HETANEWS

Dituding Mengotak-atik Meteran, Pelanggan PLN di Pakkat Meradang

Kantor PLN Doloksanggul. (Foto/Rachmat Tinton)

Humbahas, hetanews.com - Mochtar Naibaho, anak pelanggan PLN, benama Rusli Siagian, warga Dusun Sidulang, Desa Aek Sopang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), kembali menyampaikan kekesalannya, lantaran meteran, di rumah orang tuanya,  dituding sudah diotak-atik.

Ia menilai, adanya perubahan pada meteran listrik, di rumah orang tuanya adalah kesalahan pihak PLN.

Masyarakat sebagai pelanggan, kata Mochtar, tak mengetahui dan tak paham akan listrik. Sehingga setiap perubahan bentuk atau kerusakan didalam meteran tersebut, bukanlah ranah pelanggan.

"Jika ada perubahan yang kemudian diklaim sebagai kerusakan dan mengakibatkan angka meter jadi mundur, kenapa mereka membebani orang tua saya? Meteran itu kan dipasang sendiri oleh mereka (PLN), tidak pernah kami otak-atik meteran itu", ujar Mochtar kepada hetanews.com, Jumat (24/5/2019).

Ditambahkannya, meteran di rumah orang tuanya memang sudah pernah diganti. Namun ia menegaskan, yang mengganti adalah petugas dari PLN sendiri, yakni B Silitonga. Dan petugas itu sendiri yang 'menghilangkan' sekring di dalam rumah.

"Intinya, aku dan keluarga yang lain ga pernah berani menyentuh segala yang berhubungan dengan meteran. Kami takut,"ujarnya lagi.

"Kalau mereka (PLN) menuding kami mengotak-atik meteran itu, silahkan  saja mereka lapor polisi. Itu kan perbuatan melanggar hukum. Makanya kami dari dulu tak melakukannya (mengotak-atik)", sambungnya.

Yang membuat janggal, sambung Mochtar, saat petugas memutus sambungan listrik, PLN sempat meminta Rp 6 Juta yang diklaim sebagai denda pada Selasa (14/5/2019), lalu.

Namun belakangan, Mochtar dan keluarga membujuk supaya biaya itu dikurangi. Hasilnya, saat menyambung kembali, biaya yang diminta hanya Rp 4.080.000,- .

"Berarti mereka sempat mau membodoh-bodohi kami. Hitungan dari mana itu biar bisa berkurang sampai Rp2 Juta. Kalau mereka transparan dan profesional, biaya yang mereka sebutkan sebelumnya tidak akan bertambah atau berkurang", katanya.

Dan paling aneh, masih menurut Mochtar, petugas  PLN dari Kecamatan Pakkat pernah mengaku mengetahui keganjilan meteran itu sejak dari Oktober 2018, lalu. Namun entah kenapa, tindakan yang objektif dari PLN pada saat itu tak kunjung ada.

"Petugas dari PLN Pakkat juga mengatakan uda tau itu (kerusakan meteran) dari bulan sepuluh 2018 kemarin. Namun lucunya, saya pernah membayar tagihan hampir Rp 600 ribu untuk 2 bulan. Kalau ga salah itu untuk bulan November dan Desember 2018,"tukasnya.

Sementara itu, Manager PLN Doloksanggul, Holmes Hutapea, saat dikonfirmasi terkait hal itu menegaskan, kalau pemutusan di lapangan sudah berdasarkan Perdir nomor 088.2.P/DIR/2016 tentang P2TL (Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik). Pemutusan dilakukan karena adanya pengawatan yang terbalik antara terminal 1 dan terminal 2. Hal itu mempengaruhi kWh meter menjadi mundur. Akibatnya, angka meter akan menjadi mundur atau berkurang.

Ketika ditanya siapa kira-kira oknum yang melakukan itu, Holmes tak menyebut secara spesifik.  "Yang jelas itu temuan kita di lapangan.  Sehingga dilaksanakanlah pemutusan,"katanya.

Penulis: rachmat. Editor: gun.