HETANEWS

Keluarga dari Lansia Korban Penganiayaan akan Mengadu ke Kapolri

Korban pengeroyokan MS (74), ketika memperlihatkan luka robek di kepalanya kepada wartawan saat dikunjungi ke rumahnya. (foto/stm)

Tobasa, hetanews.com - Merasa diperlakukan tidak adil di Polsek Lumbanjulu dan Polres Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara (Sumut), keluarga dari MS (74), lansia yang menjadi korban penganiayaan oleh oknum mantan anggota DPRD Tobasa, berencana mengadu ke Kapolri, Jenderal Pol Tito Karnavian, dan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Hal itu disampaikan Batara Sirait, anak dari MS saat ditelepon wartawan, pada Rabu (21/8/2019), lalu.

Kami sudah menunggu hampir mendekati sebulan, namun kasus ini terkesan dibiarkan saja. Ini berbeda ketika dulu ada kasus, ketika mantan anggota DPRD itu mengadukan orang lain, langsung pelakunya ditangkap. Ini hukum mau dibawa kemana? Kami yakin, Pak Kapolri akan sangat marah, jika tahu orang kecil diperlakukan seperti ini, ungkap Batara Sirait dengan nada kesal.

Ditegaskan Batara, pihaknya segera akan berangkat ke Jakarta untuk mengadukan perlakuan yang mereka terima, di Polsek Lumbanjulu dan di Polres Tobasa yang terkesan mengulur-ulur kasus ini. Kami heran, kenapa sampai sekarang dibiarkan saja, pelakunya tidak ditangkap. Apa polisi takut kepada mantan anggota DPRD ini?  Polisi adalah abdi negara dan abdi semua masyarakat, bukan abdi mantan anggota DPRD, sambungnya.

Lebih aneh lagi, kata Batara, menantu korban yang berinisial PS (43), malah dijadikan tersangka dengan tuduhan pengancaman, padahal yang dilakukan oleh PS adalah reaksi spontan untuk melindungi dan mencegah terjadinya pembunuhan terhadap mertuanya, yang saat itu sedang dikeroyok oleh RS dan kawan-kawannya.

Seperti diberitakan sebelumnya, mantan anggota DPRD Tobasa, berinisial RS bersama HS dan CS, mendatangi kediaman yang sekaligus warung milik korban MS, di Jalan Justin Sirait No 12, Kelurahan Parsaoran, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa, yang letaknya bersebelahan dengan Cafe Naborsahan milik keluarga RS dan langsung melakukan keributan dan memukuli RS hingga kepalanya berdarah-darah, pada Selasa (30/7/2019) lalu, sekitar pukul 17.45 WIB. Bahkan kejadian penganiayaan itu, disaksikan sendiri oleh Camat Ajibata, Tigor Sirait.

Menurut informasi di lapangan, sebelumnya MS ini menegur limbah atau sampah yang berasal dari cafe yang mengotori pekarangan rumah MS.

Pelaku MS sendiri, mengaku sudah mengingatkan soal sampah itu berkali-kali, namun tidak direspon cepat, baik itu camat maupun keluarga RS. 

Sempat juga terjadi perdebatan antara MS  dengan boru Panjaitan, ibu dari RS, terkait status tanah tempat Cafe Naborsahan itu. 

Saat mendatangi rumah, sekaligus warung MS, mantan anggota DPRD itu, bersama  HS dan CS, merusak perlengkapan yang ada di warung korban, seperti membalikkan meja, mengeroyok korban.

Sehingga pelanggan yang saat itu sedang makan, di warung korban kaget dan berhamburan keluar. Camat yang seharusnya melerai atau mendamaikan juga hanya diam.

Korban MS yang mengalami luka robek di kepala bagian belakang sebelah kiri, sehingga harus dilarikan ke UGD Parapat, guna melakukan perawatan medis.

Tak terima dengan perlakuan ini, keesokan harinya, Rabu (31/7/2019) lalu, pukul 10.00 WIB, korban bersama keluarga mendatangi Mapolsek Lumbanjulu untuk melakukan pelaporan, dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) No. 16/VII/2019.

Baca juga: Keluarga Korban Desak Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan MS

Dalam perkara ini, pihak Polsek Lumban Julu, sudah menerima laporan, beserta barang bukti, berupa satu buah kursi plastik warna hijau, satu potong jaket lengan panjang warna abu-abu yang ada bercak darah yang disaksikan oleh S Sinukaban, R Sidabutar, dan Manurung, selaku anggota Poksek Lumban Julu, pada hari Kamis (1/8/2019) lalu, yang diterima IM Sidabutar, selaku Penyidik Pembantu.

MS sendiri kepada wartawan mengatakan, masih trauma dengan kejadian itu. Dia tidak menyangka dikeroyok tiga orang. Dia hingga kini masih sesak nafas, kepala luka-luka, dan merasa terancam jiwanya.

Saya berharap kepada pihak Kepolisian agar pelaku pengeroyokan dan penganiayaan yang saya alami agar secepatnya ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku di NKRI tanpa memandang status siapa dia, harapnya.  

Terpisah, Kapolsek Lumban Julu, AKP K Tarigan, ketika dikonfirmasi awak media, terkait adanya informasi dari keluarga korban, mengaku pelaku tidak terima dibuat jadi tersangka dan akan melimpahkan kasus ini ke Polres.

Kasus ini akan tetap kita proses dan kita akan gelar perkara ini, di Polsek Lumban Julu, setelah pemanggilan pertama dilakukan kepada pelaku.

Kapolsek juga mengatakan kepada wartawan, “tidak benar mereka bisa mengatur - ngatur penegak hukum. Kita tetap netral, jika salah akan kita tetapkan salah, “ujar Kapolsek kepada awak media.

Penulis: stm. Editor: gun.