HETANEWS

Saddan Sitorus Adukan UAS Ke Mabes Polri

Saddan Sitorus.(Foto/FB)

Siantar, hetanews.com -  Terkait pernyataan Ustad Abdul Somad (UAS) yang viral di media sosial (Medsos) mendapatkan berbagai reaksi, salah satunya adalah Saddan Sitorus, dia mengadukan UAS ke Mabes Polri dengan dugaan penistaan agama, dan hal ini dikwatirkan menjadi cikal bakal pemecah nilai kebhinekaan bagi bangsa Indonesia.

Melalui realese pers yang disampaikan Sadda kepada hetanews, Senin (19/08/2019) diawal kalimat dia menyebutkan bahwa dirinya sudah memafkan UAS, namun pernyataan UAS tersebut sangat dikwatirkan menjadi cikal bakal pemecah bela nilai kebhinekaan bagi Bangsa Idonesia, dan dia meminta agar Kepolisian menegakkan keadilan.

"Sekali lagi, saya sudah memaafkan Ustad yang bernama Abdul Somad perihal pernyataannya yang membuat sontak iman kekristenan saya terganggu, bagaimana tidak, sebagai pemeluk agama kristen keyakinan saya tentang salib diobrak-abrik oleh orang yang bisa dipastikan tidak mengerti akan makna terbesar dibalik Yesus Kristus mati dan di salibkan,"katanya. 

"Kesimpulan Ust somad dalam dakwahnya, menyebut bahwa Salib adalah Jin Kafir, justru menimbulkan masalah besar, dan bukan sekedar tentang agama tertentu dalam hal ini Kristen, tapi lebih luas lagi untuk dimengerti bahwa sebagai warga negara Indonesia melihat tindakan kejadian tersebut, memperlihatkan bahwa sosok Ust Abdul Somad sangat menakutkan, karena sikapnya yang Intoleran, menggangu kebhinekaan, membuat kegaduhan, memecah belah persatuan bahkan bisa mengancam eksistensi pancasila dari Negara Repubik Indonesia. yang justru sejak lama sudah terawat oleh FoundingFathers bangsa yang besar bernama Indonesia ini,"jelasnya.

Dia mengatakan Kemajemukan yang dimiliki bangsa ini adalah kekayaan negara Indonesia dan itu tidak ada di negara lain,oleh karenanya kedudukan setiap perbedaan sama dimata hukum dan Negara menjamin stabilitas dan hak tersebut. sebagai bangsa yang besar yang dibutuhkan setiap masyarakat bisa hidup berdampingan, rukun dan saling menghormati dan itu ajaran agama sesungguhnya (agama apapun) yang  bisa bekerjasama dalam hal kebaikan.

"Jadi jangan dirusak bangunan kokoh (kebhinekaan) dengan penistaan atau penodaan terhadap agama lain yang menimbulkan perpecahan,"kata warga Siantar yang tinggal di Jakarta ini.

Masih kata Saddan sosok UAS sebagai Tokoh agama yang banyak di elu-elukan dan layak dijadikan panutan oleh banyak orang dari semua golongan, kemudian luntur begitu saja akibat tingkah laku dan perbuatannnya yang telah melakukan penghinaan terhadap agama (Penistaan Agama).

"Ini bisa mengakibatkan rusaknya tatanan bangsa dalam mewujudkan nilai kesatuan dan persatuan.Seharusnya, sebagai Tokoh agama Ust Somad harus lebih mawas diri baik dalam hal berkata-kata dan menjaga emisonal serta menjunjung tinggi nilai-nilai spritualitas yang baik dan benar karenasemua kalangan membutuhkan dakwah yang memberikan kesejukan bagi setiap siapapun yang mendengarnya,"sebut Mantan Ketua GMKI Siantar-Simalungun ini.

Menurut Saddan, Kesalahan fatal dari UAS adalah karena terlalu berani lebih jauh mencampuri dan membuat kesimpulan secara gamblang bahwa Salib adalah Jin Kafir.

"Dan itu adalah pemahamaan yang keliru karena  dengan cara mengolok atau menjelek-jelekkan agama lain, akibatnya, pribadi Ust Somad telah memberikan sumbangsih negatif bagi warga negara Indonesia, terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam merajut nilai-nilai sebuah kebhinekaan dalam mewujudkan Persatuan dan Kesatuan Indonesia yang cinta damai,"kataya

Saddan mengatakan Demi menjaga stabiltas dan keutuhan bangsa,dibutuhkan peran serta Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum(Kepolisian) untuk menegakkan nilai keadilan sebagaimana di jelaskan “pasal 156 a yang bersumber dari pasal 4 UU No. 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan dan penyalahgunaan dan/atau Penodaan agama”

"Karena sejatinya perbedaan itu adalah sebagai alat pemersatu bangsa, sama seperti apa yang disampaikan oleh Bapak Joko Widodo sebagai kepala Pemerintah, pada pidato-pidato kebangsaan,dimana masyarakat dihimbau secara bersama menerima setiap perbedaan (RAS), maka jika ada upaya orang/sekelompok yang mencoba memecah belah bangsa ini dengan perbuatan penistaan agama, lalu sebagai Negara hukum sudah paripurna akan tetap menjunjung bahwa Hukum merupakan panglima tertinggi bagi Negara Indonesia. maka tetap meyakini Pemerintah bersama-sama dengan aparat penegak hukum akan memberikan respon yang positif atas penyelesaian kasus ini, dan perlu dipahami bahwa setiap perbedaan (RAS) tentang eksistensi agama  merupakan Pilar terpenting bagi bangsa dan Negara karena itu adalah tujuan dari Pancasila,"paparnya.

Dia juga menghimbau agar masyarakat tidak terprovokasi atas pernyataan dalam video viral tersebut

"Terahir yang perlu dijaga adalah bahwa seluruh element masyarakat Indonesia tidak mudah sulut amarahnya dan terprovokasi atas pernyataan dalam Video Viral tersebut, melainkan melalui Laporan Polisi yang saya buat ini kita bisa mempercayai bahwa Pemerintah dan Penegakan hukum akan memperoses dan mengkawal kasus ini dengan serius sesuai dengan kewenangannya/UU berlaku,"katanya.

Penulis: tim. Editor: tom.