HETANEWS

Kisah Heroik di Balik Sarung Tangan Hitam Bang Jack, 11 Peluru Saat Baku Tembak dengan Tersangka

Aiptu Jakaria atau akrab disapa Bang Jack di ruangannya di gedung Jatanras, Ditreskrimum Polda Metro Jaya

Jakarta, hetanews.com - Bang Jack adalah salah satu polisi nyentrik yang dikenal publik. Rambutnya panjang dan pirang. Sepintas, gayanya tak terlihat seperti polisi. Nama aslinya adalah Jakaria.

Polisi berpangkat aiptu itu kini tergabung sebagai anggota Subdit Jatanras, Ditreskrimum, Polda Metro Jaya. Saat Kompas.com bertemu Bang Jack di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Sabtu (6/7/2019), mata langsung tertuju pada sarung tangan hitam yang menutupi tangan kirinya.

Bagi orang awam, sarung tangan itu mungkin tampak seperti aksesori.

Namun, sarung tangan itu sangat penting bagi aktivitas Bang Jack. Ada kisah heroik di dalamnya. Bang Jack bercerita, sarung tangan hitam itu mulai digunakan pada 2006.

Saat itu, tiga peluru yang bersarang di tangan kirinya tidak dapat dikeluarkan. Proyektil peluru telah hancur dan menyatu dengan tulang pada bagian tangan kiri.

Sebelumnya, ia terlibat baku tembak dengan perampok di wilayah Bandung, Jawa Barat. Tersangka merampok mesin ATM senilai Rp 2,8 miliar di Cawang, Jakarta Timur.

Saat terjadi baku tembak, Bang Jack terkena 11 peluru yang ditembakkan pelaku. Delapan peluru dapat dikeluarkan.

"Saat menangkap tersangka, kami terlibat baku tembak. Gue kena 11 peluru di bagian dada daerah jantung ada dua, bagian hati ada satu, perut sebelah kiri ada dua, perut sebelah kanan ada dua juga, di atas perut ada satu, dan tiga peluru di lengan bagian kiri," kata Bang Jack.

"Tiga peluru di bagian lengan enggak bisa diangkat karena sudah hancur dan menyatu dengan tulang. Tangan gue harus diamputasi, tapi gue menolak. Alhamdulillah sampai sekarang gue masih bisa hidup dan tangan gue masih bisa digerakkan," lanjutnya.

Bang Jack harus memakai sarung tangan hitam itu agar pergelangan tangan kirinya dapat digerakkan. Ada besi di sarung tangan tersebut.

"Saraf (di tangan kiri) gue sudah enggak beres. Jadi (sarung tangan) ini terbuat dari besi. Tujuan gue memakai sarung tangan ini agar tangan gue masih bisa gerak dan enggak gampang terluka saat berantem untuk menangkap penjahat," ujar Bang Jack.

Pria yang menjadi polisi sejak 1995 itu mengaku pernah menjalani pengobatan untuk menyembuhkan tangannya.

Ia pernah berobat di salah satu rumah sakit di Singapura hingga konsultasi dengan dokter pribadi presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, hasilnya tetap tak memuaskan.

"Makanya mau dibawa ke mana pun, hasilnya tetap sama. Gue pernah dibawa ke rumah sakit di Singapura, bertemu dokter pribadi Bapak SBY, hasilnya pun sama. Akhirnya gue hanya bisa pasrah dan menerima takdir," katanya.

Bang Jack sadar setiap pekerjaan mempunyai risiko positif ataupun negatif.

Meski menerima risiko negatif, ia tetap bersyukur masih dapat hidup tanpa harus mengamputasi tangannya.

"Kami sebagai polisi tentu sudah menjadi risiko tugas sebagai anggota lapangan kalau tertembak. Gue hanya percaya sama Tuhan. Hidup ini hanya titipan. Yang terpenting adalah gue tetap berdoa dan menjalankan tugas gue dengan baik," kata Bang Jack.

 

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.