HETANEWS

Pemkab Samosir Diminta Serius Tangani Korban Banjir Bandang

Pasca banjir bandang di Desa Buntu Nauli, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir. (foto/gee)

Siantar, hetanews.com - Pemkab Samosir diminta serius menangani warga yang menjadi korban banjir bandang, di Buntu Nauli, yang menyebabkan 4 rumah rusak dan 1 orang tewas.

Pemkab Samosir juga didesak segera mencari tau penyebab banjir bandang tersebut.

Pasca banjir yang terjadi Jumat, 3 Mei 2019, lalu, di Desa Buntu Nauli, Kecamatan Sitio-tio, Kabupaten Samosir, warga yang menjadi korban banjir di sana masih belum sepenuhnya merasakan perhatian dari pemerintah setempat.

Tenaga medis, peralatan dan petugas dapur umum di posko yang didirikan tidak cukup meringankan duka yang dialami korban banjir.

Sementara para korban ada yang kehilangan tempat tinggal, mengalami luka parah, serta kehilangan anggota keluarga.

"Ketidakseriusan Pemkab Samosir dalam menangani bencana menunjukkan sikap pejabat pemerintah yang kurang patut dan layak," kata Ketua PMKRI Siantar, Alboin Samosir, Sabtu (11/5/2019).

Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI) bersama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kota Siantar, jelas Alboin, telah melakukan penelusuran ke lokasi untuk mencari penyebab banjir bandang.

"Posko BPBD yang didirikan dari pemerintah setempat tidak layak. Apalagi di sana tidak ada personel yang berjaga di posko lokasi bencana," sambung Ketua GMKI  Siantar, May Luther Dewanto Sinaga menambahkan.

Luther mengatakan, bahwa GMKI dan PMKRI telah membentuk tim untuk menginvestigasi penyebab banjir bandang tersebut. Dari penelusuran sementara yang mereka lakukan, adanya aktivititas perambahan hutan di sekitar bukit.

"Banjir bandang masih menyisahkan beberapa pertanyaan dan kecurigaan. Warga sendiri masih bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba ada begitu banyak air yang turun dari puncak bukit, padahal kejadian seperti itu jarang terjadi, bahkan ketika hujan deras datang melanda," ungkap Luther.

Ia menjelaskan, pasca banjir bandang terdapat materil kayu yang terbawa air ditemukan bersamaan dengan lumpur. Luther menyebut, materil kayu itu semakin memperkuat kecurigaan, bahwasanya ada aktivitas penebangan pohon yang berasal dari bukit.

Baca juga: Kuburan Ikut Diterjang Banjir Bandang, Mayat dan Tulang Belulang Berserakan

"Namun dari pengakuan warga sendiri, mereka  tidak tahu apakah disana memang benar ada aktivitas perambahan hutan. Kami juga meminta supaya penyebab banjir bandang ini sergera diungkap oleh Pemkab Samosir," tandasnya.

Alboin menambahkan, dalam tim yang dibentuk oleh GMKI-PMKRI sejauh ini masih mengumpulkan segala penyebab utama banjir. Tim yang mereka bentuk sekaligus mengajak semua pihak untuk terlibat dalam setiap proses penyelesaiannya.

"Kami mengajak seluruh pihak yang bersimpati  atas korban bencana banjir di Buntu Nauli memberikan perhatiannya. Karena warga di sana sangat membutuhkan pertolongan," kata Alboin.

Penulis: gee. Editor: gun.