HETANEWS

Eks Bendahara Kemenpora Pernah Lihat Sespri Menpora di Ruang Sekjen KONI

Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy. (foto/Dwi Narwoko)

Jakarta, hetanews.com - Mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Supriyono mengaku pernah melihat sekretaris pribadi Menpora, Imam Nahrawi, bernama Miftahul Ulum di ruang kerja Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Ending Fuad Hamidy. Namun Supriyono mengaku tidak mengetahui tujuan kedatangan Ulum ke sana.

Pernyataan Supriyono itu disampaikan saat ia menjadi saksi dalam sidang penerimaan suap oleh Deputi IV Kemenpora bidang Peningkatan Prestasi Olahraga dan Atlet, Mulyana.

Awalnya jaksa menanyakan komunikasinya dengan Ulum, sekretaris pribadi Menpora. Jaksa menanyakan hal tersebut lantaran menganggap keduanya banyak menghabiskan waktu di Kemenpora.

Supriyono mengaku secara pribadi tidak dekat dengan Ulum hanya sesekali bertemu tiap kali agenda menteri.

Hingga satu waktu, Supriyono mendatangi ruang kerja Ending di kantor KONI lantai 12. Setibanya di sana ia bertemu Ulum keluar dari ruang Ending.

"Saya pernah ketemu Ulum dan Pak Ending di kantor KONI. Waktu itu saya lupa momennya apa yang jelas saya ke situ lagi ada Pak Ending Pak Jhonny (Bendahara KONI, Jhonny E Awuy). Tapi pas saya masuk, Pak Ulumnya selesai," ujar Supriyono, Senin (13/5).

"Di ruang mana?" Tanya jaksa.

"(Ruangan) Pak Sekjen di lantai 12," jawab Supriyono.

Sementara itu, Supriyono tak menampik jika dirinya merekomendasikan Ending berkomunikasi ke Ulum guna membahas pencairan dana hibah Kemenpora untuk KONI. Saat itu, Supriyono mengatakan Ending kerap mencecarnya lantaran dana hibah tak kunjung cair.

"Yang jelas waktu Pak Ending minta tanya ke saya kenapa bantuan enggak cair-cair Pri, saya bilang coba bapak minta tolong saja ke Pak Ulum biar langsung ke Pak Menteri siapa tahu nanti langsung diproses Pak Mul (Mulyana)," kata Supriyono.

"Apakah untuk memperlancar sering hubungi Ulum?" Tanya jaksa.

"Kalau dari KONI ya biasanya selalu gitu," tukasnya.

Diketahui, dalam kasus ini Mulyana didakwa terima suap Rp 400 juta, satu unit Toyota Fortuner, dan satu unit Samsung Galaxy Note9 dari Sekjen dan Bendahara KONI guna memperlancar pencairan dana hibah Kemenpora. Pemberian suap diperuntukan dua anggaran.

Pemberian pertama adalah terkait proposal hibah pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional pada multievent Asian Games ke-18 dan Asian Para Games ke-3 pada 2018 dengan usulan dana dari KONI sebesar Rp 51,529 miliar yang diajukan Tono Suratman selaku Ketua Umum KONI Pusat.

Pemberian kedua adalah terkait proposal dukungan KONI dalam pengawasan dan pendampingan seleksi calon atlet dan pelatih atlet berprestasi tahun 2018 dengan usulan sejumlah Rp 27,506 miliar. 

sumber: merdeka.com

Editor: sella.