HETANEWS

Sungguh Memukau..! Tarian dan Busana Adat Istiadat Hingga Makanan Khas Simalungun Disajikan di Negeri Belanda

Dr Sarmedi Purba dan istri, dr Gertrud Poerba berfoto bersama dalam acara Simalungun DAG, di Gedung De SCHUTZE Home de Schutse, Merodelaan.Uithoorn, Belanda. (Istimewa)

Siantar, hetanews.com - Pegelaran budaya seni tari, pakaian adat istiadat hingga makanan khas suku Batak Simalungun, disajikan dalam acara hari memperingati pernikahan, yang berlangsung di Gedung Pertemuan de Schutze, Gereja Protestan Belanda, Uithorn.

Pegelaran Budaya Simalungun yang dipertunjukkan di depan pengunjung yang berasal dari suku Indonesia dan warga Belanda seperti, Tari Martinus, Tortor (Tari) Sombah, Menenun hingga musik yang dipresentasikan oleh Dahlan Saragih asal Kecamatan Sondiraya, Kabupaten Simalungun.

Acara yang digelar satu harian, pada 17 Mei 2019 itu, juga dihelat untuk mengenang hari pernikahan Caroline Purba dengan Arie Kist yang sudah enam tahun menikah.

Terlaksananya cara (pegelaran budaya seni tari, pakaian adat istiadat dan makanan khas suku Batak Simalungun) ini, berkat inisiatif dari Caroline Kist Purba yang menginjakkan kakinya selama sembilan tahun dan bermukim di Negeri Belanda.

Dr Sarmedi Purba dan istri dr Gertrud Poerba dan tamu undangan berfoto bersama dalam acara Simalungun DAG di Gedung De SCHUTZE, Belanda. (Istimewa)

Dokter Sarmedi Purba, Direktur PT Vita Insani Sentra Medika yang hadir dalam acara tersebut, kepada hetanews.com, menyampaikan, adanya pegelaran budaya seni tari, pakaian adat istiadat hingga makanan khas suku Batak Simalungun itu, karena anak perantau Simalungun ingin mengetahui adat istiadat leluhurnya.

"Baru-baru ini ada pesta kawin warga Simalungun di Negeri Belanda, tidak ada warga Simalungun yang tahu adat Simalungun yang sebenarnya. Makanya digelar acara adat istiadat tersebut," ujar Dr Sarmedi Purba, seraya menyampaikam, tamu undangan yang datang sebanyak 100-an orang, yakni suami atau istri orang Belanda dari orang Indonesia.

"Adat istiadat leluhurnya inilah yang ingin diketahui dan memotivasi warga Simalungun yang ada di Negeri Belanda ingin belajar bagaimana melamar, memberikan tanda jadi dan mahar perkawinan Simalungun," ujar Sarmedi ketika diwawancarai via telepon, Senin (20/5/2019).

Dikatakannya, pada acara itu juga didatangkan  ahli adat Simalungun, seperti Ned Riahman Purba dan Robinson Barus yang mendemonstrasikan "Dayok Nabinatur" (ayam yang dimasak dan disajikan secara teratur), satu sajian ayam yang disajikan dalam keteraturan anatomi ayam, tidak dicampur aduk dalam piring seperti biasanya.

Persembahan  Tor-tor Somba dalam acara Simalungun DAG, di Gedung De SCHUTZE Home de Schutse, Merodelaan. Uithoorn, Belanda. (Istimewa)

Makanan khas "Dayok Nabinatur" dengan bahan dasar ayam ini, bukan hanya sekedar masakan saja, dan ayam pada masakan tersebut memili makna tersendiri, seperti dijelaskan oleh Sarmedi Purba, dokter yang bermukim di Siantar, bahwa suku Simalungun memiliki falsafah (pandangan) hidup keteraturan.

"Ayam dipergunakan karena hewan ini adalah pelindung bagi anak-anaknya, membangunkan manusia di pagi hari dengan berkokok tepat pada waktu," ungkapnya.

Acara pegelaran budaya seni tari, pakaian adat istiadat hingga makanan khas suku Batak Simalungun yang berlangsung di Gedung Pertemuan de Schutze, Gereja Protestan Belanda ini, berjalan lancar dengam hadirnya tamu-tamu yang datang jauh dari Indonesia.

"Event ini juga mempertemukan teman-teman lama yang pernah bekerja di Indonesia. Ada Dr Abraham Go dan Ibu Go, Zr Antri van der Bom, yang pernah bekerja di Saribudolok, Kabupaten Simalungun,dimana saya (Dr Sarmedi Purba) dan istri saya dr Gertrud Poerba bekerja selama 5 tahun 1975-2000,"pungkasnya.

Penulis: hza. Editor: gun.