HETANEWS

Separuh Musim MotoGP 2019: Rossi Meredup, Vinales Mulai Bersinar

Maverick Vinales dan Valentino Rossi. (ist)

Jerman, hetanews.com - Valentino Rossi mengawali musim dengan cukup positif, kontras dengan Maverick Vinales yang start dengan tak oke. Tapi situasi berbalik jelang jeda tengah musim.

Rossi dan Vinales, dua rider Monster Energy yang mana tim pabrikan Yamaha, musim ini punya momentumnya masing-masing. Rossi memulai musim dengan relatif baik.

Ia finis kelima di Qatar, lalu mendapatkan podium kedua di dua seri berikutnya, Argentina dan Amerika Serikat. Di periode yang sama, Vinales memetik hasil ketujuh di Qatar, lalu gagal finis di Argentina, dan finis ke-11 di AS.

Vinales kemudian sempat finis ketiga di sirkuit Jerez, Spanyol, tapi kemudian gagal finis lagi di Prancis, dan finis keenam di Italia. Sementara Rossi mulai keteteran: finis keenam dan kelima di Spanyol dan Prancis, lalu tiga seri beruntun tak menuntaskan balapan.

Tiga seri itu antara lain Italia, Catalunya, dan Belanda. Nah, sementara Rossi tak mendapatkan poin-poin, Vinales malah menemukan racikan yang membuatnya lebih nyaman di atas YZR-M1.

Ia memang crash di Catalunya, tapi lajunya saat itu menjanjikan sampai kemudian terjatuh karena terseret motor Jorge Lorenzo yang melakukan kesalahan. Buktinya Vinales bisa mengonfirmasi kecepatannya di dua seri berikutnya, Belanda dan Jerman, di mana berhasil jadi juara dan runner-up.

Sebaliknya, Rossi turut mengonfirmasi kesulitan yang dihadapinya ketika ia finis di posisi delapan pada seri Jerman. Meski dengan itu berarti berakhir pula puasa poinnya sejak MotoGP Italia, tapi Rossi kecewa dengan catatannya di sana, apalagi posisi finisnya terbantu dengan jatuhnya dua pebalap: Alex Rins dan Fabio Quartararo.

Rossi dihadapkan pada kenyataan bahwa motornya lebih lambat sampai 20 detik dari musim lalu. Tahun ini catatan waktunya usai balapan di Sachsenring adalah 41 menit 27,386 detik, sementara tahun lalu adalah 41 menit 7,215 detik.

Maka Rossi dan timnya pun memasuki libur tengah musim dengan segudang pekerjaan rumah: menelaah data-data terkait penurunan signifikan di Sachsenring, lalu bagaimana membuat motornya lebih kompetitif lagi. Ia bahkan kini sudah disalip oleh Vinales di klasemen kejuaraan dunia.

Rossi sementara menghuni posisi enam dengan 80 poin, lima poin di belakang Vinales. Tapi bagaimanapun PR terbesar ditanggung Yamaha. Sebab sampai musim ketiga menduetkan Rossi dan Vinales mereka belum berhasil memberikan motor yang kompetitif untuk persaingan gelar.

Jangankan untuk keduanya, bahkan untuk salah satu dari Rossi atau Vinales masih belum bisa bersaing dengan Marc Marquez dari Repsol Honda. Coba kita tengok.

Di 2017, Vinales cukup menjanjikan di paruh awal musim, meraih tiga kemenangan, sekali runner-up, tapi dua kali gagal finis, dan tiga seri lainnya berakhir di posisi 6, 10, dan 4. Rossi? Sekali juara, dua kali runner-up, sekali finis ketiga di periode itu, serta sekali gagal finis dan sisanya adalah finis di posisi 10, 4, 8, dan 5.

Di paruh kedua, tak satupun dari mereka bisa menjuarai seri dan total hanya mengoleksi lima finis podium (2x runner-up, 3x finis ketiga). Vinales dan Rossi menutup musim di urutan 3 dan 5 klasemen, mengoleksi 230 dan 208 poin. Marquez yang tangguh di paruh kedua menjadi juara dunia dengan 298 poin.

Pada musim 2018, Rossi dan Vinales malah hanya menyumbangkan satu kemenangan sepanjang tahun untuk Yamaha. Rossi mentok jadi runner-up dan itu cuma sekali, lalu mencatatkan empat kali finis ketiga. Sedangkan Vinales sekali juara, sekali jadi runner-up, dan tiga kali finis ketiga.

Mereka menempati posisi 3-4 di klasemen akhir, mengumpulkan 198 dan 193 poin. Koleksi poin itu jauh dari kepunyaan Marquez: 321 poin!

Nah, kebangkitan Vinales belakangan ini boleh jadi mengantarkan Yamaha ke titik penentuan. Haruskah mulai saat ini mereka fokus memaksimalkan potensi Vinales dan mengorbankan Rossi?

Sebagai catatan, Repsol Honda sudah selalu melakukannya dan berhasil mengantarkan Marquez juara dunia sejak 2013. Honda bahkan dengan tegas takkan mengubah drastis RC213V untuk Jorge Lorenzo, selama Marquez masih juara.

sumber: detik.com

Editor: sella.