HETANEWS

Tragis, Bayi 7 Bulan Tergantung di Puing-Puing Bangunan yang Hancur di Suriah

Seorang bayi tujuh bulan di Idlib, Suriah, tergantung di puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan jet tempur. Ayah dan saudara-saudaranya mencoba menolong. (foto/SY24 )

Suriah, hetanews.com - Sebuah foto memilukan menunjukkan dampak parah dari perang Suriah. Dalam foto itu tampak seorang bayi perempuan berusia tujuh bulan tergantung di puing bangunan yang hancur akibat serangan jet tempur.

Bayi malang dengan wajah berdarah itu bernama Tuqa. Bayi itu nyaris jatuh dari tumpukan puing di ketinggian dan bertahan hanya karena pakaiannya tersangkut puing.

Kakaknya yang masih kecil, yang juga dalam kondisi tertimpa puing bangunan, mencoba mempertahankan adik mereka agar tidak jatuh dari ketinggian.

Anak-anak kecil itu dicoba ditolong ayah mereka yang ketakutan dengan memanjat reruntuhan bangunan rumah. Keluarga di Idlib itu merupakan korban dari serangan jet tempur pada Rabu (24/7/2019) yang diduga diluncurkan oleh pasukan pasukan Presiden Bashar Al Assad dan sekutunya, Rusia.

Ayah yang mencoba menjangkau putri-putri ciliknya itu bernama Amjad Al Abdullah. Wajah Amjad Al Abdullah sangat ketakutan ketika bayi Tuqa terlihat tergantung di puing bangunan.

Idlib merupakan benteng pertahanan terakhir kelompok pemberontak Suriah yang akan direbut pasukan Assad.

Menurut Save the Children, banyak anak tewas akibat konflik dalam empat minggu terakhir di wilayah tersebut. Badan amal itu menyatakan setidaknya 33 anak dikonfirmasi tewas sejak 24 Juni 2019.

Abdullah dilaporkan tidak bisa menjangkau putri-putrinya. Namun, menurut pekerja rumah sakit Suriah, bayi Tuqa secara ajaib selamat. Namun, saudara perempuannya yang berusia lima tahun, Riham, meninggal.

Ibu mereka, Asmaa, juga meninggal. Sedangkan dua kakak Tuqa yang lainnya terluka parah, salah satunya masih dalam kondisi kritis.

Foto menyayat hati itu adalah bidikan fotografer Bashar al Sheikh, asal Kafr Nabudah. Dia adalah jurnalis foto pertama yang tiba di tempat kejadian setelah serangan jet tempur.

"Ada debu di mana-mana, di udara, dan orang-orang berteriak minta tolong. Saya bisa melihat anak-anak kecil saling berpelukan," kata Sheikh, yang berbicara dari Idlib kepada The Independent, Jumat (26/7/2019).

"Ayah itu berteriak; Jangan bergerak! Jangan bergerak!"

"Anak yang lebih tua masih berpegangan pada bayi itu. Kami membawa mereka ke rumah sakit Al Shami, tetapi mereka kehabisan persediaan darah dan harus membawa mereka ke rumah sakit Idlib," lanjut Sheikh.

"Saya tinggal bersama anak-anak, berdoa agar mereka selamat," imbuh fotografer Suriah itu.

Sonia Khush, direktur respons Save the Children's Suriah, menggambarkan situasi di Idlib seperti mimpi buruk. "Cedera yang kami saksikan sangat mengerikan. Jelas sekali lagi anak-anak terbunuh dan terluka dalam serangan tanpa pandang bulu," katanya.

"Anak-anak barat laut Suriah terjebak dalam konflik kekerasan selama 80 hari tanpa jeda. Mereka tak bisa mengakses pendidikan, makanan, perawatan kesehatan dan dipaksa tidur di bawah pohon di ladang terbuka selama berbulan-bulan sekarang," papar Khush.

Tentara Suriah, yang didukung oleh Rusia, melancarkan serangan pada akhir April yang bertujuan merebut kembali jalan-jalan utama dan rute perdagangan di sekitar Idlib dan Hama utara.

Area yang diincar itu dipandang pemerintah Suriah penting untuk mempertahankan kontrolnya di utara negara tersebut.

Kelompok pemberontak yang masih berkuasa di Idlib adalah Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang masih berhubungan dengan Al Qaeda Suriah. Kelompok itu diklasifikasikan sebagai kelompok teroris oleh PBB.

sumber: inews.id

Editor: sella.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.