HETANEWS

Hakim PN Simalungun Tegur Terdakwa karena Dianggap Hina Persidangan

Terdakwa terlihat melipat tangan saat mrengikuti persidangan di PN Simalungun. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Simalungun, pimpinan Roziyanti SH, menegur terdakwa Alasen Kaban (54), karena dianggap menghina  persidangan, Rabu (21/8/2019).

"Baguslah cara duduk mu sebagai terdakwa,"kata hakim. Terdakwa terlihat duduk dengan santai sambil melipat tangan. "Sikap mu itu menghina persidangan, tidak sopan,"tegur hakim lagi.

"Sudah banyak sidang kau lihat dari tadi kan, semua terdakwa, bahkan saksi polisi duduk dengan baik dan sempurna, di persidangan, bukan seperti gayamu,"jelas hakim.

Terdakwa pun meminta maaf sambil mengatakan, bagaimana sikap duduknya? Lalu melepas lipatan tangannya. Persidangan siang itu, hakim memerintahkan jaksa untuk kembali memanggil para saksi.

Karena terdakwa merasa keberatan, dengan barang bukti yang telah diajukan ke persidangan. Dari awal persidangan, terdakwa sudah keberatan dengan surat dakwaan jaksa. Tapi menurut majelis hakim, keberatan tersebut sudah masuk ke dalam pokok materi perkara, sehingga perlu pembuktian.

"Keberatan dengan barang bukti, untuk itu perlu dibuktikan, “kata hakim kala itu.           

Menurut dakwaan jaksa, Julita Nababan SH, terdakwa ditangkap di rumahnya, di jalan Keramat Kuba, Kelurahan Perdagangan II, Kecamatan Bandar, pada Kamis, 28 Pebruari 2019, lalu.

Terdakwa ditangkap, bersama terdakwa Haus Kamal dari dalam kamar yang berbeda di rumah terdakwa, Alasen Kaban.         

Penangkapan oleh Satres Narkoba Polres Simalungun, Syarif Noor Sholin, Fernando Nababan, Efraim Purba dan Aprido Tampubolon, berdasarkan informasi yang diterima petugas. Penggerebekan didampingi Kepala Dusun Suhartono.         

Dari keranjang sampah, didalam kamar terdakwa, disita sepaket sabu seberat 0,10 gram, kaca pirex, bong, pipet dan puluhan plastik klip kosong. Sesuai informasi yang diterima, jika terdakwa Alasen, membeli sabu dari Iwan Keling (DPO), pada Minggu, 24 Pebruari 2019 lalu, seharga Rp.1.700.000.       

Sabu dibagi dibagi menjadi 7 paket yang biasa disimpan dalam keranjang sampah di kamarnya, dan sudah terjual sebanyak 6 paket. Sisa paket lainnya akan digunakan terdakwa.       

Meski sudah didampingi pengacara dari Posbakum PN Simalungun, di tengah proses persidangan, terdakwa menggunakan jasa pengacara lainnya melalui Surat Kuasa Khusus (SKK). Sebelumnya, terdakwa sudah pernah dihukum di PN Simalungun dalam kasus yang sama, narkotika.

Penulis: ay. Editor: gun.