HETANEWS

Kriminolog UI: Mentolerir Keadaan Dapat Hindarkan Seseorang dari Aksi Kejahatan

Mintarsih A. Latief, Kriminolog Universitas Indonesi (UI). (Foto /Int)

Siantar, hetanews.com - Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Minggu (28/7/2019), lalu, pihak Polsek Siantar Barat, mengamankan dua pelaku penjambretan, yang mana satu pelaku masih di bawah umur yakni, JS (17), dan rekannya, Rendy Silaban (21). Kedua merampas handphone (HP) milik korban, Helgi (16).

Aksi kedua pelaku ini terbilang nekat. Kedua pelaku menuding korban telah memukuli teman mereka. Selain itu, kedua pelaku membawa korban ke Jalan MH Sitorus, persisnya di depan Rumah Dinas Wali Kota Siantar, pada Kamis (25/7/2019) sore, dan langsung menggeledah hingga membawa kabur HP Vivo Y 53, milik korban.

Kanit Reskrim Polsek Siantar, Ipda Jhon Purba membenarkan, pihaknya tidak menahan salah satu pelaku perampasan lantaran masih dibawah umur. Namun tetap dilakukan pemeriksaan, katanya.

"JS (17) tidak ditahan karena di bawah umur, rekannya Rendy dilakukan penahanan," ujarnya ketika dikonfirmasi.

Terpisah, melihat banyaknya kasus kejahatan seperti penjambretan, perampasan hingga perampokan yang terjadi di Indonesi, maupun Kota Siantar, mendat tanggapan dari Kriminolog Universitas Indonesia (UI), Mintarsih A. Latief.

Menurut Mintarsih A. Latief, pelaku kejahatan (kriminal) di masa lalunya, ada mengalami permasalahan.

"Jadi orang itu (pelaku kejahatan) ada masalah pada lingkungan, situasi dan ada masalah keluarga," ujarnya saat dihubungi awak media Hetanews.com, Rabu (31/7/2019).

Disebutkan Mintarsih A. Latief, pelaku kejahatan memiliki kepribadian yang menyimpang. Nah, sekarang dan seandainya orang itu memiliki kepribaadian yang kuat sekali, maka dia tidak akan melakukan apa-apa, sekaligus betul-betul berjuang meski kehidupannya pas-pasan.

Kalau sebaliknya, orang yang memiliki kepribadian yang cenderung lemah dan kehidupannya di bawah rata-rata menengah, maka saat kekurangan dia akan melakukan apapun dan lebih cepat mengambil tindakan yang kurang baik, seperti melakukan penjambretan dan kejahatan lainnya, ujarnya.

"Aksi kejahatan juga bisa muncul dari faktor lingkungan. Kalau kepribadiannya lebih cendrungke ke sikopat atau betul-betul kepribadian yang lebih baik sekali dan itu berbeda reaksinya. Jadi kekurangan uang, orang yang awal mulanya biasa-biasa saja bisa melakukan aksi kekahatan," ungkap Mintarsih A. Latief, Kriminolog UI.

Selain itu, Mintarsih A. Latief menyampaikan, ada beberapa faktor yang membuat seseorang melakukan kejahatan, yakni, untuk diri sendiri, bahkan untuk menghidupi keluarganya.

"Ada beberapa macam yang dilakukan seseorang untuk melakukan kejahatan, seperti demi keluarga dan demi anak serta menghidupi keluarganya," ujarnya.

Selain menyampaikan faktor timbulnya niat seseorang melakukan aksi kejahatan, Mintarsih A. Latief juga sampaikan himbauannya kepada orang tua, agar anak-anak terhindar dari aksi kejahatan jalanan.

"Orang tua diharuskan lebih dapat mentolerir kedaan pada dirinya dan situasi yang berbeda. Kekurangan-kekurangan bisa ditolerir lagi dan harus siap menerimanya," himbaunya.

Terkait mentolerir keadaan, Mintarsih A. Latief menjelaskan, semisal di rumah makanan tidak seenak dulu. Minta uang tidak senak dulu. Maka hal itu lah yang harus ditolerir.

"Kalau tidak mentolerir keadaan dan penghasilan kurang, kan menjadi masalah.Tapi kalau mentolerir, masalahnya besar terasa tidak besar. Dan sikap orang tua. Karena kesusahan timbul masalah itu jangan dilemparkan kepada anak," pungkasnya.

Penulis: hza. Editor: gun.