HETANEWS

Tinggal di Gubuk Selama 6 Tahun, Ponimin Berharap Hunian Layak dari Pemerintah

Kondisi Gubuk Ponimin, di persawahan Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. (foto/gee)

Simalungun, hetanews.com - Ponimin (54), bersama keluarganya, tinggal di sebuah gubuk darurat, di pertengahan sawah, di Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun.

Ponimin, bersama istrinya, Endang Suryani (40), hanya bisa pasrah menjalani hari-hari dengan tinggal di sebuah gubuk darurat. Dengan keadaan ekonomi yang sulit, keluarga Ponimin, dibantu oleh salah seorang warga yang juga pemilik persawahan.

Ponimin dipinjamkan sepetak tanah, di area persawahan untuk dijadikan tempat tinggal. Dari situ, Ponimin mendirikan sebuah gubuk darurat untuk tempat tinggal keluarganya.

Lokasi gubuk tersebut terletak di hamparan sawah yang jauh dari pemukiman penduduk. Di tempat itu, Ponimin dan istrinya Endang, bersama 3 orang anaknya serta mertuannya, bermukim selama 6 tahun.

"Tanah ini (tempat gubuk) yang juga pemilik sawah ini bermarga Purba. Kami diizinkan tinggal sementara disini," kata Ponimin, Senin (20/5/2019).

Kondisi Gubuk Ponimin, di persawahan Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. (foto/gee)

Gubuk seadaanya yang kini dihuni Ponimin bersama keluarganya, benar-benar jauh dari layak. Terkadang Ponimin merasa sedih bila hujan deras melanda. Ia pun harus siaga agar air hujan tidak merembes masuk malui atap (seng bekas) dan celah celah dinding papan rumahnya.

Apalagi, ia juga khawatir, jika tiang gubuk rumahnya yang terbuat dari kayu itu sudah lapuk, yang sewaktu waktu dapat roboh. Mengantisipasi itu, Ponimin menutup sebagian dingding rumahnya dengan tenda plastik.

Di gubuk itu, Keluarga Ponimin tidur diatas lantai tanah dengan kasur tipis. Jika malam tiba, mereka menghidupkan lampu yang menggunakan bahan bakar minyak tanah. Hunian darurat ini pun tak dilengkapi kamar mandi dan WC.

"Untuk penerangan pakai lampu yang dari botol dibuat minyak tanah itu. Minyak tanah dibei lima ribu sudah bisa untuk kebutuhan  dua hari," ungkapnya.

Ponimin selama ini hanya bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehari- hari ia mengumpulkan barang bekas, ikut mengambil pasir dan menjaga sawah.

Keluarga Ponimin, yang tinggal di gubuk darurat, di persawahan Nagori Karang Bangun, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. (foto/gee)

Beban ekonomi yang dialami Ponimin cukup berat. Mengingat dia harus memikirkan biaya sekolah anak anaknya. Ia juga harus menafkahi istri 3 orang anak dan mertuanya.

Ponimin mengakui, dari jerih payah yang dia kerjakan selama satu hari, terkadang hanya berhasil membawa Rp.20 Ribu per harinya. Namun tak jarang ia tidak mendapatkan apa-apa.

"Paling saya dapat hanya dua puluh ribu,itu juga tidak menentukan dapatnya," ungkapnya.

Untuk kebutuhan beras sehari hari, Ponimin mendapat bantuan beras Bulog. Selain itu,  salah seorang anak yang duduk dibangku Kelas IV SD, mendapat bantuan sebesar Rp.405 Ribu dari pemerintah.

"Satu anak saya sudah tamat, dua pagi masih sekolah.Satu sekolah di Belawan dan satu lagi disini,"ucapnya.

Dengan himpitan ekonomi yang sangat sulit, Ponimin berharap pemerintah dapat memberi hunian yang layak. Sehingga ia dan keluarga mampu meraih kehidupan yang lebih baik kedepannya.

Penulis: gee. Editor: gun.