HETANEWS

STKS dan Elemen Masyakat Sampaikan Pernyataan Terkait Banjir Bandang

Aksi damai di Simpang 4 depan Gereja Bolon HKBP Samosir, Rabu (8/5/2019), pukul 09.00 WIB. (foto/stm)

Samosir, hetanews.com - Menyikapi rentetan kejadian bencana alam di kabupaten Samosir, apalagi musibah banjir bandang akhir – akhir ini, para petani yang tergabung dalam STKS (Serikat Tani Kabupaten Samosir) bersama beberapa elemen masyarakat, melakukan aksi damai.

Mereka menyampaikan keprihatinan atas bencana banjir bandang di Sitio-tio yang telah terjadi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1994, tahun 2010 serta tanggal 3 Mei 2019, lalu.

Aksi keprihatinan itu, dimulai dengan ibadah bersama, di depan gereja HKBP Bolon Pangururan yang dipimpin Pdt Rein Justin Gultom dan Pdt Mangoloi Pakpahan, pada Rabu (8/5/2019), lalu.

"Bumi milik ciptaan Tuhan, sejatinya dapat mencukupkan dan mensejahterakan kebutuhan umat manusia tanpa terkecuali, namun kerakusan dan ketamakan manusia yang mengahncurkan hutan dan lingkungannya dan hanya memikirkan perut dan dirinya sendiri akan menghancurkan alam sekitarnya serta menimbulkan bencana  kepada saudaranya," ujar Pdt Rein Justin Gultom dalam renungan singkatnya.

Sebelum memulai aksi dan orasi, para petani yang dipimpin langsung Ketua STKS, Esbon Siringoringo, membacakan secara tegas 7 (tujuh) tuntutan para petani.

"Kami  dari Serikat Tani Kabupaten Samosir (STKS), Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat ( KSPPM), Komunitas Samosir Green dan Ikatan Wartawan Online (IWO) menyatakan  tuntutan kami, yaitu pertama, meminta dan mendesak Pemerintah Kabupaten Samosir dan DPRD  Samosir untuk melakukan pengawasan dan menindak tegas perusahaan perusak lingkungan yang beraktivitas dibentang alam Tele.

Kedua, meminta dan mendesak Pemerintah Kabupaten Samosir dan DPRD untuk meninjau ulang izin-izin perusahaan perusak lingkungan yang ada di Kabupaten Samosir.

Tiga, meminta dan mendesak Pemerintah Kabupaten Samosir dan DPRD untuk tidak mengeluarkan izin kepada perusahaan perusak lingkungan.

Keempat, meminta dan mendesak Pemerintah Kabupaten Samosir untuk segera melakukan upaya-upaya pemulihan lingkungan dan pelesatarian hutan di Kabupaten Samosir,"papar Esbon Siringoringo.

Pada tuntutannya yang kelima, STKS juga meminta Pemerintah Kabupaten Samosir untuk memberikan jaminan terkait perlindungan dan pemberdayaan petani melalui Perda.

Dan keenam, meminta kepada instansi terkait untuk tidak melindungi atau tidak berpihak kepada perusahaan-perusahaan perusak lingkungan, baik yang ilegal maupun legal.

Serta yang terakhir, meminta Pemerintah Kabupaten Samosir untuk menolak segala bantuan yang diberikan oleh perusahaan perusak lingkungan di KabupatenSamosir.

Peserta aksi juga ikut melakukan aksi solidaritas pengumpulan dana kepada masyarakat yang lewat, melalui beberapa kotak yang disediakan dan berhasil mengumpulkan sumbangan sebesar Rp. 1.200.000,- dan menurut rencana akan diberikan langsung kepada korban bencana banjir bandang, pada Selasa (14/5/2019) mendatang.

Penulis: stm. Editor: gun.