HETANEWS

Serangan Udara Rezim Suriah Tewaskan 7 Orang Warga Sipil di Idlib

Seorang pria menyelamatkan seorang anak sementara anggota White Helmets mencari korban selamat setelah serangan udara oleh pasukan rezim dan sekutu mereka di Maaret al-Noman, Provinsi barat daya Suriah, Idlib, pada 30 Mei 2019. (ist)

Suriah, hetanews.com - Pasukan rezim Presiden Bashar Al Assad menyerang kantong jihadis di barat laut Suriah, Kamis (30/5/2019). Serangan udara itu menyebabkan tujuh warga sipil tewas.

Suriah dan sekutunya, Rusia, membombardir Provinsi Idlib dan sekitarnya selama sebulan terakhir yang bertujuan menghentikan bencana kemanusiaan, kendati ada kesepakatan gencatan senjata.

Lembaga Observatorium HAM Suriah menyatakan, lebih dari 285 warga sipil tewas sejak akhir April di daerah kantong itu, yang menjadi tempat bermukim bagi hampir tiga juta orang.

"Laju serangan udara relatif menurun pada Kamis dibandingkan hari-hari sebelumnya," kata kepala lembaga, Rami Abdel Rahman, Jumat (31/5/2019).

Namun pengeboman masih terus terjadi dan menewaskan tujuh warga sipil, termasuk lima di Kota Maaret Al Numan di tepi barat wilayah yang dikuasai jihadis.

Seorang fotografer AFP melaporkan, serangan itu menghantam area perumahan, meruntuhkan sebuah bangunan, dan membunuh beberapa di dalamnya.

Tubuh seorang korban masih terlihat di tempat tidur ketika petugas penyelamat berjuang untuk menarik tubuhnya yang terperangkap di bawah puing-puing.

Provinsi Idlib dan beberapa wilayah sekitarnya sebagian besar dikendalikan oleh Hayat Tahrir Al Sham, sebuah kelompok yang didominasi oleh mantan anggota afiliasi Suriah Al-Qaeda.

PBB menyatakan, sekitar 270.000 orang terlantar akibat pertempuran sejak akhir April dan bahwa sejumlah badan-badan dipaksa untuk menghentikan kiriman bantuan di beberapa daerah.

Menurut PBB, sekitar 30 fasilitas kesehatan dan sekolah juga hancur.

Rusia dan pendukung pemberontak Turki menjadi perantara perjanjian gencatan senjata pada September untuk mencegah serangan pemerintah yang dikhawatirkan dapat memicu bencana kemanusiaan terburuk dalam perang delapan tahun.

Kemarin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui telepon. Dia menyerukan agar gencatan senjata dihormati.

"Penting untuk menerapkan gencatan senjata tanpa penundaan agar fokus sekali lagi untuk menemukan solusi politik dalam konflik Suriah," demikian pernyataan Erdogan.

"(Erdogan) juga menekankan kebutuhan untuk mencegah lebih banyak nyawa yang hilang dalam serangan rezim yang terutama menargetkan warga sipil, dan menghilangkan risiko yang meningkat dari gelombang imigran yang menuju perbatasan Turki."

Konflik di Suriah menewaskan lebih dari 370.000 orang sejak dimulai pada 2011.

sumber: inews.id

Editor: sella.