HETANEWS

Terjadi Lagi, Video Pengeroyokan yang Dilakukan oleh Senior kepada Juniornya di SMK Pelayaran

Kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. (ist)

Flores, hetanews.com - Kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi. Kali ini viral sebuah video yang memperlihatkan seorang anak yang diduga dianiaya oleh kakak kelasnya.

Anak yang mengenakan kaus olahraga tersebut tak berdaya ketika dipukul oleh terduga pelaku.

Berkali-kali pipinya menjadi sasaran pukulan. Terduga pelaku juga sempat memukul dada korban.

Namun ia hanya diam dan tak berani melakukan apa-apa, bahkan tak kuasa untuk melarikan diri.

Terduga pelaku yang melakukan pemukulan tampak mengenakan seragam putih lengkap dengan atribut yang terkesan mirip militer.

Terduga pelaku tak sendirian melakukan aksi pemukulan tersebut.

Sementara beberapa orang lainnya yang merekam kejadian itu terdengar tertawa terbahak-bahak.

Hingga kini, belum diketahui pasti kejadian tersebut terjadi di mana.

Namun dari keterangan video yang diunggah di media sosial, lokasi kejadian tersebut berada di SMK Bina Maritim, Maumere, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Akun Twitter tersebut juga menandai akun Komisi Perlindungan Anak dan Kepolisian Republik Indonesia.

"Twitter, Please Do Your Magic! Praktek perploncoan masih terjadi. Lokasi: SMK Bina Maritim - Maumere," tulis akun yang namanya kami samarkan karena memuat video kekerasan.

Sementara itu, diberitakan jaringan Tribun di Pos-Kupang.com, kejadian penganiayaan tersebut adalah benar adanya.

Penganiayaan menimpa dua siswa kelas I SMK Pelayaran Bina Maritim Maumere di Pulau Flores.

Imbasnya, empat pelaku siswa kelas II segera dikeluarkan dari sekolah itu.

"Empat siswa itu kami keluarkan. Dua orang pelaku yang menganiaya korban, seorang yang membuata vidio dan seorang lagi yang memviralkan ke media sosial," kata Kepala SMK Pelayaran Bina Maritim Maumere, Minsri Sadipun, kepada wartawan Rabu (12/6/2019) di Maumere.

"Keputusan (keluarkan) mereka sudah final," imbuhnya.

Keempat siswa yang dikeluarkan yakni pelaku penganiayaan YROB dan RF, DLD merekam vidio dan AAN yang menguploap ke history WA. Korban siswa kelas I, EAN, dan SNI.

Minsri mengakui penganiayaan yang dividiokan dan diviralkan telah merusak nama baik sekolah.

Kejadian menjelang tahun ajaran baru bisa mempengaruhi minat peserta didik mendaftar.

Lanjur Minsri, penganiayaan bukan motode pembinaan karakter, pendidikan dan pengajaran di sekolah yang dipimpinya.

Hingga usia 20 tahun sekolah ini, demikian Minsri, penganiayaan yang dividiokan divirilkan merupakan kejadian pertama menimpanya.

Ditegaskan Minsri, penganiayaan itu berlangsung di luar jam sekolah dan di luar lingkungan sekolah.

Lokasi tepatnya di samping warung sebelah utara sekolah di Jalan Moan Subu Sadipun.

"Ujian sekolah sudah selesai. Pagi itu (Senin,10/6/2019, mereka hanya datang datang ikuti pengumuman jadwal pembagian rapor direncanakan, Jumat (14/6/2019)," ujar Minsri.

Hingga berita ini diturunkan empat pelaku, dua korban bersama para orangtua mereka berada di Polsek Nelle, Desa Nelle Urung, 3 Km sebelah selatan Kota Maumere.

Orang tua siswa korban menuntut proses hukum kepada pelaku.


 

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.