HETANEWS

Monumen Bom Bali dan Rencana Pembangunan Restoran 5 Lantai

Monumen peringatan Bom Bali, 12 Oktober 2002.

Denpasar, hetanews.com- Sabtu malam, 12 Oktober 2002 silam, bom jenis RDX seberat 50-150 kg meledak, di depan sebuah gedung lokasi hiburan malam, Sari Club.

Selain Sari Club, ledakan pada waktu yang sama juga menghancurkan Paddy's Pub, di jalan Legian, Kuta, Bali dan menyusul ledakan bom terakhir di depan kantor konsulat Amerika Serikat.

16 tahun silam telah berlalu, namun deretan nama-nama korban ledakan bom Bali 1 masih terukir dengan jelas di sebuah batu monumen peringatan tragedi kemanusiaan yang merenggut 202 nyawa manusia itu.

Bom Bali 1 menjadi catatan sejarah kelam insiden aksi terorisme terparah di Indonesia yang melibatkan 26 pelaku yang didalangi Dr. Azhari dan Noordin M Top.

Sekilas cerita pilu dari panjangnya catatan peristiwa bom Bali 1, menghantarkan cerita baru yang kini menghampiri monumen bom Bali yang berada di jalan Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (16/5/2019).

Baru-baru ini, lokasi bekas Sari Club yang menjadi tempat ledakan bom akan dibangun sebuah gedung restoran lantai 5 oleh pemilik lahan, Lila Tania.

Dikutip melalui media lokal, rencana pembangunan itu menuai pro kontra dan penolakan utamanya dari pihak konsulat Australia. Alasan yang paling mendasar ialah soal rasa kemanusiaan, begitu yang disampaikan oleh Perdana Menteri Australia Scoot Morisson yang mengecam terbitnya Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di lahan eks Sari Club oleh Pemkab Badung.

Polemik ini semakin meruncing, ketika Lila Tania dalam jumpa persnya, 29 April lalu, di J4 Hotels Legian, menuding pihak Bali Peace Park Association (BPPA) telah mengintervensi kewenangan untuk membangun gedung restoran diatas tanah miliknya.

Menurut Lila, BPPA telah mempublish tanah eks Sari Club tanpa sepengetahuan pihaknya dan ia mengganggap tidak dapat menuai keuntungan finansial dari tanah yang dibiarkan kosong setelah belasan tahun tragedi bom Bali 1.

Nama-nama korban ledakan bom Bali, di jalan Legian, Kuta, Bali.

Keputusan pemilik lahan untuk menjual situs sejarah itu kabarnya telah disepakati sebesar $ 49 atau setara 49 Milyar Rupiah antara pihak BPPA dan pemilik tanah.

Namun kesepakatan ini nyatanya belum final, ini mengingat pemilik lahan eks Sari Club turut meminta kompensasi atas kerugian peluang usaha yang ditanggung olehnya akibat penjualan situs itu.

Namun, pihak BPPA mengaku kecewa dan pesimis atas permintaan itu yang akhirnya hasil pertemuan antara keduanya masih menghasilkan sesuatu yang nihil.

Sementara itu, Gubernur Bali, I Wayan Koster mengatakan, pihaknya menghormati hak mutlak pemilik tanah. Namun ia meminta pemilik lahan untuk lebih mempertimbangkan hubungan internasional antara Indonesia dan Australia.

"BPPA telah menawarkan kompensasi sebesar $ 500.000, tetapi pemilik meminta $ 9 juta. Itu terlalu tinggi dan saya katakan mereka tidak dapat meminta itu," kata Koster dilansir dari watoday.com.

Sebagai catatan, rencana pembangunan memorial park diatas lahan eks Sari Club sudah sejak lama direncanakan, namun terganjal oleh keputusan pemilik lahan yang enggan melepaskan tanahnya dengan alasan harga dan kompensasi yang ditawarkan BPPA tidak sesuai.

Pemerintah Australia menjadi yang terdepan dalam mengecam rencana pembangunan restoran yang akan dilakukan pemilik lahan. Hal ini mengingat jumlah korban ledakan bom banyak berasal dari Australia, dan hingga hari ini wisatawan yang berkunjung ke Bali masih di dominasi dari Australia.

Kendatipun begitu, pemilik lahan eks Sari Club menegaskan pihaknya berencana akan tetap melanjutkan pembangunan dan untuk menghormati korban bom Bali 1, lantai 5 dari bangunan restoran tersebut nantinya akan dibuat museum peringatan.

“Di lantai atas sebenernya bukan monumen, tapi kami akan membuat sesuatu yang bisa untuk memperingati peristiwa bom Bali. Tidak akan ada monumen, saya rasa lebih tepatnya museum,” jelas Lila Tania dilansir melalui Tribunbali.com.

Akankah polemik lahan eks Sari Club akan berakhir?

Penulis: pranoto. Editor: gun.