HETANEWS

Sempat Viral Temui Hotman Paris, Korban Penipuan Koperasi Swadharma PT BNI Datangi Polres Siantar

Hotma Rumansi Lumbantoruan (43) saat bertemu dengan Hotman Paris Hutapea, di Kopi Jonny. (Foto/ Akun Instagram @hotmanparisoffisial)

Siantar, hetanews.com-Hotma Rumansi Lumbantoruan (43), warga Kota Siantar, salah satu wanita dari sekian korban penipun dan penggelapan Koperasi Swadharma PT BNI cabang Kota Siantar, mendatangi Polres Siantar, guna mempertanyakan sejauh mana sudah kasusnya yang dialaminya bergulir.

Meski telah curhat kepada Hotman Paris Hutapea, pengacara kondang berdarah Batak, saat ini kasus yang merugikan Hotma Rumansi dan keluarganya, belum juga selesai

Jumat (3/5/2019) siang, Hotma Rumansi bersama empat temannya wanita yang juga menjadi korban, yakni, SS (65), AS (64), RT (51) dan ST (65) datang ke Polres Siantar untuk meminta kejelasan kasus yang mereka alami sejak pada Tahun 2016 silam.

"Kami ada lima orang ini datang, ibu SS rugi Rp 560 juta, AS Rp 400 juta, Rt Rp 400 juta, dan ST Rp 100 juta. Kalau saya, 1 miliar lebih," ujar Hotma Rumansi saat ditemui di Mapolres Siantar.

"Kami ingin tahu sudah bagaimana perkembangan kasus penggelapan uang kami. Kami dapat kabar, hari ini Pachrul, mantan pimpinan cabang BNI Siantar diperiksa sebai saksi,"ujarnya kembali.

Dijelaskan Hotma Rumansi, kalau Pachrul sudah resign (berhenti bekerja) dari BNI dan baru kembali dari Aceh dan kini telah dimintai keterangan oleh petugas, di Polres Siantar.

Diketahui, kasus penipuan tersebut sudah berlangsung tiga kali  dilaporkan oleh para korban kepada pihak Kepolisian. Bahkan, kasusnya tersebut sempat ditangani, di Polda Sumut.

"Laporan pertama ada 8 orang korban. Nama saya, Hotma Rumansi kan seharusnya ada. Saya juga kan saksi korban, tapi dihilangkan. Seharusnya kan ada," ungkap Hotma Rumansi saat diwawancarai seraya mengatakan, untuk laporan kedua, ada 19 orang korban.

Sementara untuk laporan ketiga kalinya dan ada 1 orang korban yakni, Hotma Rumansi Lumbantoruan.

"Kasusnya dari bulan Juni 2016 sampat saat ini belum selesai. Laporan pertama sudah ada terdakwa, tapi cuman satu orang. Yang dilaporkan lebih dari satu orang. Untuk laporan kedua masih tahap pemeriksaan, uda dua tahun ini. Kalau laporan yang ketiga, masih P-19 dan si Pachrul lah saat lagi diperiksa,"ucapnya.

Hotma Rumansi Lumbantoruan (43) (mengenakan kaus lengan hitam) bersama korban penipun lainnya saat berada di Polres Siantar, Jumat (3/5/2019). (foto/hza)

Lima orang wanita korban penipuan dan penggelapan Koprasi Swadharma PT BNI berharap, Polres Siantar bekerja dengan profesional dan transparan.

"Maunya transparan la kerja Polres Siantar. Kasihan la sama kami, uda kenak tipu. Untuk pelaku harus dihukum sesuai hukum yang berlaku di Indonesia, kami mau uang kami dikembalikan,"ucap mereka.

Terpisah, Pachrul yang sempat menjabat pimpinan cabang BNI Siantar saat dikonfirmasi terkait kasus apa dirinya diperiksa pihak Satreskrim Polres Siantar, belum menjawab konfirmasi wartawan meski telah dihubungi.

Sekadar diketahui, Hotma Rumansi Lumbantoruan (43), salah seorang wanita korban penipun dan penggelapan Koperasi Bank BNI cabang Siantar, terbang ke-Jakarta menemui pengacara kondang berdarah Batak, Hotman Paris Hutapea, Selasa (12/3/2019) lalu.

Ia datang ke Jakarta menemui  Hotman Paris, di warung kopi Jonny, meminta tolong agar kasus penipuan dan penggelapan uang yang dialaminya di Koperasi Swadharma PT BNI Jalan Merdeka Siantar segera diproses.

Usai mendengar curhatan Hotma Rumansi, Hotman Paris langsung merespon dan berbicara diakun instagram miliknya.

"Salam kopi Joni. Halo bapak-bapak teman saya direksi Bank BNI. Disini ada nasabah Bank BNI cabang Pematangsiantar, Jalan Merdeka, semula keluarganya punya uang deposito di Bank BNI cabang Pematangsiantar. Kemudian atas bujuk rayu pejabat Bank BNI cabang Pematangsiantar, uang ini dialihkan seolah-olah tabungan di koperasi dan akhirnya uang itu raup. Mohon kepada direksi Bank BNI, saya tidak menuduh, bagaimana mengatasi ini. Yang melakukan stafnya bapak. Mohon segera diperiksa Bank BNI Pematangsiantar dan ibuk (Hotma Rumansi Lumban Toruan) ini dipanggil," ujar Hotman Paris yang dikutip dari akun Instagram @hotmanparisoffisial yang diposting pada 17 jam yang lalu.

Selain menceritakan uanya yang awalnya deposito lalu menjadi tabungan di koperasi setelah mendapat bujuk rayu, Hotma Rumansi juga mengatakan sudah membuat laporan kepada pihak kepolisian pada tahun 2018. "Dan ada juga korban lain dan juga telah dilaporkan pada tiga tahun yang lalu (Tepatnya tahun 2015)," ujar Hotma Rumansi di kopi Joni.

Menanggapi Hotma Rumansi yang telah membuat laporan kepada pihak kepolisian, Hotman Paris kembali berujar agar kasus ini segera diproses.

Penulis: hza. Editor: gun.