HETANEWS

Menipu Nasabah Rp1,2 Milyar Lebih, Pensiunan Pegawai BNI Terseret Hukum

Terdakwa Rahmad keluar dari ruang sidang, dan tampak disambut keluarga. (foto/ms)

Siantar, hetanews.com - Rahmad (56), warga jalan Kelapa Kuning 11 B, Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat, didakwa sebagai penipu yang mengakibatkan 2 nasabah  BNI mengalami kerugian hingga Rp1,2 milyar lebih.

Agenda persidangan mendengarkan tanggapan (eksepsi) dari penasehat hukum terdakwa, di ruang sidang Candra PN Siantar, Rabu (26/6/2019).

Menurut penasehat hukum, atas kasus tersebut, pelakunya sudah dihukum (Agus Surya Dharma). Sebelumnya dalam perkara Agus, lebih dari 7 nasabah BNI yang ditipu, tidak termasuk 2 korban yang melaporkan terdakwa Rahmad.

Dari dua korban, Hotma Rumasi Lumban Toruan dan Albums Siagian, Rahmad mengumpulkan uang Rp.1.250.000.000., yang disetorkan kepada Agus, selaku manager Koperasi Swadharma.

Kasus ini, sempat mencuat di Bank BNI, jalan Merdeka Siantar karena bukan hanya beberapa korban, tapi puluhan nasabah BNI yang tertipu oleh koperasi Swadharma.

Sesuai dakwaan, jaksa Lynce Jernih Margaretha SH, sekitar tahun 2013 hingga 2016, terdakwa Rahmad sebagai karyawan/pegawai BNI dengan bujuk rayu berhasil mempengaruhi kedua korban untuk memindahkan uangnya dari rekening BNI ke Koperasi Swadharma. Dengan menjanjikan di koperasi tersebut, lebih banyak bunganya, karena koperasi milik BNI dan punya pemerintah.

Padahal, sebagai karyawan BNI, tidak boleh menyarankan nasabah BNI untuk menarik uangnya dan memindahkan ke koperasi. Apalagi, terdakwa tahu jika koperasi tersebut, bukanlah milik pemerintah.

Kejadian berawal saat saksi Hotma dan Albine, mendatangi CS untuk memindahkan uangnya dari rekening ke deposito.

Rahmad mendatangi kedua terdakwa dan mengatakan, jika deposito bunganya rendah. Lebih baik simpan di Koperasi Swadharma.

Saksi korban pun percaya dan tergiur dengan sejumlah keuntungan yang ditawarkan Rahmad. Lalu menyerahkan uang Rp.200 juta dengan perjanjian kontrak yang ditandatangani Agus. Juga bukti kwitansi tanda terima uang dari korban kepada Rahmad.

Namun terdakwa Rahmad tidak pernah mempertemukan saksi dengan manager koperasi (Agus). Rahmad selalu memberi alasan, jika manager sedang rapat dengan pimpinan BNI, sehingga korban percaya saja.

Atas perbuatannya, terdakwa dijerat Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan pasal 378 (primer) dan dakwaan kedua melanggar pasal 372 KUH Pidana. Sidang lanjutan masih mendengar tanggapan jaksa atas eksepsi tim pengacara.

Untuk itu, majelis hakim, Danar Dono SH, Simon CP Sitorus SH dan M Iqbal Purba SH, menunda persidangan satu Minggu. Persidangan dibantu panitera, Willyanto Sitorus SH akan dibuka kembali pada Senin mendatang.

Penulis: ms. Editor: gun.
Komentar 1