HETANEWS

Perjuangan Sang Istri Agar Suami Dapat Dikuburkan Secara Gereja

Merry Lam Tota Simamora saat memperlihatkan dokumen-dokumen yang dia lakukan dalam mengungkap kasus kematian suaminya.(Foto/Tom)

Siantar, hetanews.com - Tanggal 3 Agustus 2017 lalu menjadi hari yang paling menyakitkan bagi Merry Lam Tota Simamora, dinihari sekitar Pukul 01.00 Wib, ditanggal 3 Agustus tersebut dirinya mendapat kabar jika lelaki yang sangat ia cintai Robinson Rayner Sibuea harus terlebih dahulu menghadap sang pencipta.

Hati Merry semakin hancur mana kala mendengar kabar jika suaminya tersebut menghadap sang pencipta secara tidak wajar yaitu bunuh diri, dalam perjalanannya untuk melihat jenazah suaminya tersebut tak henti-hentinya Merry bertanya-tanya kenapa hal tersebur terjadi.

Seingat Merry dirinya tidak punya konflik rumah tangga, memang dia mengakui jika ekonomi keluarga mereka sedang tidak baik, namun mereka merasa hal tersebut tidak menjadi batu sandungan dalam bahtera rumah tangga mereka.

Merry menyebutkan di tanggal 2 Agustus 2017, dirinya sepakat dengan suaminya untuk meminjam uang kepada keluarga dari Suaminya di Simpang III, Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Samosir, sebesar Rp 15 Juta.

"Dia (Sumi Merry) berangkat dari Siantar bersama dua orang anak ku, anak ke-2 sama anak ke-3,"ceritanya.

Namun tanpa disangka hari itu adalah hari terakhir Merry melihat Suaminya, sekitar Pukul 01.00 Wib, Merry mendapat telepon jika sang suami sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

" Aku sampai disana sekitar Pukul 03.00 Wib, dan suami aku sudah diberesin,"katanya.

Sesampainya disana Merrypun bertanya-tanya kenapa lelaki yang ia cintai tersebut pergi meninggalkan dirinya dan 3 orang buah hati mereka, bagai disambar petir Merry mendapatkan informasi bahwa Suaminya meninggal akibat menggantungkan diri.

Namun setelah melihat jasad sang suami, Merry melihat ada kejanggalan, dimana wajah tepatnya di Dahi, Bibir, dan rahang suaminya ada bekas jahitan.

"Kalau orang gantung dirikan lidahnya menjulur, tapi aku lihat ini tidak, terus bekas tali dileher tidak diatas tenggorokan, aku menduga dia di bunuh," sebutnya.

Namun Merry tidak kuasa menahan desakan dari keluarga untuk membuat surat pernyataan jika jenazah sang suami tidak perlu dilakukan otopsi pada tanggal 6 Agustus 2017.

Namun hati Merry merasa tidak tenang, akhirnya pada tanggal 7 September 2017 membuat surat pernyataan untuk mencabut surat pernyataannya di tanggal 6 Agustus kemarin, dan akhirnya dilakukan otopsi.

Hasil otopsi yang dilakukan juga tak membuat hati Merry merasa puas, sebab dia melihat ada kejanggalan dari hasil otopsi tersebut.

"Masak dibuat disitu kalau luka di dahinya itu karena bekas suntikan formalin, setahu aku tidak pernah formalin disuntikan dikepala," katanya.

Tak puas Merrypun akhirnya mengadukan hal tersebut kepada Poldasu.

"4 kali SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan), tapi di surat SP2HP ke 4 itu ada disebutkan kalau proses penyidikan berhenti, tapi engga bentuk SP3," katanya.

Baca juga: Kematian Suaminya Mencurigakan PNS Siantar Datangi Poldasu

Tak puas Merrypun melaporkan kejadian yang ia alami itupun kepada Ombudsman dan DPRD Sumut.

"Aku juga mau ke Jakarta untuk melaporkan ini, karena aku sangat kuat menduga kalau dia dibunuh," katanya.

Penasaran kemudian wartawan menanyakan mengapa Merry begitu ingin mengungkapkan kasus kematian suaminya tersebut, dengan nada terseduh dan mata mengeluarkan air mata, Merry menyebutkan dia hanya ingin Suaminya dikuburkan secara Kristen melalui sekte HKBP.

"Sedih kali ku rasa waktu acara dikebumikannya suami ku, tak ada Pendeta yang datang mendoakan, aku pengen mendengar kalimat Pendeta yang bilang "Sian Tano Mulak Tu Tano" (Dari tanah kembali ke tanah),"harapnya.

Merry juga menyebutkan jika dirinya merasa sangat bersalah jika tidak mengungkap apa yang sebenarnya menimpa suami tercintanya tersebut.

"kalaupun nanti benar yang aku duga,Aku tidak ambil pusing mau dihukum berapa lama si pelaku, yang aku ingin agar suamiku dikebumikan secara Kristen melalui sekte HKBP," katanya.

Penulis: tom. Editor: tom.