HETANEWS

Astaga..! Wali Kota dan Kadis PUPR Siantar Dilaporkan ke Polres

Ketua DPC Himapsi Kota Siantar, Jonli Simarmata saat diwawancarai di Mapolres Siantar, Rabu (19/6/2019). (foto/hza)

Siantar, hetanews.com - Mapolres Siantar kedatangan tamu dari Dewan Pimpanan Cabang (DPC) Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun (Himapsi), Rabu (19/6/2019) sore.

Kedatangan Himapsi, guna melaporkan Wali Kota Siantar, Hefriansyah dan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Siantar, Jhonson Tambunan.

Ketua DPC Himapsi Kota Siantar, Jonli Simarmata yang ditemui, di Mapolres menyampaikan, ada dua laporan yang mereka layangkan, yakni menyangkut mangkraknya pembangunan Tugu Raja Sangnaualuh dan dugaan penistaan suku Simalungun.

Sementara Kadis PUPR, Jhonson Tambunan, dilaporkan dengan atas tuduhan dugaan tindak pidana korupsi.

Saat sebelum melayangkan laporan ke Polres Siantar, Jonli Simarmata dan beberapa anggota Himapsi, terlebih dahulu mengitari dan longmarch di Jalan Sutomo, dengan pakaian adat Simalungun.

"Menurut kami, memakai pakian adat saat longmarch di Jalan Sutomo, karena sakral," ujar Jonli saat diwawancarai.

Terkait laporan yang dilayangkannya, Jonli menyampaikan, dugaan tindak pidana korupsi menjelaskan, kalau anggaran pembangunan tugu mencapai Rp3 miliar.

"Hanya saja, ada 6 Desember 2018, pembangunan tugu diberhentikan. Alasannya, ada kelompok yang tidak setuju jika tugu dibangun di Lapangan H Adam Malik," ujarnya kembali.

Dikatakan Jonli, pembangunan tugu yang di Lapangan H Adam Malik telah mencapai 51,17 persen dan juga sudah menghabiskan anggaran sebesar Rp913.829.702,67.

"Pembangunannya mangkrak sampai sekarang. Anggaran sudah habis untuk itu. Jadi, ada dugaan korupsi di sana. Dalam kasus ini, Hefriansyah dan Jhonson bisa dijerat dengan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi," jalas Jonli.

Terpisah, terkait kasus dugaan  penistaan suku, Hefriansyah dirasa Himapsi yang melayangkan laporan seperti bermain-main dengan pembangunan tugu Raja Simalungun.

"Tindakan Hefriansyah yang sesuka hati memindahkan lokasi pembangunan. Yang awalnya tugu akan dibangun di Lapangan Merdeka atau Taman Bunga. Pemindahan lokasi pembangunan tugu suka-suka. Padahal, yang dibangun ini tugu raja. Seharusnya ini sakral. Bukan bermain-main," tegas Jonli.

Sebelum meninggalkan Polres Siantar, Jonli kembali menyampaikan dan apa yang dilakukan Hefriansyah sudah bertentangan dengan UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

"Dengan adanya laporan itu, kita berharap, polisi dapat segera mengambil tindakan.Kalau ini terbukti, Hefriansyah harus segera ditangkap dan ditahan," tegasnya.

Sementara itu, Kanit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Siantar, Ipda DS Sihombing saat dikonfirmasi mengatakan, adik-adik dari Himapsi yang datang tadi dan mereka hanya melayangkan pengaduan masyarakat (Dumas) kepada Kapolres, AKBP Heribertus Ompusunggu.

"Bukan melapor. Hanya melayangkan dumas kepada bapak Kapolres," ujarnya singkat.

Penulis: hza. Editor: gun.