HETANEWS

Keluarga Korban Desak Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan MS

Kondisi korban MS (74) yang mengalami luka di kepalanya.

Tobasa, hetanews.com-Keluarga MS (74), kakek yang menjadi korban penganiayaan, karena memprotes limbah cafe yang mengalir ke rumahnya, mendesak pihak Polres Tobasa untuk segera menangkap para pelaku, yaitu, RS, mantan anggota DPRD Toba Samosir, bersama HS dan CS.

Kami mendesak polisi, dalam hal ini Polres Tobasa untuk menangkap para pelaku. Jangan terksan tebang pilih. Ini sudah mau dua minggu kasusnya. Buktikan, bahwa polisi itu promoter atau profesional, modern dan terpercaya seperti diharapkan bapak Kapolri, kata Batara Sirait, salah seorang anak MS, kepada wartawan, di Ajibata.

Menurut Batara, penganiayaan yang dilakukan oleh para pelaku ini sudah sangat keterlaluan dan melukai rasa keadilan, apalagi terjadi di depan banyak orang, bahkan di depan Camat Ajibata Tigor Sirait yang hanya menonton saja, tanpa mau melerai. Ketika orangtua dilukai sampai berdarah-darah, ungkapnya.

Ada banyak saksi. Hukum harus tegak, harus adil, tak perduli, apakah pelakunya mantan pejabat, orang hebat atau apa. Integritas polisi tidak bisa bisa dibeli dengan uang, sambung Batara, mengingatkan massa akan berhadapan dengan Polda Tobasa, jika bersikap tidak adil.

Dia juga mempertanyakan mengapa polisi terkesan lambat bergerak dalam kasus ini. Bahkan membiarkan logika hukum diputar balik dengan  justru membidik PS,  menantu dari korban MS, dengan ancaman tindak pidana pengancaman.

“Ini kan aneh, bukannya menangkap pelaku RS, HS dan CS, malah membiarkan menantu PS, dituduh mengancam pelaku. Lho logikanya kalau orang tuamu dianiaya, kalian pasti membela kan, bisa dengan kata-kata untuk mencegah penganiayaan lebih parah. Itu bukan pengancaman. Sekarang fokus saja ke pelaku, tangkap mereka, itu rakyat akan merasa diayomi oleh polisi, “ucapnya.

Sebagai warga negara, kata Batara, jika penegakan hukum ini tidak adil dan terkesan memihak kepada pelaku, maka pihaknya akan memperjuangkan keadilan , termasuk dengan mengadukan masalah ini ke Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kompolnas, Komnas HAM dan lainnya.

Surat tanda bukti penyerahan barang yang dikeluarkan oleh Mapolsek Lumban Julu.

Sebelumnya, kakek MS, dianiaya di rumahnya, di jalan Justin Sirait No 12, Kelurahan Parsaoran, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) pada Selasa (30/7/2019) lau, sekitar pukul 17.45 WIB.

Penganiayaan itu, bermula karena sang kakek menegur limbah dari cafe milik para pelaku yang mengotori pekarangan rumah RS.

Limbah cafe itu sudah berulangkali dilaporkan, termasuk ke camat, namun tidak direspon cepat. Debat sempat juga terjadi antara MS  dengan boru Panjaitan, ibu dari RS, terkait status tanah tempat Cafe Naborsahan itu.  RS, HS dan CS kemudian mendatangi  rumah dan sekaligus warung milik RS yang lokasinya bersebelahan, membuat keributan, merusak perlengkapan yang ada di warung korban seperti membalikkan meja, mengeroyok korban, sehingga pelanggan yang saat itu sedang makan di warung korban kaget dan berhamburan keluar.

Sejumlah saksi melihat di situ juga ada Camat Ajibata, Tigor Sirait, tapi hanya menonton saja tanpa mau melerai. Seharusnya, camat cepat merespon pengaduan masyarakat soal limbah sampah dari cafe itu, dan mendegah terjadinya aksi kekerasan.

Korban MS yang mengalami luka robek di kepala bagian belakang sebelah kiri, sehingga harus dilarikan ke UGD Parapat guna melakukan perawatan medis. Tak terima dengan perlakuan ini, keesokan harinya, Rabu (31/7/2019), pukul 10.00 WIB, korban bersama keluarga mendatangi Mapolsek Lumbanjulu untuk melakukan pelaporan, dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) No. 16/VII/2019.

Dalam perkara ini, pihak Polsek Lumban Julu sudah menerima laporan beserta barang bukti, berupa satu buah kursi plastik warna hijau, satu potong jaket lengan panjang warna abu-abu yang ada bercak darah yang disaksikan oleh S Sinukaban, R Sidabutar, dan Manurung, selaku anggota Poksek Lumban Julu, pada hari Kamis (1/8/2019) lalu, yang diterima IMSidabutar, selaku Penyidik Pembantu.

MS sendiri kepada wartawan mengatakan, masih trauma dengan kejadian itu. Dia tidak menyangka dikeroyok, yang hingga kini masih sesak nafas, suka pening, kepala luka-luka, dan merasa terancam jiwanya.

Saya berharap kepada pihak Kepolisian agar pelaku pengeroyokan dan penganiayaan yang saya alami agar secepatnya ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku di NKRI, tanpa memandang status siapa dia, harapnya.

Penulis: stm. Editor: gun.