HETANEWS

Walhi Sumut Minta Pemko Siantar Cabut Izin Pemakaian Lahan untuk Atraksi Lumba-lumba

Wahana pertunjukan atraksi Lumba-lumba WSI, di Jalan Melanthon Siregar, Kamis (15/8/2019). (foto/hza)

Siantar, hetanews.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesai (Walhi) Sumatera Utara, menolak rombongan Wersuit Seguni Indonesia (WSI), yang menampilkan pertunjukan atraksi hewan mamalia Lumba-lumba,  di Kota Siantar, Kamis (15/8/2019).

Di Siantar, rombongan WSI tersebut, menggunakan lahan Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PDPAUS), yang berada di Jalan Melanthon Siregar. Pertunjukan ini bakal berlangsung selama sebulan yang dimulai pada 23 Agustus hingga 29 September 2019 mendatang.

Amatan Hetanews.com, di atas lahan PDPAUS itu, telah berdiri pentas pertunjukan atraksi Lumba-lumba, yang mana hewan ini masuk salah satu hewan yang dilindungi.

Pada bagian dalam pentas tersebut, terdapat kolam berbentuk bulat dengan kedalaman 10 meter. Pada sisi lain kolam, terdapat karung berisikan diduga garam. Seorang pekerja yang ditemui dan ketika diajak komunikasi, mengatakan, pentas ini dibangun untuk pertunjukan dua ekor Lumba-lumba.

Belum lama ini, rombongan WSI yang menunjukkan atraksi hewan Lumba-lumba, pernah mendapatkan penolakan dari masyarakat Kota Medan. Bahkan, artis Manohara datang ke Kota Medan dan menolak pertunjukan tersebut.

Direktur Eksekutif  Walhi Sumut, Dana Prima Tarigan, meminta pemerintah daerah untuk tidak memberikan izin pertunjukan yang mengeksploitasi hewan yang dilindungi tersebut.

Selain itu juga, Dana Prima Tarigan mengatakan, pertunjukan itu bisa dikatakan sebuah bentuk penyiksaan terhadap hewan. Ia membantah pertunjukan itu, sebuah bentuk dari edukasi atau pendidikan.

"Di luar negeri sendiri, pertunjukan atraksi Lumba-Lamba dilarang, karena penyiksaan. Jangan diklaim itu sebagai edukasi. Karena sama sekali tidak ada edukasinya. Mereka mencari keuntungan dengan memanfaatkan hewan yang tidak seharusnya diberlakukan seperti itu,"katanya saat dihubungi via seluler, Kamis  (15/8/2019) sore.

Tak hanya itu, Dana menyarankan, kalau ingin menyaksikan hewan Lumba-Lumba, masyarakat bisa datang ke badan konservasi atau pun langsung ke laut. Ia berpendapat kehadiran WSI tidak memberikan edukasi tetapi hanya mencari keuntungan. Bahkan, Dana takut, dengan pertunjukan ini dapat menumbuhkan stigma masyarakat, bahwa hewan mamalia pintar itu dapat dipelihara.

"Ini tidak ada bicara edukasi. Kalau ingin melihat datang badan konservasi atau lihat di laut. Ini bisa  dapat menumbuhkan tumbuh stigma kepada masyarakat, bisa dipelihara. Padahal, itu menyiksa mereka. Eksploitasi untuk keuntungan. Kita harap pemerintah daerah menutup  pertunjukan itu. Tidak lagi memberikan izin untuk itu,"ujarnya.

Dana menyayangkan Pemko Siantar melanggengkan kehadiran pertunjukan Lumba-lumba hanya karena untuk pemasukan. Padahal, tidak sebanding menjaga keberadaan Lumba-lumba dengan pemasukan. Dana menilai solusi yang tepat pemerintah pusat membuat keputusan yang diedarkan ke seluruh daerah untuk melarang atau menolak pertunjukan Lumba-lumba.

"Kita berharap pemerintah pusat yang dibawahi konservasi menyurati seluruh pemerintah daerah tidak menampung atau memberikan izin kepada mereka. Karena mereka bukan lembaga konservasi. Selama ini kan, Pemda ini merasa gak ada dilarang oleh pemerintah pusat. PAD juga berapa. Dibanding dengan stigma masyarakat hewan itu bisa dipelihara," pungkasnya.

Penulis: hza. Editor: gun.