HETANEWS

Terungkap Awal Memuncaknya Kekecewaan Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumut, Hingga Berniat Mundur

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi didampingi oleh Wakil Gubernur Musa Rajekshah, saat ditemui seusai melaksanakan salat, di Masjid Agung, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Senin (22/4/2019).

Medan, hetanews.com-Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, belakangan ini kerap melontarkan kekecewaannya pada warga Sumut.

Di antaranya saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2020 dan Peresmian Kantor PWI Sumut.

Di acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Tahun 2020, amarah Edy memuncak gara-gara sejumlah Bupati dan Wali Kota tidak hadir langsung, melainkan diwakilkan.

Bahkan karena tidak hadirnya para kepala daerah tersebut, Edy Rahmayadi sempat ingin meminta Musrenbang ini diulangi kembali.

"Kalau diwakili semua, dibubarkan saja Musrenbang ini, seperti ecek-ecek. Forkopimda diwakili, saya pun kalau diwakili, ajudan saja yang mewakili."

"Yang tidak diwakili masuk surga," ujar Edy Rahmayadi, di atas panggung aula, Hotel Santika Dyandra, Jalan Kapten Maulana Lubis, Kota Medan, Jumat (12/4/2019) lalu.

Dari sejumlah lembaga daerah atau peserta Musrenbang, hanya sebagian yang menghadiri kegiatan tahunan tersebut. Sedangkan lainnya hanya diwakili.

Karena itu, Edy pun kecewa dan minta agar Musrenbang tersebut dibubarkan saja. Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, masing-masing menterinya tidak hadir.

Diwakilkan oleh inspektur jenderal dan deputi. Bupati dan wali kota cuma sedikit yang hadir. Forum Komunikasi Pimpinan Daerah juga demikian. Bahkan anggota DPRD Sumut hanya hitungan jari. Rektor selaku akademisi, tak seberapa.

Secara terang-terangan pernyataan tersebut disampaikannya di hadapan Inspektur Jenderal Kemendagri Tumpak Haposan Simanjuntak dan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Masyarakat, Subandi, serta pejabat lainnya.

"Saya mohon maaf nanti dibilang sombong. Yang sombong itu siapa, yang tidak hadir kan," tegasnya.

Kata Edy Musrenbang sangat penting diselenggarakan. Karena dia membutuhkan protes atau kritik dari para akademisi yang mengkritik berdasarkan referensi. Begitu pula kritik dari ulama.

Dia menegaskan, tujuannya menjadi pemimpin di Sumut adalah untuk membangun. "Tidak ada gunanya capek setiap hari kalau bukan untuk membangun Sumut," ujarnya.

Sejumlah keinginan disampaikan Edy tentang bagaimana seharusnya kemajuan Sumut dimasa depan. Misalnya, dalam hal pendidikan. Karena membutuhkan sumber daya manusia yang berkwalitas.

Maka dibutuhkan guru-guru yang berkualitas. Itu sebabnya dia melipatgandakan gaji guru honor dari Rp 40.000 per jam menjadi Rp 90.000.

Di masa mendatang direncanakan gaji itu akan dinaikkan lagi. Di bidang kesehatan, Edy menginginkan provinsi ini bebas dari stunting. Namun entah kenapa jumlah dokter masih kurang.

Padahal dari USU banyak dokter yang dihasilkan. Oleh karenanya dia mengungkapkan kekesalannya atas ketidakhadiran Rektor USU Runtung Sitepu di Musrenbang tersebut. "Terserah kalianlah, ampun aku. Ulangi lagilah Musrenbang ini biar hadir semua," ucap Edy.

Selanjutnya Edy Rahmayadi didampingi Wagub Sumut, Musa Rajekshah membuka acara Musrenbang. Terlihat hadir juga anggota DPD RI Badikenita Sitepu dan Parlindungan Purba, anggota DPR RI, Hinca Panjaitan.

  • Lontaran Kekecewaan Berlanjut

Saat memberikan sambutan pada kegiatan Peresmian Kantor PWI Sumut yang dirangkai dengan kegiatan Jalan Sehat, pada Minggu (28/4/2019) seperti yang dilansir dari Gatra, lontaran kekecewaan Edy kembali muncul.

Bahkan, karena kecewanya, Edy Rahmayadi sempat mengatakan niatnya akan mundur empat bulan ke depan jika masyarakat Sumatera Utara tidak mau dipimpin olehnya.

  • Ditanggapi DPRD dan Ketua HMI Sumut

Anggota DPRD Sumut angkat bicara terkait dengan pernyataan Gubernur Edy Rahmayadi yang berniat untuk mundur dari jabatannya jika masyarakat Sumut tidak ingin dipimpin lagi olehnya.

Ketua Komisi A DPRD Sumut Muhri Fauzi Hafiz mengatakan, pernyataan Edy Rahmyadi tersebut yang dianggap masih belum menunjukkan sebagai pemimpin sejati.

“Sebaiknya Gubernur Edy Rahmayadi bisa memilih kata yang bermartabat untuk membangkitkan semangat rakyat yang saat ini sedang dipimpinnya,” kata Muhri Fauzi Hafiz, Minggu (28/4/2019).

Muhri menilai pernyataan itu tidak tepat, mengingat hal ini dinilai justru akan membuat masyarakat seolah 'melawan' terhadap Edy yang kini berstatus sebagai pemimpin.

“Ukuran rakyat tidak mau dipimpin bagaimana? Jangan dikesankan seakan-akan hari ini rakyat yang ‘melawan'. Seharusnya kepemimpinan yang sudah diberikan rakyat melalui Pilkada lalu dibuktikan dengan karya yang benar-benar bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat Sumatera Utara sesuai kewenangan yang diatur oleh UU,” kata Muhri.

Muhri menyebutkan sebagai seorang pemimpin, Edy Rahmayadi harusnya menunjukkan bahwa dirinya merupakan pemimpin yang benar-benar mampu menyentuh hati rakyat Sumatera Utara. Sehingga kebijakan-kebijakannya benar-benar mendapat dukungan penuh. Ujaran-ujaran yang seperti ini justru menurutnya akan kontradiktif dengan hal tersebut.

“Kalau terus menerus mengeluarkan ujaran yang tidak bernilai bisa menjadi provokasi,” sebutnya.

Muhri berharap ke depannya Edy Rahmayadi lebih bijak dalam menyampaikan pandangan terkait kondisi yang ada di Sumatera Utara. 

Apalagi ia merupakan sosok pemimpin yang dipilih langsung oleh rakyat Sumatera Utara dengan harapan dapat mewujudkan Sumatera Utara yang bermartabat sesuai dengan visi-misinya saat maju sebagai calon gubernur pada Pilgubsu 2018 lalu.

  • Ketua HMI Sumut: Gubernur Terkesan Terlalu Bawa Perasaan

Sementara, Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara Periode 2018-2020 Muhammad Alwi Hasbi Silalahi mengatakan, sebaiknya Edy Rahmayadi tidak bicara seperti itu di depan khalayak ramai.

Ia menilai Gubernur Sumatera Utara tersebut terlalu bawa perasaan.

"Saya pikir tak pantas seorang pemimpin bicara seperti itu, apa yang disampaikan pak gubernur pada hari Minggu lalu terkesan terlalu bawa perasaan," ungkap Hasbi dalam siaran pers, Senin (29/04/2019).

Hasbi mengatakan, seorang pemimpin itu harus selalu menularkan energi positif melalui narasi optimisme dan harus selalu melontarkan pernyataan-pernyataan yang membangkitkan semangat orang yang dipimpinnya.

Bukan sebaliknya, mengeluarkan narasi-narasi pesimistis. Lanjut Hasbi, jika masih banyak pro dan kontra atas kepemimpinan pak Gubernur Sumut itu adalah konsekuensi yang harus diterima oleh seorang Gubernur.

Jika siap menjadi Gubernur harus siap juga untuk menerima segala macam pandangan dan pola pikir masyarakat yang dipimpinnya.

"Pak Edy ya harus terima segala konsekuensi menjadi Gubsu itu, jika pak Edy beranggapan masih banyak rakyat Sumut yang tidak mau dipimpin olehnya.

Ya itulah tugas pemimpin untuk bisa merubahnya agar masyarakat Sumut jadi lebih baik. Jangan sedikit-sedikit baper," katanya.

Hasbi berharap, Edy Rahmayadi terus fokus pada kinerja pemerintahan dan tidak lagi melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial yang tidak bermakna dan tidak memberikan semangat masyarakatnya.

"Pak Gubernur Sumut fokus pada kinerja pemerintahan saja," ujarnya.

sumber: tribunnews.com

Editor: sella.
Komentar 2
  • Ricardo Cs
    Baguslah kalau Edy Rahmayadi mau mundur dari GUBSU.kita nggak butuh Gubernur yg cengeng,pemarah,arogan,sok kuasa,suka membuat Honorer tanpa ada solusi Kita butuh sosok Gubernur yg sopan santun pada warganya,sabar,lembut,tdk arogan(tdk berjiwa MAFIA),tegas pada Mafia2 yg ada di SUMUT dan berTuhan.
  • Ricardo Cs
    Baguslah kalau Edy Rahmayadi mau mundur dari GUBSU.kita nggak butuh Gubernur yg cengeng,pemarah,arogan,sok kuasa,suka membuat Honorer tanpa ada solusi Kita butuh sosok Gubernur yg sopan santun pada warganya,sabar,lembut,tdk arogan(tdk berjiwa MAFIA),tegas pada Mafia2 yg ada di SUMUT dan berTuhan.