HETANEWS

Pembalakan Hutan di Tele Tinggalakan Bom Waktu Banjir Bandang

Tumpukan kayu glondongan yang sudah siap diangkut ketika digerebek oleh Bupati Samosir, Gagum dari Kementerian Lingkumgan Hidup, Polres Samosir, dan Camat Harian di lokasi penebangan kayu. (Foto/STM)

Samosir, hetanews.com – Banjir bandang yang melanda kecamatan Sitiotio, kabupaten Samosir belum lama ini diduga banyak kalangan diakibatkan maraknya penebangan pohon, di sekitar kawasan hutan Tele.

Untuk itu, puhak Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Dirjen Penegakkan Hukum (Gakkum) Kemen LHK diminta menurunkan timnya melakukan investigasi di daerah kawasan hutan Tele tersebut, tepatnya di kecamatan Harian, kabupaten Samosir.

Seperti penelusuran wartawan, setelah adanya penebangan hutan secara massif di desa Hariara Pittu, kecamatan Harian, pada Jumat (10/5/2019), lalu, didapatkan temuan yang sangat memprihatinkan, berupa pembukaan jalan dengan melakukan penebangan pohon hutan  diduga hendak dibawa ke sawmill di daerah Siantar, dan mengaku mengantongi izin penebangan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Cq. KPH XIII Dolok Sanggul.

Ketika hal itu dikonfirmasi hetanews.com pada Selasa (14/5/2019), kepada Staf Gakkum Kemen LHK, Sandro Sihotang, membenarkan sedang melakukan investigasi ke daerah kawasan hutan Tele.

Aktifitas penebangan pohon di lokasi hutan Tele. (Foto/STM)

"Benar kita telah turun ke desa Hariara Pittu yang dipimpin oleh Haluanto Ginting (Kasi Wilayah Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, red). Ada penebangan kayu di sana," ujar Sandro Sihotang.

Terakhir, pada Sabtu (12/5/2019), Gakkum Kemen LHK berdasarkan laporan warga dan jurnalis, mendapatkan temuan pengrusakan dan penebangan hutan di desa Partungkonaginjang yang dilakukan secara sistematis dan masif.

Hal ini dibenarkan salah satu staf Gakkum Kemen LHK ketika dikonfirmasi, di tempat kejadian perkara.

"Benar telah terjadi penebangan hutan disini yang diduga telah merubah bentangan alam yang ada. Terkait ada tidaknya pelanggaran atas Undang-undang lingkungan, nanti akan kita gelar pada rapat bersama dengan Pemkab Samosir, pada Minggu (19/5/2019)," ujar Erwin kepada awak media, pada Sabtu (18/5/2019).

Lokasi akses jalan alat berat dan truk pengangkat kayu yang sudah dibuka. (Foto/STM)

Terpisah, Bupati Samosir, Rapidin Simbolon, menyatakan kegeramannya atas pengrusakan lingkungan dan penebangan hutan secara sisitematis dan diduga tanpa izin lingkungan.

"Saya geram melihat pengrusakan lingkungan dan penebangan hutan ini. Saya menduga ini tidak mempunyai izin lingkungan. Ini harus ditindak tegas, dan saya tidak peduli siapapun pelakunya, termasuk bila itu adalah oknum aparat di pemerintahan saya akan sikat habis," ujar Rapidin.

Menurut Bupati, pepohonan yang tumbuh alami di sana adalah daerah penyangga Danau Toba, karena bila ditarik lurus, langsung ke daerah curaman Danau Toba yang di bawahnya adalah pemukiman penduduk di kecamatan Harian.

Penulis: stm. Editor: gun.