HETANEWS

Jeritan Tangis Suami Warnai Rekonstruksi Ibu Bunuh Bayi Saat Dilahirkan

Suami menangis saat menjalani rekonstruksi. (foto/Sugeng Harianto)

Nganjuk, hetanews.com - SMT (27) warga Jalan Monginsidi, Kelurahan Payaman, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk memperagakan 25 adegan dalam rekonstruksi pembunuhan bayi yang dilahirkannya Selasa (6/8). Isak tangis sang suami Sodiq (33) mewarnai jalannya rekonstruksi sang istri oleh Jajaran Satuan Reskrim Polres Nganjuk.

"Anakmu (anak pertama 3 tahun) nakokne koe wae (Anakmu menanyakan kamu terus)," ucap sang suami, Sodiq sambil menangis saat berbincang dengan istri di rumah lokasi rekonstruksi Selasa (14/8/2019). 

Dengan sesenggukan dan mengusap air mata, Sodiq terus menangis ditenangkan oleh salah satu polwan yang mengawal sang istri. Dengan mengenakan seragam tahanan polres Nganjuk warna oranye, serta sarung penutup wajah sang istri tampak pasrah tidak banyak bicara. 

"Anakmu gak turu kene sek, wedi (anakmu tidak tidur di sini, takut," tutur Sodiq.

"Orangnya baik sekali rendah hati, kalau saya beri baju bekas selalu di pakai. Itu yang membuat saya simpati. Karena faktor ekonomi mungkin seperti ini," celoteh Paulina (50) tetangga yang melihat rekonstruksi.

Rekonstruksi yang dipimpin oleh Kapolres Nganjuk AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta itu melibatkan sekitar 70 personel pengamanan. Salah satu adegan yang membuat miris, bahwa selain memukulkan asbak cor ke kepala bayi, pelaku juga memukulkannya ke dada korban yang tak berdosa itu.

"Jadi selain memukul bayi dengan asbak dari cor semen, ternyata juga di pukulkan ke dada bayi asbak rokok itu," ujar Dewa.

Adegan demi adegan diperagakan oleh pelaku bersama saksi lain, termasuk saat dibawa ke RSUD Nganjuk melibatkan bidan dan perawat. Dalam rekonstruksi ini tampak ratusan warga memadati lokasi. Dalam waktu dekat, dikatakan Dewa, polisi juga akan melibatkan psikiater untuk memeriksa kejiwan pelaku dan suami.

"Secepatnya nanti kita lakukan pemeriksaan kejiwaan juga terhadap pelaku," paparnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Nganjuk AKP Nikolas Bagas, menyampaikan bahwa motif pembunuhan bayi ini diduga faktor ekonomi. Saat ini suami pelaku yang baru memiliki satu anak berusia tiga tahun ini hanya bekerja jasa parkir di depan rumah.

"Saya buka jasa parkir di depan rumah, hasilnya juga tidak seberapa. Sehari sekitar Rp 30 ribu itupun di bagi tiga saudara saya yang sudah berkeluarga," ucap Sodiq.

Pria yang terus menangis itu juga mengaku sebagai juru kebersihan di masjid dengan hasil perbulan hanya Rp 300 ribu. Di mata tetangga pelaku dikenal ramah dan baik hati.

Data yang dihimpun detikcom, pasangan suami istri itu menempati rumah bersama dua anggota KK yang merupakan saudara kandung. SMT membunuh anak kandungnya itu awalnya diketahui oleh pihak RSUD Nganjuk saat dibawa sang suami berobat. Saat pemeriksaan di RSUD, dokter melihat ada kejanggalan dengan ditemukannya ari-ari pada perut tersangka.

Pelaku menyembunyikan bayi perempuan yang dilahirkan nya dibawah kolong tempat tidur. Bayi dengan berat 2,870 gram dan panjang 53 centimeter ditmukan dalam kondisi ada tali plastik warna putih di leher dan dimasukkan dalam tas kain warna coklat.

Saat ini wanita yang mengaku hanya sebagai ibu rumah tangga ini terancam hukuman 15 tahun penjara. Diduga motif ekonomi menjadi alasan pembunuhan bayi tidak berdosa tersebut. 

sumber: detik.com

Editor: sella.