HETANEWS

Albiner: Kami Tinggal Berdampingan dengan Tower Selama 13 Tahun

Lokasi tower di Jalan Bah Biak, Kelurahan Sigulang gulang, Kecamatan Siantar Utara

Siantar, hetanews.com - Warga mulai mengeluhkan dampak  sebuah tower yang berdiri selama 13 tahun di pemukiman penduduk di Jalan Bah Biak, Kelurahan Sigulang-gulang, Kecamatan Siantar Utara. 

Tower itu berdiri berdampingan diantara rumah rumah penduk. Termasuk rumah Albiner Manurung. Lokasi rumahnya berada didalam radius bangunan tower lebih dari 40 Meter tesebut.

Kata Albiner, tower itu dibangun tahun 2006. Sebelum dibangun pernah terjadi pro dan kontra ditengah-tengah masyarakat. Namun pembangunan berhasil dilakukan.

"Sebelum dibangun pun ini, memang sudah ada pro dan kontra. Ada warga yang menolak. Yang menolak itu kami," ungkapnya, Jumat (19/7/2019).

Menurut dia, selama berdirinya tower itu telah merugikan warga setempat. Alasannya ialah kenyamanan warga yang bermukim disekitar tower. Itu sewaktu waktu menghantui mereka.

"Kalau hujan, petir dan angin kencang datang, disitu kita merasa takut. Kita khawatir kalau tower ini tumbang dan terkena sama rumah rumah warga disini," pungkasnya.

Dampak lain yang dirasakan warga selain itu, kata dia adalah radiasi yang diduga bersumber dari tower. Radiasi diyakini berpotensi mengakibatkan barang barang elektronik mereka rentan rusak.

Warga menempelkan spanduk dipagar pembatas tower yang berada di Jalan Bah Biak, Kota Pematangsiantar.

"Selama ini yang saya rasakan, misalnya lampu dirumah ku sering putus. Semakin banyak komponen diatas tower itu semakin tinggi radiasinya. Itu lah logikanya. Jadi makin bahaya," ucapnya.

Ia menampik jika dampak radiasi tower dapat mengakibatkan gangguan kesehatan bagi warga yang terdampak radiasi. Meski itu mulai dikeluhkan secara tidak langung oleh warga.

"Kalau dampak kesehatan akibat radiasi itu gak boleh ku sebutkan. Karena yang menyatakan itu seharusnya pihak berkompeten, seperti Dinas Kesehatan.

Kalau pun ada warga yang merasa kek gitu mungkin sebaiknya dinyatakan oleh pihak kesehatan lah. Biar bisa dibuktikan secara ilmiah," kata pria lulusan enginering ini.

Menurutnya, dampak berdirinya tower selama belasan tahun di pemukiman mereka tidak memberi manfaat apapun. Malah sebaliknya, perusahaan yang mendapat keuntungan.

"Selama 13 tahun tower ini berdiri perusahaan dapat profit. Sementara selama ini kami menderita. Kalau kami sebut bahasa 'tertindas' itu lah yang kami rasakan sekarang," kata, Ketua Serikat Tolong Menolong (STM) ini.

Warga setempat, kata Albiner, akan menuntut supaya tower itu dibongkar dan dipindahkan. Alasannya, penempatan tower dipemukiman warga perlu ditinjau ulang izin bangunannya.

Hal itu, jelas dia,  merupakan permintaan warga secara spontanitas mengingat dampak yang mereka rasakan selama ini.

"Satu tahun ini tower ini status quo. Warga tutup rumah rapat rapat. Tidak upaya lobby lagi. Kami mau itu ditutup. Kalau ada terjadi persoalan dilapangan itu bukan kehendak kami, kami mau itu dibongkar," tandasnya.

Penulis: gee. Editor: edo.