HETANEWS

Sjamsul Nursalim: Pengusaha Ban yang Kini Jadi Tersangka Korupsi BLBI

Screenshoot CNBC Indonesia

Jakarta, hetanews.com - Nama Sjamsul Nursalim kembali jadi perbincangan. Pasalnya, KPK telah menetapkan bos PT Gajah Tunggal ini dan istrinya sebagai tersangka. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

"Setelah melakukan proses penyelidikan dan ditemukan bukti permulaan yang cukup, maka KPK membuka penyidikan baru, dugaan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan Syafruddin Arsyad Tumenggung, selaku Kepala BPPN dalam proses pemenuhan kewajiban pemegang saham BDNI selaku Obligor BLBI kepada BPPN dengan tersangka, yaitu SJN (Sjamsul Nursalim) sebagai pemegang saham pengendali BDNI dan ITN (Itjih Nursalim) swasta," ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang saat konferensi pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (10/6/2019).

Sjamsul Nursalim dan istri disangkakan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Saut mengatakan total kerugian negara yang dilakukan Sjamsul Nursalim dan istri mencapai Rp 4,58 triliun. KPK mengaku sudah menyelidiki keduanya sejak Agustus 2013. KPK mengatakan telah mengirim surat untuk penyidikan lebih lanjut, tapi keduanya tidak pernah datang untuk memenuhi panggilan KPK.

"KPK memberikan ruang terbuka yang cukup pada Sjamsul Nursalim dan istrinya untuk memberikan keterangan, informasi, bantahan, atau bukti-bukti lain secara adil dan proporsional. Akan tetapi, hal tersebut tidak dimanfaatkan oleh pihak Sjamsul Nursalim dan istri," katanya.

BLBI adalah skema pinjaman yang diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami masalah likuiditas pada saat krisis moneter 1998. Skema ini dilakukan berdasarkan perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi masalah krisis. Pada Desember 1998, BI menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Lantas, siapakah sebetulnya Sjamsul Nursalim? 

Sjamsul Nursalim merupakan keturunan Tionghoa yang terlahir dengan nama Liem Tjoen Ho. Ayahnya sendiri dikenal sebagai pedagang kopi dan lada pada tahun 1940-an di Lampung. Lantas, pada tahun 1951 ayahnya mendirikan pabrik pengolahan karet. 

Ternyata, bakat usaha sang ayah ini juga diwarisi Sjamsul. Pada tahun 1951, dia bergabung dengan NV Hok Thay Hin yang sudah berdiri sejak 1951. Inilah cikal bakal berdirinya PT Gajah Tunggal (GT). Menurut situs resmi PT GT, mulanya perusahaan ini bergerak di bidang manufaktur produksi ban sepeda. Namun, kemudian perusahaan ini berekspansi menjadi perusahaan ban yang memproduksi berbagai jenis ban luar dan ban dalam untuk kendaraan bermotor.

Bisnis yang Sjamsul ini sejalan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Pasalnya, lamban laun sudah banyak masyarakat Indonesia yang memiliki kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Alhasil, PT GT termasuk perusahaan yang memonopoli pasar ban di Indonesia. 

Tak puas hanya berbisnis di bidang industri ban, pada tahun 1980 Sjamsul kemudian berkecimpung di industri perbankan lewat PT Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI). Bank ini sendiri didirikan di Medan tahun 1945. Dari situ, BDNI langsung jadi kendaraan bisnis Sjamsul. BDNI menginvestasikan 20% sahamnya di PT Pama Ventura Indonesia, sebuah usaha patungan dengan The Industrial and Commercial Bank of Vietnam, yang berlokasi di Vietnam. Pada Juli 1995, BDNI mengambil alih 40% saham dari PT Bank Dewa Rutji.

Lantas, Sjamsul melebarkan sayapnya ke bisnis ritel gaya hidup kelas menengah melalui PT Mitra Adiperkasa (MAP) pada tahun 1995. Menurut situs resmi PT MAP, Perusahaan ini punya lebih dari 2300 retail di seluruh Indonesia dan memegang hak dagang dari Starbucks, Zara, Marks & Spencer, SOGO, SEIBU, Oshkosh B'Gosh, Reebok. Bahkan, majalah bisnis Forbes pernah melaporkan bahwa Sjamsul juga punya bisnis di bidang properti dan batubara. Sjamsul juga masuk dalam daftar orang kaya ke-36 di Indonesia versi majalah Forbes. Kekayaan bos Gajah Tunggal ini ditaksir mencapai USD 810 juta atau setara dengan Rp 11,5 trilliun. 

sumber: detik.com

Editor: sella.