HETANEWS

Menristek Banggakan Riset RI: Sekarang Jumlah Paten Kita Nomor 1 di ASEAN

Menristekdikti, M Nasir. (foto/Rengga Sancaya)

Bali, hetanews.com - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir membanggakan meningkatkan riset dan inovasi yang dilakukan anak muda dalam negeri. Nasir menyebut saat ini Indonesia sudah mengalahkan Asia Tenggara untuk kuantitas riset. 

"Kalau pekerjaan, di mana riset di Indonesia dulu tahun 2014 atau di akhir 2014 hanya 5.250 loh, Thailand sudah 8 ribu loh, Singapura 18 ribu, Malaysia 28 ribu, sekarang posisinya Malaysia 33.175 Indonesia sudah 33.750 kita sudah lebih besar. Sekarang kita lebih besar di Asia Tenggara, ini di internasional loh ya," kata Nasir di sela Pembukaan Kegiatan Ilmiah dan Rakornas Inovasi 2019 di Hotel Grand Inna Bali Beach, Sanur, Denpasar, Bali, Senin (26/8/2019).

Tak hanya itu, Nasir juga menyebut jumlah paten yang didaftarkan Indonesia juga sudah menempati posisi utama se-Asia Tenggara. Sekarang, Indonesia sudah bisa mengalahkan Singapura dan Malaysia. 

"Kedua masalah paten yang tadinya rendah sekarang Indonesia nomor satu di Asia Tenggara kita sudah 2.670, Singapura 2.025, Malaysia di bawah lagi. Ini dalam inovasi sekarang. Bagaimana meningkatkan kualitas, jadi kita tidak cukup jumlahnya makin banyak tapi kualitasnya kita dorong supaya lebih baik lagi," ujarnya. 

Nasir menambahkan saat ini pihaknya juga sudah mendorong para peneliti yang berada di luar negeri untuk kembali ke Indonesia. Dia berjanji bakal memberikan fasilitas yang baik bagi mereka untuk berinovasi. 

"Kami sekarang kami lakukan harmonisasi, sekarang sudah banyak peneliti kembali dari negara asing, dari diaspora kita undang karena kami fasilitasi dengan baik," tuturnya.

Dia menambahkan, saat ini Kemenristek juga sudah berupaya untuk meningkatkan kualitas hasil penelitian. Salah satunya melalui peningkatan insentif para peneliti maupun dosen di perguruan tinggi. 

"Honor dosen peneliti inilah kami sudah minta pak sekjen sudah kami bicarakan supaya para peneliti mendapat penghasilan yang lumayan. Jangan sampai tidak mendapat penghasilan yang tidak layak ini masalah, inilah yang kami dorong. Saya akan mengajukan ke presiden, uu saja baru turun ini lewat KSP terus sekarang peneliti dari usia sampai 70 tahun," jelas Nasir.

sumber: detik.com

Editor: sella.