HETANEWS

Polisi Datangi Sekolah, Cari Korban Lain Pelecehan Seksual Pembina Pramuka

Pembina Pramuka Cabuli 15 Orang Siswa di Surabaya

Surabaya, hetanews.com - Polisi mendalami kasus dugaan pelecehan seksual terhadap 15 siswa yang dilakukan seorang pembina pramuka di Surabaya. Polisi bergerak cepat mengidentifikasi korban lain. Salah satunya dengan cara mendatangi sekolah-sekolah yang menjadi tempat mengajar tersangka.

Kasubdit IV Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Festo Ari Permana mengatakan, kedatangannya ke sekolah-sekolah itu, bertujuan menelusuri ada tidaknya korban lain.

"Kita datang ke sekolah bersama dengan psikolog, psikiater, dan lembaga swadaya masyarakat yang concern (perhatian) dengan anak-anak," ujarnya, Rabu (24/7).

Dia mengatakan, pendekatan yang dilakukan polisi dalam mencari korban berbeda. Secara teknis polisi bersama dengan psikolog dan LSM, melakukan pendekatan terhadap anak-anak yang diidentifikasi sebagai korban.

"Teknisnya kita tidak seperti mencari orang, tapi melakukan pendekatan, ajak ngobrol, didampingi psikolog," katanya.

Langkah ini dilakukan karena polisi mendeteksi adanya korban-korban lain selain dari 15 anak yang sudah teridentifikasi.

"Ya kita mengidentifikasi ada (korban lain). Untuk itu, kita datangi sekolah-sekolah tempat tersangka membina pramuka," tegasnya.

Sebelumnya, Rahmat Santoso Slamet, seorang pembina pramuka diduga mencabuli anak didiknya di Surabaya. Ia diketahui telah melakukan aksi cabul ini pada siswa laki-laki sejak pertengahan 2016 lalu hingga terakhir pada 13 Juli 2019.

Setidaknya, ada 15 murid yang telah menjadi korbannya. 3 diantaranya, telah melapor ke polisi. Tersangka Rahmat sendiri, mengaku menjadi pembina pramuka sejak 2015 lalu.

Modusnya, tersangka mewajibkan pada korban yang mengikuti seleksi grup pramuka inti bernama 'minion', di rumah tersangka, di Jl. Kupang Segunting, Kec. Tegalsari, Surabaya.

Agar dapat mendekati para korbannya, tersangka selalu meminta pada para kader pramuka laki-laki yang berumur antara 14 hingga 16 tahun, bertandang ke rumahnya untuk mengikuti tes khusus. Tes khusus ini lah yang pada akhirnya menjadi modus tersangka untuk melakukan pencabulan pada para korban. 

sumber : suara.com

Editor: sella.