HETANEWS

Santri Asal Luar Negeri Akui Keunggulan Pesantren di Indonesia

Santri Asal Luar Negeri Akui Keunggulan Pesantren di Indonesia

Bandung, hetanews.com - Bisa dikatakan, pesantren di Indonesia memiliki daya tarik tersendiri bagi para santri asing yang berasal dari berbagai negara.

Berdasarkan hasil survei Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2018, ketertarikan tersebut terjadi karena terdapat kesamaan paham keagamaan sunni, figur pimpinan, akhlak Islami, dan praktek dakwah, yang membuat santri asing termotivasi untuk belajar di pondok pensantren Indonesia.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dilakukan di 14 pesantren dan 1587 orang santri asing yang tersebar hampir diseluruh Indonesia, seperti Darul Habib di Sukabumi, Daruttauhid Bandung, Albahjah Cirebon, Wahid Hasyim Semarang, Sirajul Mukhlasin Magelang, Al-Irsyad Boyolali, Al Fatah Temboro, Wali Barokah Kediri, Darul Lughah Bangil, Amanatul Umah Mojokerto, Madinatul Fata Aceh, Ar-Raudlatul Hasanah Medan, Al-Ihsan Banjarmasin, dan PMI Dea Malela Sumbawa.

Negara asal dari setiap santri asing pun berbeda-beda, ada yang berasal dari Malaysia, Singapura, Jepang, China, Rusia, Jerman, Inggris, Belgia, dan negara lainnya.

Yang menariknya, berdasarkan data yang diterima Tribunnews.com, karakter pesantren sebagai pusat pengembangan Islam wasatiyah, nampaknya menjadi daya tarik tersendiri bagi santri asing.

Bukan hanya itu, pesantren yang sudah memiliki budaya kosmopolitan dalam menerima santri asing juga menjadi daya tarik tersendiri.

Yang lebih membanggakan, ternyata pesantren di Indonesia mendapat sambutan positif dari santri asing.

Pasalnya mereka (santri asing) memiliki pandangan, bahwa pesantren di Indonesia memiliki keunggulan pada kajian kitab kuning, Islam wasatiyah, kekhasan nilai dan tradisi pesantren, pembiasaan akhlak Islami, kemandirian, dan kesamaan paham keagamaan.

Selain memberikan sambutan positif, santri asing juga mengungkapkan alasan mereka memilih pesantren sebagai tempat belajar.

Santri asing merasa terdapat kesamaan paham keagamaan sunni, figur pimpinan dan akhlak Islami, kesamaan paham aswaja, kesamaan paham dalam praktek dakwah dan dorongan semangat tabligh.

Bahkan, jaringan Muhammadiyah, NU, Jamaah Tabligh, dan Salafi juga menjadi alasan tersendiri bagi santri asing untuk mencari ilmu di Indonesia.

Secara umum, santri asing yang belajar di Indonesia, berharap kelak kedepannya dapat lebih mengembangkan Islam wasatiyah. Bahkan yang menjadi cita-cita besar dari para santri asing berdasarkan penelitian tersebut adalah untuk mendirikan lembaga pendidikan keagamaan dan menjadi tokoh agama di negara asalnya. 

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.