HETANEWS

Pengacara yang Pukul Hakim Pakai Ikat Pinggang Terancam Dipecat dari Peradi

Pengacara yang Pukul Hakim Pakai Ikat Pinggang Terancam Dipecat dari Peradi

Jakarta, hetanews.com - Desrizal Chaniago, pengacara Tommy Winata, dalam sidang perdata beberapa waktu lalu terancam sanksi pemecatan dari Perhimpunan Advokat Indonesia atau Peradi.

Wakil Sekjen Peradi, Rivai Kusumanegara, mengatakan ada empat sanksi yang kerap dijatuhkan kepada para pengacara yang melanggar kode etik sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat.

"Sanksinya ada empat, biasanya teguran, ada teguran ringan, dan sedang. Kemudian pemberhentian sementara atau skorsing, dan terakhir bisa saja pemecatan," kata Rivai di Kator Peradi, Slipi, Jakarta Barat, Selasa (23/7).

Rivai mengatakan, Komisi Pengawas atau Komwas Peradi tengah menggelar rapat internal membahas tingkat pelanggaran Desrizal. Nantinya, hasil rapat akan diteruskan ke Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi untuk tindak lanjut.

Baca juga: Fakta-Fakta Kasus Pengacara Nekat Pukuli Hakim Pakai Ikat Pinggang

"Jadi untuk Pak Desrizal, komisi pengawas kami masih rapat ya," lanjut Rivai.

Komwas Peradi, lanjut Rivai, telah bekerja sejak hari pertama insiden terjadi. Saat itu, sambung Rivai, ada juga anggota Peradi yang ada di PN Jakarta Pusat dan melihat langsung kejadian terkait.

"Komwas Peradi tengah mengumpulkan data-data diperlukan, tapi memang karena SOP kami pembahasan tidak terbuka untuk umum," beber Rivai.

Diketahui, Desrizal Chaniago melakukan kekerasan terhadap dua hakim ketika putusan sidang perdata dengan penggugat Tomi Winata melawan PT Geria Wijaya Prestige, 18 Juli 2019. Belum usai hakim membacakan putusan, tetiba Desrizal bangkit dari bangkunya sembari menyerang hakim dengan gesper hingga menyebabkan kedua hakim tersebut terluka.

Pengamanan di ruang sidang dikerahkan guna menyetop tindakan Desrizal. Sehari kemudian, otoritas PN Jakarta Pusat pun melaporkan tindakan Desrizal ke pihak berwajib. Hingga hari ini Desrizal telah ditahan Polres Metro Jakarta Pusat guna penyidikan motif terkait. 

sumber: merdeka.com

Editor: sella.