HETANEWS

Polri Optimis Dapat Ungkap Kasus Penyiraman Novel Baswedan

Rilis Hasil Investigasi Kasus Novel Baswedan.

Jakarta, hetanews.com - Tim teknis pemburu pelaku penyerangan terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan masih terus bekerja. Kasus penyiraman air keras ini sendiri terjadi pada 11 April 2017 lalu yang menyebabkan kerusakan parah pada matanya, sehingga Novel sempat menjalani perawatan di Singapura.

Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, Polri tak akan pesimis dalam mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Terlebih, untuk melihat pelaku dari Closed Circuit Television (CCTV) dan sketsa wajah.

"Kita sedang bekerja, tidak boleh pesimis, harus coba lagi, strategi lagi, kita optimis," kata Iqbal di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/8).

Selain itu, Iqbal mengaku, dalam mengungkap kasus ini Polri tak henti-henti untuk mengeksplor Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa para saksi. Karena TKP tersebut hal yang penting untuk menemukan barang bukti.

"Terus juga kita akan mendalami kembali pendalaman CCTV, karena CCTV itu merupakan hal yang sangat penting kali ini karena tim teknisnya lengkap konprehensip, dari semua personel terbaik point yang harus kita dalami selain saksi, CCTV gitukan," jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga telah bekerjasama dengan Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Dukcapil) dan tim Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) yang menggunakan peralatan canggih.

"Dari CCTV itu kita petakan, sketsa wajah yang sudah pernah diekspolore kepada masyarakat, masyarakat juga kita akan kembali analisa, dan dukcapil karena orang-orang yang saya kira identik terdekat, ini yang kita elaborasikan," ungkapnya.

Mantan Wakapolda Jawa Timur ini menegaskan, Polri akan kembali meminta bantuan terhadap Kepolisian Australia. Hal itu untuk melakukan pemeriksaan CCTV yang merekam saat kejadian tersebut.

"(CCTV enggak jelas) Itu tadi kita perbaikin, nanti kalau misalkan perlu pendalaman lagi, bisa saja kita akan kembali meminta bantuan dari Kepolisian Australia. Intinya pendalaman kembali kepada TKP, CCTV, sketsa wajah dan kerjasama," tegasnya.

Ia mengaku, akan mengungkap kasus ini dengan cepat dan bahkan selesai sebelum waktu yang diberikan oleh Presiden Joko Widodo, yakni tiga bulan. Karena, tim teknis saat ini, diklaim sebagai tim yang terbaik.

"Bukan hanya CCTV, nanti banyak langkah awal ini yang kita kerjakan. Tim ini kan tim terbaik, jadi akan mengembangkan dari subtim-subtim yang lain. Kalau ditanya kepada saya sebagai juru bicara, tim ini tidak berkata pesimis, kita optimis akan ungkap. (Sesuai target Presiden) Kalau kita secepatnya sesegera mungkin, itulah prinsipnya," pungkasnya. 

sumber: merdeka.com

Editor: sella.