas 25,03 persen atau sekitar 682.027 hektar.

Wilayah dengan ketinggian lebih dari 100 mdpl memiliki luas 1.004.055 hektar atau 36,83 persen dari luas kabupaten yang juga ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung dengan pengembangan terbatas.

Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki belasan sungai yang tersebar di hampir semua kecamatan. Keberadaan sungai ini juga kerap digunakan sebagai sarana angkutan utama di samping angkutan darat.

Adapun sungai terpanjang di Kutai Kartanegara adalah Sungai Mahakam yang membentang sepanjang 920 kilometer.

Perekonomian

Laman resmi Kabupaten Kutai Kartanegara menyebutkan, sampai saat ini Kutai Kartanegara  sangat bergantung pada sektor pertambangan yang diekspor ke pasar global.

Akibatnya, perekonomian di Kutai Kartanegara secara umum dipengaruhi oleh perekonomian global.

Adapun, kegiatan pertambangan di Kabupaten Kutai Kartanegara mencakup pertambangan migas dan non migas.

Minyak bumi dan gas alam merupakan hasil tambang yang sangat besar pengaruhnya dalam perekonomian Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya dan Kalimantan Timur pada umumnya.

Situs tersebut menyebutkan, berdasarkan data dari dinas pertambangan, total produksi batu bara di Kutai Kartanegara tahun 2015 mencapai 55.844.597,90 ton (dari 73 perusahaan tambang batu bara).

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.