HETANEWS

Halte di Kota Siantar Jauh dari Standar

Halte yang dibangun di depan Gapura Lapangan Adam Malik Siantar, tidak beratap atau memiliki kursi bagi calon penumpang. Selain itu halte dibarengi rambu lalu lintas dilarang berhenti. (foto/gee)

Siantar, hetanews.com -  Berdasarkan pedoman teknis perekayasaan tempat pemberhentian kendaraan penumpang umum Departemen Perhubungan Dirjen Hubungan Darat, dibagi kedalam dua jenis, yaitu halte dan Tempat Pemberhentian Bus (TPB).

Tidak jarang ditemukan fasilitas umum, seperti halte di Kota Siantar, masih jauh dari standart. Misalnya banyak halte tidak memiliki fasilitas berupa kursi, penerangan dan atap.

Halte tersebut didirikan di atas trotoar jalan yang tersebar, di beberapa tempat di wilayah Kota Siantar. Karena fasilitasnya kurang memadai, tak jarang para calon penumpang bus enggan menggunakan halte itu.

Halte yang dibangun di depan Gapura Lapangan Adam Malik Siantar, tidak beratap atau memiliki kursi bagi calon penumpang. Selain itu halte dibarengi rambu lalu lintas dilarang berhenti. (foto/gee)

Salah satu halte yang paling 'mencolok', ditemui di Jalan Sudirman, percis di depan gapura Lapangan Adam Malik Siantar. Di tempat itu, halte bus didirikan berbarengan dengan rambu tanda dilarang berhenti bagi kendaraan.

Padahal, ditempat itu, kerap ditemui bus yang berhenti melaju untuk menaikkan atau menurunkan penumpang.

Dikutip dari penjelasan pedoman teknis rekayasa tempat pemberhentian kendaraan penumpang umum Bab I (satu) dijelaskan, halte adalah tempat pemberhentian kendaraan penumpang untuk menurunkan dan atau menaikkan penumpang yang dilengkapi bangunan.

Kemudian Bab II (Dua) dijelaskan, bahwa fasilitas tempat pemberhentian kendaraan penumpang umum (TPKPU) memiliki fasilitas diantaranya, nama malte,  rambu petunjuk, papan informasi, lampu penerangan dan tempat duduk.

Penulis: gee. Editor: gun.