HETANEWS

Pembangunan GOR Menuai Kritik: Dikhawatirkan Berdampak pada Kelangsungan Pasar Tradisional

Gedung GOR Kota Siantar

Siantar, hetanews.com-Gedung Olah Raga (GOR) Pematangsiantar semula bagian dari fasilitas umum yang berfungsi sebagai wadah masyarakat untuk melakukan kegiatan olahraga yang beroperasi sejak tahun 1976, lalu.

Dari tahun itu hingga saat ini, boleh dikatakan, GOR merupakan salah satu gedung tua peninggalan yang menjadi aset Kota Siantar.

Belum lama ini, Wali Kota Siantar, telah menandatangani perjanjian kontrak kerjasama untuk pembangunan GOR tersebut. Setelah adanya penandatangan kontrak tersebut, muncul kritikan bahkan penolakan.

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Pematangsiantar-Simalungun, menolak kebijakan yang telah diambil oleh Wali Kota Siantar.

Ketua GMKI, May Luther Dewanto mengatakan, ada beberapa alasan atas penolakan yang mereka suarakan.

Menurut Luther, dengan diubahnya GOR menjadi pusat perbelanjaan modern akan mematikan perekonomian para pedagang tradisional, di Kota Siantar.

Misalnya, kata dia, Pasar Horas, Pasar Dwikora dan Pasar Tozai yang kondisinya saat ini sepi pengunjung, akibat tergerus keberadaan pasar modern.

Baca juga: PT Suriatama Mahkota Kencana akan Bangun GOR Menjadi Gedung Merdeka

Dia juga khawatir, posisi lahan GOR yang sangat strategis di inti kota itu, dikhawatirkan akan menambah pesatnya moda transportasi.

"Selain itu, di dekat lokasi GOR  terdapat sekolah. Yang dikhawatirkan nanti segala aktivitas yang ada disekolah tersebut menjadi terganggu," pungkasnya, Senin (3/5/2019).

Pembangunan GOR dengan design mall itu, juga dikritik oleh Ketua Institute Law And Justice (ILAJ), Fawer Full Fander Sihite.

Menurut dia, dalam turunan UU Nomor 32 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah, pemanfaatan asset daerah harus mendapatkan persetujuan DPRD.

"Kepada pihak investor juga perlu lebih teliti memahami sistem investasi ini, karena pola bangun guna serah, sepengetahuan kami harus persetujuan DPRD," katanya.

Ia menganggap, kebijakan pembangunan GOR dengan pola BGS  itu, lebih menguntungkan investor dari pada masyarakat banyak atau kelangsungan masyarakat pedagang tradisional, di Kota Siantar.

"Pemerintah jangan berlindung dengan dalih tidak ada perubahan fungsi lahan. Karena dari sarana gedung olahraga menjadi mall atau tempat bisnis sudah pasti itu berubah fungsi lahan," katanya.

Lahan dan Gedung GOR Siantar seluas 8.442 meter per segi terletak di Jalan Merdeka Nomor 375, Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Siantar Timur, Kota Siantar.

Wali Kota, Hefriansyah bersama PT. Suritama Mahkota Kencana, telah menandatangani kontrak pembangunan GOR, dengan pola Bangun Guna Serah (BGS), di rumah dinas Wali Kota, pada Rabu kemarin.

Dari penandatangan kontrak perjanjian, pihak investor akan mendirikan bangunan baru bernama ”Gedung Merdeka” dengan properti gedung serbaguna berlantai-5 meliputi Basement, Bisnis Area, Mezanine dan Sport Center, dengan nilai investasinya Rp234.800.942.000.

Selanjutnya, sebagian dari gedung tersebut, diserahkan kepada Pemko Pematangsiantar. Sedangkan sebagian lagi didayagunakan oleh investor, dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati.

Nantinya, diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, setelah berakhirnya jangka waktu perjanjian. Jangka waktu kerjasama sama adalah 30 tahun, terhitung sejak penandatanganan perjanjian kontrak.

Penulis: gee. Editor: gun.
Komentar 1
  • CHARLES EKSON
    Zaman Terus Bergerak itu kata Takhesi Siraisi didalam Bukunya yang berjudul Zaman Bergerak.. Untuk Memories sebaiknya Kota Siantar Mengarsipkan Foto Kota, sehingga kedepan Warga Siantar masih dapat mengingat bagaimana dulunya wajah kota. Namun untuk Kemajuan Pembangunan GOR harus dilakukan. Tapi harus dilihat aspek Kebutuhannya. Kalau Pemerintah Kota memandang lebih perlu Membangun Pusat Bisnis daripada Fasilitas Olah Raga tentunya itu harus berlandaskan Penelitian. Dan Lembaga yang melakukan Penelitian harus Menyampaikan kepada Publik hasil Penelitiannya. Korelasi antara Pusat Perbelanjaan Modern dengan Hancurnya Pasar Tradisional tidak selamanya benar. Hengkangnya Hypermart dari Kota Siantar merujuk berita yang pernah beredar membuktikan bahwa Pasar Tradisional tidak terganggu dengan adanya Pusat Perbelanjaan Modern. Demikian juga dengan Sekolah, SMA N 1 Medan terletak persis disamping SUN PLAZA... Kenyataan SMAN 1 Medan adalah sekolah Favorit di Kota Medan. Oleh karenanya yang perlu kita sampaikan kepada Pemerintah Kota adalah Apa Landasan yang dipakai oleh Pemerintah Kota Siantar Merubah Peruntukan GOR... Majulah Siantar.. Majulah Kota Kelahiran Kita...