HETANEWS

Cerita Kurir dan Akal Licik Bandar Narkoba

Tanjungbalai, hetanews.com - Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional yang jatuh pada tanggal 26 Juni, seharusnya menjadi momentum masyarakat untuk menyadari betapa bahayanya penyalahgunaan Narkoba ini.

Menurut catatan, di Indonesia saja terdapat kira-kira  50 orang yang meninggal dunia setiap hari karena penyalahgunaan narkoba.

Dengan kata lain, apabila dikalkulasikan dalam setahun, ada sekitar 18.000 jiwa meninggal dunia karena penggunaan narkoba.

Narkoba ini merusak masa depan dan penghancur generasi bangsa, siapa yang terjebak didalamnya menjadi terbuai oleh halusinasi yang dihasilkan efek dari penggunaan narkoba.

Kali ini yang akan kita kupas adalah praktek peredaran narkoba dan akal licik dari sang bandar narkoba ini.

Hetanews melakukan wawancara dengan seorang mantan Kurir Narkoba jaringan Internasional Malaysia - Indonesia.

Sebut saja namanya Nanda,  yang telah berkecimpung dalam peredaran narkoba ini selama sepuluh tahunan.

Nanda menyebut, bahwa akibat Narkoba ini membuat manusia menjadi rusak, baik akal sehatnya maupun ekonominya.

Nanda pernah bekerja dengan beberapa orang bandar sabu di Tanjungbalai. Menurutnya, sabu- sabu yang masuk ke Tanjungbalai, Sumut dilakukan dengan berbagai cara.

Ada yang langsung dibawa oleh sang kurir dari Malaysia dengan menggunakan perahu/sampan kecil dan mendarat di tangkahan tikus yang banyak terdapat di sepanjang perairan Indonesia.

Dan yang kedua, penyelundupannya dengan cara  ransaksi/barter di tengah laut.

"Kurir yang dari Malaysia akan berjumpa dengan kurir di Indonesia di wilayah perbatasan Indonesia - Malaysia, “ucapnya.

Uang hasil dari menjadi kurir memang menjanjikan.  Bayangkan saja, apabila sang kurir dapat menghantar sabu kepada pemesan,  upah yang dijanjikan kisaran Rp 25 juta - Rp 40 juta/kilogramnya.

Namun perlu diingat, otak sang bandar narkoba ini kebanyakannya licik dan sadis. Sang bandar ini rela kehilangan sabu- sabu nya untuk melenyapkan kurir- kurirnya.

"Jahatnya mereka ini,  saat kita ( kurir)  akan menghantar sabu yang diperintahkan untuk pemesan atau pembeli,  disitulah sang bandar mengkibuskan/memberitahukan kepada pihak berwajib keberadaan kurir dan akhirnya kurir tertangkap dengan barang bukti di tangan,"ucap Nanda.

Selalu yang menjadi korban kibus ini adalah kurir yang tidak disenangi oleh sang bandar (Bos) .

Dengan kata lain, kurir ini sudah terlalu banyak mengetahui rahasia kegiatan haram bosnya. Selain pernah menipu bosnya dalam berkerja, baik tentang penghantaran sabu maupun hasil penjualan sabu.

"Selalu kurir ini suka mematah ( istilah dalam peredaran narkoba),  yang artinya mengurasi jumlah sabu dan menipu hasil penjualan sabu,"ucapnya.

Nanda mengatakan,  banyak teman- temannya yang telah masuk penjara, karena dikibuskan bos mereka.

Kini Nanda telah berhenti menjadi kurir Narkoba, karena telah sadar dan sekarang dirinya lebih mementingkan keluarganya.

Dirinya berpesan kepada anggota sindikat Narkoba dan pemakai untuk insaf dan sadar, serta kembali kejalan yang benar.

"Sayangilah diri kita dan Keluarga kita,  tidak ada gunanya Narkoba ini,"ucap Nanda.

Narkoba ini juga sangat merusak orang yang memakainya. Karena sabu yang sudah sampai ke Indonesia ini tidak murni atau dengan kata lain sudah dicampur dengan bahan lain, seperti pupuk urea, kaca dan natrium sulfat.

Hasil wawancara Hetanews.com, beberapa waktu lalu kepada Kasubdid  Labfor Narkoba Mabes Polri Cabang Medan, AKBP Zulni Erna, bahwa Narkoba ini menyebabkan kecanduan yang dapat menurunkan kesadaran pemakainya, dehidrasi yang berlebihan, dan kerusakan sel otak.

Selain itu, dapat merusak tatanan kehidupan berkeluarga dan sosial, meningkatkan risiko berbagai penyakit, bahkan hingga mengakibatkan kematian.

Dia mencontohkan, Narkoba jenis sabu yang datang dari negara asal (misalnya Myammar) dikemas dalam bungkusan, namun setelah sampai ke Indonesia dan dijual kepada pengguna itu, menurut AKBP Zulni Erna, biasanya  sudah  tidak murni lagi.

Hal ini dikarenakan, di sini berlaku teori ekonomi, tidak mungkin dari sang  bandar itu kalau 1 kg  itu akan jadi 1 kg juga.  Biasanya, mereka akan closed (campur) bahan - bahan lain yang masyarakat umum tidak mengetahuinya.

Justru bahaya itu dari bahan oplosan itu. Mereka menambahkan dengan bahan kimia lain seperti  tawas, pupuk urea atau bahan kimia lain, seperti natrium sulfat dan  itu yang berbahaya yang masyarakat kan tidak mengetahui hal tersebut, ucapnya.

Penulis: ferry. Editor: gun.