HETANEWS

Warga Ini Terpaksa Konsumsi Air dari Kubangan Saat Musim Kering

Biner bersama istri dan anaknya, ketika berada di kolam kubangan air yang mereka buat dulunya untuk kebutuhan air minum dan menyunci piring. (Foto/STM)

Samosir, hetanews.com - Sepertinya warga Dusun 1 Huta Sigaol/Dolok Mauli, Desa Dosroha, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, belum juga merasakan kehidupan yang layak.

Dusun yang dihuni sekitar 30 KK ini, sangat merindukan sentuhan pemerintah, khususnya sarana air bersih dan prasarana jalan yang baik. 

Pasalnya, warga harus mengambil air sejauh 2 KM ke tepian Danau Toba, di daerah Desa Situngkir, dengan menggunakan sepeda motor dan setiap harinya mengangkat 2 jeregan air, jika kubangan kolam air yang ada di dusunnya kering.

Pantauan Hetanews.com, Minggu (7/7/2019), pukul 13.00 WIB, tampak seorang pria dibantu anaknya, mengangkat air ke dalam mobil untuk dibawa ke rumahnya, yang berada di daerah pertebingan kaki gunung, di Desa Dosroha, Kecamatan Simanindo. Ketepatan, pada saat itu, ada mobil milik keluarga mereka, sehiingga dimanfaatkan mengambil air sebanyak 12 jeregen.

Begitu juga istri pria ini juga harus  menyuci pakaian sekali seminggu ke perairan Danau Toba, akibat minimnya sarana air yang akan mereka gunakan.

Biner Lumbangaol, ketika dikonfirmasi Hetanews.com, Minggu (7/7/2019) mengatakan, sebelumnya program pembangunan  kecamatan tahun 2001 (bak penampungan air) dengan panjang  3,43 meter, lebar 2,45 meter, dan tinggi 2 meter, tidak bisa difungsikan oleh warga, ketika selesai dibangun. Hal itu diakibatkan lantai bak ini bocor yang sampai sekarang tidak diperbaiki.

Biner Lumbangaol ketika mengambila air dari perairan Danau Toba untuk kebutuhan sehari - hari demi kebutuhan rumah tangganya. (Foto/STM)

Bak ini tadiya dibangun untuk kebutuhan air sehari - hari bagi warga yang ada di sini sebanyak 7 KK, ujarnya.

Lanjut Biner Lumbangaol, bahwa pengerjaan bak air saat itu pagunya sekitar Rp. 8.000.000, namun dia tidak tau sumber dananya dari mana.

“Tak jarang kami juga pak, mengambil air dari kubangan yang ada di kampug kita. Ini kita buat dengan kedalaman 1 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 2,5 metera. Jarak kolam kubangan air dari rumah saya sejauh 100 meter lebih kurang. Air itu saya  gunakan buat mandi, nyuci piring dan bahkan air minum kami pergunakan,”tuturnya.

“Sama halnya juga pak, di Dusun 1 ini, lama sudah jalan yang masuk ke dusun ini dilalukan pengerasan mulai tahun 2009, dan juga tidak ada tindaklanjut atau perhatian dari pemerintah desa maupun kabupaten,”unagkapnya.

Kami berharap, agar prasarana air bersih di desa maupun di dusun  dibangun, karena kebutuhan air paling utama untuk kebutuhan sehari – hari. Begitu juga sarana jalan yang sudah 9 tahun tidak diperhatikan agar secepatnyalah diperhatikan dan diaspal, agar hasil panen pertanian kami, bisa kami jual, jika ada toke yang datang kemari maupun kami sendiri yang menjualnya ke Pasar Pangururan, ujarnya berharap.

Penulis: stm. Editor: gun.