HETANEWS

Rahmat Eko, Anak Buruh Bangunan Lepas Asal Batam Diterima di Fakultas Teknik UGM

Rahmat Eko Saputro berhasil diterima di Fakultas Teknik UGM Yogyakarta lewat jalur Bidikmis

Batam, hetanews.com - Man jadda wa jada. Barang siapa bersungguh-sungguh akan menemui kesuksesan. Pepatah Arab itu sepertinya melecut Rahmat Eko Saputro (18) untuk terus belajar agar bisa meraih kesuksesan. 

Ya, keterbatasan ekonomi orang tua tidak menyurutkan niat Rakhmat Eko untuk bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. 

Anak buruh bangunan itu bertekad melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Tekad tersebut ternyata dikabulkan Tuhan. Rahmat bahkan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) ternama di Indonesia, yakni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Rahmat diterima di program studi (Prodi) Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM melalui jalur Bidikmisi. Putra sulung pasangan Amnidi (53) dan Ermida (46) ini terpilih untuk mendapatkan beasiswa dari masuk sampai nantinya lulus tanpa dipungut biaya.

“Orang tua saya hanya buruh bangunan, tetapi saya tidak pernah minder. Justru saya bangga bapak yang hanya buruh bisa menyekolahkan anaknya sampai di UGM,” kata Rahmat Eko ditemui di Kampus UGM.

Rahmat menuturkan, sejak kecil dia ingin bisa kuliah. Namun kondisi keuangan keluarganya yang serba kekurangan sedikit membuat kecut tekadnya. Rahmat pun berusaha belajar keras agar bisa mendapatkan prestasi di sekolah. 

Kerja keras Rahmat akhirnya membuahkan hasil dan selalu meraih pestasi dan bewasiswa hingga bisa diterima di UGM lewat jalur SNMPTN Undangan dan mengajukan beasiswa Bidikmisi. “Kalau kita sungguh-sungguh, pasti ada jalan,” ujar alumni SMA 1 Batam ini.    
Prestasi yang diraih Rahmat Eko membuat kedua orang tuanya bangga. Mereka pun hampir tak percaya anaknya bisa diterima di UGM. 

Rumah orang tua Rahmat Eko Saputro di Batam terlihat sangat sederhana. 

Menurut Amnidi, menyekolahkan anak hingga jenjang perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah di tengah keterbatasan ekonomi yang melilit keluarganya. 

Sebagai buruh bangunan lepas, pendapatan per bulan tidak lebih dari Rp3 juta untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dua anaknya. “Kerjaan tidak tentu, tergantung proyek. Kalau lagi kosong ya di rumah saja,” ujarnya.  

Amnidi merupakan buruh bangunan lepas dan hanya lulusan SMP. Rumah mereka di Kampung Ace Batam juga pernah roboh dihantam banjir. Amnidi kemudian membangun kembali rumah sederhana berukuran 10x10 meter di tempat pengungsian.

Amnidi mengaku pernah bekerja tanpa mendapatkan upah. Saat pekerjaan selesai, mandor proyek kabur. Dia juga pernah menganggur selama dua bulan, padahal anak keduanya akan masuk SMP. 

Sedangkan istrinya, Ermida bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di Singapura di sebuah rumah makan. “Istri sedang di Singapura, dua minggu di sana bantu kerja di restoran,” katanya.

Namun Allah memberikan jalan dengan keberhasilan Rahmat Eko berhasil meraih juara pertama tingkat Provinsi Kepulauan Riau dalam Olimpiade Astronomi 2018 dan mewakili tingkat nasional. Prestasi itu membawa kebanggaan bagi keluarga dan daerahnya.  
“Menang lomba Eko dapat uang saku dan itu digunakannya untuk membantu membiayai keperluan adiknya masuk SMP,” ujarnya.

Menurut Amnidi, Rahmat Eko selalu berprestasi di sekolah. Sejak SD, sulung dari dua bersaudara itu selalu ranking 1, dan selalu masuk tiga besar sejak di SMP dan SMA. 

Rahmat Eko juga pernah meraih sejumlah prestasi, mulai dari juara 3 Porseni puisi tingkat Kota Batam 2015, juara 1 debat agama Islam tingkat Provinsi Kepulauan Riau 2018, juara 3 nasional dalam kompetisi riset di ITB 2018, dan juara 1 Olimpiade Astronomi tingkat Kepulauan Riau 2018.

“Dia (Rahmat Eko) nanti akan numpang di rumah bibinya. Saya minta dia belajar yang benar. Tidak perlu pulang sebelum berhasil,” ucapnya.
 

sumber: inews.id

Editor: sella.