HETANEWS

Suruh Jangan Ikuti Konstitusi, Rakyat Bunuh-bunuhan Saja Biar Jokowi Kalah, Permadi Dipolisikan

Anggota Mejelis Kehormatan Partai Gerindra, Permadi, membuat heboh publik media sosial. Pasalnya, dalam video tersebut, Permadi menyarankan rakyat Indonesia bunuh-bunuhan saja agar Prabowo Subianto menang.

Jakarta, hetanews.com - Sebaliknya, mantan anak buah Megawati Soekarnoputri itu meminta agar pendukung Prabowo-Sandi jangan mengikuti jalur konstitusi dalam menanggapi hasil Pilpres 2019.

Dalam video berdurasi delapan menit 12 detik itu, tampak permadi berada di sebuah ruangan yang cukup besar. Di tengah ruangan, tampak meja besar dan memanjang dengan orang-orang yang duduk mengisi seluruh kursi.

Di sisi ruangan lainnya, tampak juga sederet kursi yang penuh diisi orang-orang serta sejumlah mahasiswa yang mengenakan almamater berwarna hijau.

Di awal video tersebut, Permadi yang mengenakan pakaian serba hitam sebagaimana ciri khasnya, mengutip perkataan Bung Karno. Mantan politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, bahwa Bung Karno sudah memprediksi bahwa rakyat Indonesia akan dijajah oleh bangsanya sendiri.

Bahkan, penjajahan dimaksud jauh lebih kejam ketimbang yang dilakukan Belanda. “Dan terbukti, benar,” katanya kepada hadirin.

Ia lantas menyatakan, bahwa pihaknya dan sebagian rakyat sudah siap. Akan tetapi, ia juga mengingatkan bahwa ‘musuh’ juga sudah siap.

Alasannya, karena jendral-jendral yang mendukung Jokowi itu bakal berakhir di penjara atau mati jika sampai jJokowi kalah. “Jadi mereka dengan mengorbankan rakyat akan terus mengganggu kita,” ucapnya berapi-api.

Saat ini, katanya, Tuhan sedang menyaring manusia Indonesia. Mana yang ikut angkara murka dan mana yang ikut budi luhur. Saat kedua kelompok manusia itu bertemu, disebutnya pasti akan bertempur. “Korbannya, pasti akan sangat-sangat banyak,” ucapnya dengan nada meninggi.

Permadi melanjutkan, bahwa jalan konstitusi terkait penyelesaian Pilpres 2019, dianggapnya bukan jalan keluar, kecuali dengan revolusi. “Ada yang ingin ikut konstitusi. Sudah saya katakan, rubahlah keputusan itu,” tekan dia.

Permadi lantas menyinggung soal kemungkinan Indonesia dikuasai oleh ras Cina dengan menteri-menteri Cina. “Kalau UUD tidak dirubah lagi ke UUD asli, sebentar lagi presiden kita (etnis) Cina,”

“Dalam 10 tahun, kita akan menjadi bangsa terjajah seperti suku Aborogin di Australia dan Indian di Amerika,” pekiknya dengan berapi-api.

Karena itu, ia menekankan, tidak ada jalan lain lagi selain revolusi. “Jangan menghitung korban, korban pasti besar. Kalau tidak berani korban, mundur saja,” tegasnya.

Lebih lanjut, Permadi juga menyebut bahwa jatuhnya korban atas revousi itu adalah hal yang dikehendaki Tuhan. “Sangat=sangat parah, tetapi itu adalah kehendak Tuhan,” katanya.

Permadi kembali mengingatkan, jika mereka mengikuti jalan konstitusi, maka hanya akan menjadi korban. “Kita akan menjadi korban mereka bagi yang tidak mau mentaati konstitusi.

Berikut video lengkap video anggota Mejelis Kehormatan Partai Gerindra, Permadi memprovokasi agar masyarakat bunuh-bunuhan untuk memenangkan Prabowo Subianto:

  • Bicara Revolusi, Politikus Gerindra Permadi Diadukan ke Polisi

 Politikus Partai Gerindra Permadi dilaporkan seorang pengacara, Fajri Safi'i, ke Polda Metro Jaya. Permadi dilaporkan setelah video dirinya yang berbicara tentang revolusi beredar di media sosial.

Saat membuat laporan atas Permadi, Fajri melampirkan video yang tersebar di media sosial itu sebagai alat bukti. Namun Fajri mengatakan polisi ternyata sudah membuat laporan model A. Laporan model A adalah laporan polisi yang dibuat oleh anggota Polri yang mengalami, mengetahui, atau menemukan langsung peristiwa yang terjadi.

"Kita nggak perlu buat laporan polisi (LP), lagi menindaklanjuti LP yang sudah ada katanya oleh tim cyber dan nanti kita akan dipanggil sebagai saksi. Setelah kita sampai sini, katanya sudah ada laporan polisi. Nah, itu LP-nya LP A. Kalau LP A itu polisi yang buat laporan sendiri, temuan polisi," jelas Fajri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (9/5/2019).

Fajri menyebut dirinya hanya berkonsultasi di Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro. Laporannya atas Permadi dijadikan satu dengan laporan yang telah dibuat pihak Polda Metro Jaya.

"Polda sudah mengatakan kalau ini temuan cyber ya, tanpa laporan masyarakat pun polisi bertindak. Itu kan tindak pidana umum, ya tanpa laporan polisi boleh bertindak," kata dia.

Selanjutnya, Fajri akan dipanggil sebagai saksi oleh polisi. Saat di SPKT, dia memberikan video berupa pernyataan-pernyataan Permadi yang menyebut 'revolusi'.

"Tadi hanya saya menunjukkan beberapa video dan yang diunggah di beberapa YouTube ada. Itu tersebar di akun YouTube lain. Itu yang berpotensi menyulut kebencian orang yang membaca dan melihat video itu," ujar Fajri.

Fajri menilai pernyataan Permadi dalam video itu berpotensi menimbulkan kebencian. Selain itu, dia menyebut ucapan Permadi terkesan menakut-nakuti masyarakat.

"Kalimat pertama yang saya soroti (dalam video itu) bahwa kita ini, 'negara ini sudah dikendalikan oleh China. Orang berkulit putih itu yang mengendalikan bangsa ini dan akan menjajah bangsa ini'," kata Fajri mengutip pernyataan Permadi.

"Kemudian kalimat kedua yang sangat penting sekali, 'jangan tunduk kepada konstitusi Indonesia, kita harus revolusi, harus bubarkan negara ini'," sambungnya.

sumber: detik.com

Editor: sella.