HETANEWS

2 Tahun Warga Samosir Ini Hanya Terbaring di Tempat Tidur, Butuh Rp280 Juta untuk Operasi di Penang

Ibu Hendrik Manurung yang selalu setia menemani putranya, di rumah. (foto/stm)

Samosir, hetanews.com - Hendrik PB Manurung (20), warga Lumban Manurung, kelurahan Tuktuk Siadong, kecamatan Simanindo, kabupaten Samosir ini, hanhya mampu terbaring di tempat tidurnya, akibat penyakit yang dideritanya.

Sejak tahun 2017 lalu, Hendrik menderita penyakit lambung, yang membuat bagian perutnya harus dioperasi hingga 4 kali, di rumah sakit. Namun sampai saat ini, penyakitnya tak juga sembuh, bahkan semakin memburuk.

Orangtua Hendrik Manurung, Jannus Manurung (44) dan ibunya, Rosendi  boru Manullang (41), ketika ditemui hetanews.com, di kediamannya, Kamis (22/08/2019), lalu, pukul 13.00 WIB, mengatakan, penyakit lambung yang diderita anaknya tersebut, berawal dari demam berdarah. Namun, pasca terkena DBD, Hendrik justru mengalami susah buang air besar, yaitu di saat dia baru memasuki bangku kuliah, di semester pertama, di kota Medan.

"Kami membawa anak kami ke rumah sakit. Dan pihak rumah sakit menyarankan untuk dioperasi. Kami setuju dan biaya operasi menggunakan BPJS,"kata wanita yang berprofesi sebagai pedagang kelontong tersebut.

Rosendi melanjutkan, pasca dioperasi pertama, Hendrik kemudian dipasang colostomy bag untuk membantu proses buang air besar (BAB). "Tapi beberapa hari kemudian, Hendrik justru mengalami infeksi," ujarnya.

Hendrik kemudian kembali dioperasi. Namun dua minggu kemudian, pria yang hobi bermain bola ini, mengalami usus bocor dan akhirnya Hendrik dioperasi lagi.

"Dia (Hendrik) sudah empat kali dioperasi, namun tidak membuahkan hasil. Saya kasihan melihat anak saya. Selama sakit, dia sangat menderita, tapi dia punya semangat hidup yang kuat," ucap ibu yang memiliki 4 anak ini.

Sementara itu, ayah Hendrik mengaku, jika keluarga hampir putus asa. Namun oleh keluarga, disarankan untuk membawa Hendrik ke Rumah Sakit Adventis Hospital, yang berada di Penang.

Hendrik Manurung, berbincang kepada awak media, di  rumahnya, di Tuktuk siadong. (foto/stm)

Pasca dibawa ke Rumah Sakit tersebut, harapan baru dan semangat baru kembali hadir. Pasalnya, dokter menyebut, kalau Hendrik masih dapat diobati.

"Jadi waktu di rumah sakit, dokter bilang anak saya harus dioperasi lagi sebanyak dua kali. Hal ini dilakukan karena virus yang berada di tubuh Hendrik telah mencapai 67 % dari normalnya 15 %, saja yang ada di dalam tubuh manusia,"sebut ibu Hendrik.

Namun keluarga saat ini terkendala biaya. Menurut pihak rumah sakit, biaya yang dibutukan sekitar 80.000 RM atau sekitar Rp. 280.000.000 untuk 2 kali tindakan operasi.

Sebagai ayah yang hanya berprofesi sebagai sopir bus ini, tentu sangat berat dengan biaya pengobatan anaknya. Belum lagi, biaya yang telah dikeluarkan mereka sejak anaknya sakit.

"Kami bingung, uang sebanyak itu dari mana kami dapat. Sementara jadwal operasi, rencananya akan dilaksanakan tanggal 12 September mendatang. Bagaimana anak ku ini nantinya, lirihnya sedih.

Ia dan keluarga sangat berharap bantuan dari berbagai pihak, baik Pemerintah Daerah dan juga dermawan untuk mengulurkan tangannya memberikan bantuan, agar anaknya dapat berobat dan sembuh kembali.

Kami sangat berharap. Dan kami ingin, anak kami dapat sembuh kembali. Kami mengharapkan uluran tangan saudaraku semua," tuturnya sedih.  

Ditemui di kamarnya, Hendrik Manurung, terlihat kurus dan tak berdaya. Wajahnya pucat dan perutnya terlihat dilapisi kain kasa menutupi bekas operasi. Saat kain kasa dibuka, tampak perutnya memiliki 3 lubang hingga memperlihatkan ususnya.

Pandangannya sembab dan berbicarapun terpatah patah ketika dikunjungi awak media. Ia kelihatan kesulitan mengangkat tubuhnya karena kondisinya yang sangat lemah. 

Bagi yang ingin memberikan bantuan, dapat mengirimkan bantuan melalui nomor rekening sepupunya, atas nama Sabrina Anjelina Siburian dengan nomor: 524701007989537 Bank BRI. Dan nomor yang dapat dihubungi adalah: 081370288673.  

Penulis: stm. Editor: gun.