HETANEWS

Mahraja Negeri Padang Tinjau Lahan Konsesi No. Reg. 14 Pabatoe

MAHRAJA Negeri Padang Tebingtinggi Tengku Nurdinsyah Al Haj (pakai peci) saat mengunjungi lahan konsesi di PTPN IV Kebun Pabatu.

Tebingtinggi, hetanews.com- Mahraja Negeri Padang Tebingtinggi Tengku Nurdinsyah Al Haj bersama beberapa pemangku adat Kerajaan Negeri Padang mengunjungi lahan konsesi Pabatoe yang berada di wilayah PTPN IV Kebun Pabatu dan PTPN III Kebun Gn. Para. Kunjungan dilakukan untuk mengetahui batas-batas wilayah konsesi yang dulunya merupakan lahan Kerajaan Negeri Padang yang dikontrakkan kepada perusahaan Belanda, kemudian beralih kepada pemerintah RI.

Kunjungan itu, Senin (17/3) disertai sejumlah pemangku adat Kerajaan Negeri Padang, diantaranya Juanda, Khuzamri Amar, SE, Tengku Alvin Raka, Tengku Machmud, Tengku Iskandar, OK Khairul Aswar an sejumlah pemangku adat lainnya.

Menurut juru bicara pemangku adat Negeri Padang Tebingtinggi Khuzamri Amar, SE, didampingi Juanda, berdasarkan Acte van Consessie yang dibuat pada 16 Juli 1902, lahan kontrak itu mencapai luas  5.288,6 hektar, dan di antara luas lahan keseluruhan ada 1.300 bau atau setara dengan 1.000 hektar lebih, merupakan lahan Kerajaan Negeri Padang.

Ditambahkan, berdasarkan naskah akte konsesi itu, batas lahan yang dikontrakkan sebelah hilir ditarik garis dari Kedeh Damar, pada sungai Padang lurus dari Barat ke Timur sampai garis ini menyentuh sungai Kelembah.

Mengikuti sungai Kelembah ke arah hulu di tepi kanan sampai pada titik  di mana ditarik satu garis mulai dari muara sungai Bocah Ranggasan di sungai Padang, dan sebelah Barat  mengikuti sungai Padang kea rah hilir ditepi kanan sampai Kedeh Damar. Tiap bau dihitung 500 dera. “Itulah luas areal konsesi yang ingin kami ketahui,” ujar Khuzamri Amar SE.

Diungkapkan lahan konsesi yang diberikan Kerajaan Negeri Padang itu, telah ditetapkan kontraknya selama 75 tahun, dimulai pada 16 Juli 1902. Jika kemudian ditarik dari waktu itu, maka lahan konsesi yang ada telah habis masa kontraknya pada 16 Juli 1978. “Hingga kini pemilik lahan sekarang belum pernah bertemu dengan pemangku adat Negeri Padang,” ujar Amar.

Pada artikel 2 dari kontrak yang diterjemahkan dari bahasa Arab Melayu dan Belanda ke bahasa Indonesia itu, terdapat poin; ‘Dalam hal pengontrak meninggal dunia untuk lainnya sebelum berakhirnya perjanjian ini, maka segala hak dan kewajibannya beralih kepada para warisnya atau yang ia berikan hak.’ Atas dasar itu pemangku adat Kerajaan Negeri Padang merasa perlu mengetahui lahan konsesi itu, tambah Juanda.

Naskah itu, menerangkan para pengontrak adalah, Yang Mulia Sultan Deli, Petinggi Negara dari Padang, Maharadja Moeda dan Datoek dari Tebing Tinggi Sah Bandar, sedangkan pihak mengontrak adalah A. Duisburg sebagai kuasa dari B.C Bleckman.

Selain mengunjungi lahan Pabatoe, Mahraja Negeri Padang juga berziarah ke makam leluhurnya di Kel. Bandar Sakti, yakni Tengku H. Muhammad Nurdin dan Marah Hakum gelar Panglima Goraha.

Penulis: tim. Editor: ebp.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.