HETANEWS

Kronologi Jasad Cucu Pahlawan Nasional Ki Hadjar Dewantara Ditemukan Membusuk di Dalam Rumah

Cucu Ki Hajar Dewantara

Yogyakarta, hetanews.com - Seorang cucu Bapak Pendidikan Indonesia, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara, yakni Ir Lalita Sari ditemukan membusuk di dalam rumah.

Diketahui, Dosen UGM berusia 67 tahun meninggal dunia di dalam rumahnya di Yogyakarta, dan sosok pertama kali temukan jasad cucu perempuan Ki Hadjar Dewantara di rumah, yakni sang pembantu.

Sebelum, seorang pembantu rumah tangga atau PRT temukan jasad Ir Lalita membusuk di dalam rumah, diketahui kondisi rumah dalam keadaan terkunci dan ini penyebab Ir Lalita tewas membusuk di rumahnya.

WartaKotaLive melansir Kompas.com, cucu Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, Ir Lalita Sari (67), ditemukan meninggal dunia di rumahnya.

Tepatnya di Jalan Kakap Raya No 30 Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dari hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan di tubuh pensiunan dosen universitas gadjah mada (UGM) ini. "Ditemukan meninggal dunia pada pukul 10.00 WIB tadi," ujar Kanit Reskrim Polsek Ngaglik, Iptu Budi Karyanto, Sabtu (4/5/2019).

Budi menuturkan, awalnya pembantu almarhum Turmirah datang ke rumah korban  (Ir Lalita Sari). Saat sampai di rumah, Tumirah curiga dengan bau menyengat. Saat mencoba mencari asal bau tersebut, ternyata dari dalam rumah.

Tumirah lantas mencoba untuk mengecek kedalam rumah, namun pintu depan dalam keadaan terkunci."Pembantunya itu seminggu dua  kali ke sini, dan tadi itu terkunci, diketok-ketok tidak ada respon dari dalam," tuturnya.

Mengetahui tidak ada respon dari dalam rumah, Tumirah lalu bertanya kepada warga sekitar. Setelah itu, memutuskan untuk menghubungi kepolisian.  Polisi yang mendapat laporan lalu menuju lokasi.

Setelah itu, polisi meminta tolong warga masuk ke area rumah dengan memanjat atap tetangga almarhum. Setelah masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang, bau menyengat tersebut berasal dari ruang tengah.

Saat dicek ternyata korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia. "Kita masuk bersama tim identifikasi dan dari puskesmas, kondisinya sudah membusuk," ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan medis, lanjutnya. Tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, dari olah TKP juga tidak ada barang berharga milik korban yang hilang.

Diduga, korban meninggal tiga hari lalu. Berdasarkan keterangan keluarga, memang memiliki riwayat jantung. "Tidak ditemukan adanya tanda-tanda tindak pidana. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan juga," urainya.

Menurutnya, selama ini korban tinggal sendirian dirumahnya. Sedangkan pembantunya datang hanya dua kali dalam seminggu. Tumirah mengaku, kaget setelah mengetahui majikannya meninggal dunia.

Ia terakhir bertemu dengan korban tiga hari lalu. "Ibu itu orangnya baik hati. Ibu tinggal sendirian, anak-anaknya diluar kota," ungkapnya.

Sementara itu, adik sepupu Ir Lalita Sari, Nanang Rekto Wulanjaya membenarkan, jika kakaknya merupakan cucu dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

"Iya benar, Ibu Lalita cucu dari Ki Hadjar Dewantara. Dari putrinya (Ki Hadjar Dewantara) yang bernama Nyi Ratih Tarbiyah," ucapnya.

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa, lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Tanggal kelahirannya, 2 Mei, diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hadiknas).

Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.